Suatu Masa Sebelum Indonesia

Tjokroaminoto, diperankan oleh Reza Rahardian foto oleh Tempo.co
Tjokroaminoto, diperankan oleh Reza Rahardian
foto oleh Tempo.co

“sebuah bangsa hanya bisa dibentuk dengan kemanusiaan”
Tokoh Koesno (Soekarno) menyebutkan dalam satu kongresnya.

Ekspor karet di Hindia Belanda saat itu sedang menurun, kumpeni melakukan penindasan terhadap rakyat pribumi untuk bekerja lebih giat. Sedari sekolah, Tjokroaminoto sudah menentang penjajahan. Kemuakannya akan penjajahan dibuktikannya dengan meneruskan semangat Sarekat Dagang Islam yang dibentuk oleh Samanhudi. Lantas, dengan kepercayaan rakyat dan dorongan langsung dari Samanhudi, ia membentuk Sarekat Islam. Dengan fokus organisasinya sebagai perdagangan ala islam.

Potret Tjokroaminoto adalah wakil dari rakyat yang jengah akan penindasan Belanda. Dalam satu lakon, ia berjuang membuat keadilan dengan kartu trufnya Tjokroaminoto bekerja sama dengan Belanda dalam membangun Sarekat Islam. Oleh karenanya, rakyat patuh pada Tjokroaminoto dan label “Ksatria Piningit” menjadi sebutannya.

Tokoh Stela berlari di antara kerumunan menemui Tjokroaminoto, dengan tergesa ia menanyakan nama yang mesti diusung untuk negeri ini ke depan. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaannya pada Tjokro, Kehadiran Chelsea Islan menjadi warga indo berhasil mengantar penonton ke dalam beberapa konflik.

Konflik pemikiran dalam alur film, kerap dibuka oleh adegan Chelsea Islan (Stela) dan Reza Rahardian yang memerankan Tjokroaminoto. Tidak mudah memang memerankan Tjokroaminot yang digambarkan sebagai seorang yang demokratis, berwibawa, dan bahasanya yang santun. Artis serba bisa ini masih terbawa logat ke-Habibie-an, tapi ia cukup bagus memerankan Tjokro dalam segala kondisi.

Tjokro berharap agar Sarekat Islam bisa terjun ke dunia politik melalui landasan dasarnya perdagangan. Pelan-pelan, Sarekat Islam membuka afdeling-afdeling di tiap daerah di Jawa, massa yang terkumpul cukup banyak dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun. Sama rasa, sama rata yang dijunjung tinggi menguatkan tokoh Tjokroaminoto yang tidak suka dengan feodalisme, kesamaan rasa dan nasib juga yang membuat Sarekat Islam cepat mengumpulkan massanya. Konsep koperasi yang ditekankan pada tiap afdeling Sarekat Islam adalah siasat untuk rakyat agar mampu hidup sendiri tanpa bekerja pada tanah sendiri dengna penistaan dan penindasan tiada henti.

Saya rasa Garin Nugroho mengerti bahwa film mengenai sejarah tak cukup banyak dinikmati penonton ketika film yang muncul di bioskop seringkali mempertontonkan kemistikan, kebahagiaan, atau potret perjuangan manusia super. Oleh karenanya, Garin menyelipkan beberapa adegan drama musikal agar penonton tak bosan dengan pergoletan aksara antar pemainnya.

Sayangnya beberapa drama musikal yang muncul ini terlihat agak gengges, terutama di bagian awal film ketika Putri Ayudya pemeran Suharsikin, Istri Tjokro, bersama ibundanya, Maia Estianty, menyanyikan lagu berbahasa inggris dengan piano dan bernyanyi bersama membuat ekspektasi saya yang awalnya serius pada dialog menjadi buyar. Kepandaian Garin saya bisa rasakan ketika membuat adegan konflik keluarga antara Suharsikin bersama ibu dan bapaknya yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. Dialog yang muncul serta respon pria jawa dalam kekhawatiran kondisi anaknya sangat kental, beberapa kali pernyataan Suharsikin untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Tjokro kerap dibantah bapaknya. ini menunjukkan kepedulian bapak jawa yang penuh hati-hati dan perhitungan dalam menuntun anaknya.

Lebih dari itu, Sang Sutradara berhasil meluweskan alur cerita Tjokroaminoto. Dari orang yang jengah terhadap penindasan sampai menjadi pemimpin yang menyuarakan konsep kemanusiaan. Tjokroaminoto adalah seorang muslim yang taat, wibawanya menjura ke seluruh lapisan rakyat. Ia adalah bapak dari bapak bangsa. Tanpa semangat hijrahnya, Indonesia tidak akan menemukan tokoh semacam Soekarno, Agus Salim, Semaoen, dan Muso.

Sekitar lebih dari 120 menit film ini berputar, penonton yang kurang memiliki minat pada sejarah bangsa ini mungkin akan sedikit bosan melihat adegan yang terkumpul atas klimaks-klimaks kehidupan Tjokro, tetapi mereka yang peduli bahwa Tjokro adalah Sang Guru Bangsa, mereka akan menikmati film ini sampai Indonesia menggantikan Hindia Belanda.

One thought on “Suatu Masa Sebelum Indonesia

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s