Akhir dari Pertikaian

“ini bukan tentang kesetaraan, ini tentang perasaan.” katamu membuang muka, lalu terdengar sayup-sayup kau mulai menyesali segala hal. Mendulang tangis yang sedari tadi kau tahan di pangkal matamu. setiap satu ucap kataku adalah kesalahan bagimu. Jadi, diam adalah jalan keluar, menurutku.

Kita kerap berebut siapa yang harus salah dalam sebuah perdebatan, tentang aku yang kolot, tentang kau yang tiba-tiba menjelma menjadi terompet akhir tahun, lantas kita sama-sama kikuk siapa yang harus minta maaf. Bagi kita, perdebatan adalah warung yang harus kita singgahi pada tiap perjalanan. Entah untuk secangkir kopi atau semangkuk indomie.

Perdebatan lebih sering membawa kita ke dalam arena tinju daripada ranjang empuk tempat kita biasa menertawakan kebodohan orang lain. Perdebatan bukan sekadar perkara ribut, ia merenggut dari logika dan akal sehat. Perdebatan membuat kita lupa bahwa kita pernah sedekat doraemon dan nobita.

“kita seharusnya berdiskusi, bukan terus berdebat seperti ini” aku memulai dengan pledoi. “apa lagi yang harus didiskusikan? Kau pikir ini ilusi?” bagai knalpot bobok, mukaku seperti disembur angin.

Banyak hal yang sulit kita sepakati dalam hidup. kita belajar bagaimana perdebatan mengajak kita untuk menjadi manusia yang utuh pikir. Aku dengan kesalahanku, kau dengan kemurkaanmu. Ada hal yang tak bisa digeser akibat persengketaan, kikuk. Kita kembali bertemu dengan kikuk dan serba salah.

Perasaan, seperti juga pertikaian. Kita tidak bisa mengendalikan perasaan. Ia bekerja sangat dinamis tanpa perlu satu sampai tiga komando. Adakalanya, perasaan mengoyakmu seperti tumpukan tepung atau bisa saja ia mengelusmu seperti seekor kucing. Perasaan ialah senyum yang kau ukir saat melihat senja, atau tangis yang robek kala hujan.

Akhir yang pahit dari pertikaian adalah sebuah perpisahan. Kita pelan-pelan saling melupakan, diam-diam ada lubang yang menganga. Lubang itu membesar seiring dengan ingatan kita tentang hal-hal yang telah usai, tentang rambutmu yang lepek, jidatmu yang lebar, wangi kopi, dan suara-suara malas saat telfon. Lantas, mengabsen satu per satu ingatan yang telah lalu sama saja membuka kolam penampungan dari lubang yang semakin menganga. Apa yang lebih menyakitkan daripada mengingat kisah masa silam?

Advertisements

2 thoughts on “Akhir dari Pertikaian

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s