Kartini Yang Malang

Seorang perempuan bercerita pada saya, ia dipukul pacarnya dan mengumpat kata-kata kurang pantas.  Perempuan, yang “tergambar” dalam kehidupan ini dianggap lemah, seringkali menjadi sasaran empuk nafsu lelaki. Kesalahan kecil bisa berujung pada pelecahan verbal bahkan baku pukul. Ia mengaku tak sekali diperlakukan seperti itu, membalas sama saja bunuh diri, pasrah adalah jalan, baginya.

Kisah teman saya menjadi bukti bahwa 21 April yang telah lewat selama puluhan tahun ini hanya sebagai tanggal tanpa makna seperti tanggal pada bulan-bulan lainnya. 21 April yang sudah-sudah hanyalah hari kebaya nasional, hari di mana guru mengingatkan bahwa ada buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, lantas berakhir menjadi soal pada ujian akhir, sedangkan makna yang tercantum didalamnya hilang dalam kealpaan.

Tulisan ini tidak bermaksud menjadikan saya sebagai pejuang feminism. Saya kurang mengerti bagaimana feminisme bekerja, saya hanya mengerti bahwa keadilan adalah hak setiap orang. Itu pun tidak banyak. Tetapi kisah teman saya cukup mencerminkan bahwa perempuan kerap kali direndahkan. Isu mengenai perempuan yang dipandang sebelah mata bukanlah hal baru. Ini adalah berita lama yang terjadi berulang-ulang sebelum dan setelah perjuangan Kartini.

Dalam sebuah tulisan berjudul “Menggugat Stereotipe perempuan Jawa”, Masun Lamongan menulis bahwa dalam Serat Cemporet, Ranggawarsita menulis perempuan hanyalah wadah dari permata laki-laki, perempuan ibaratnya ke surga hanya menumpang. Perempuan sebagai  sebagai lelangen (penghias kehidupan lelaki). Cemporet menjadi sebuah pembenaran bagi praktik poligami terutama di kalangan bangsawan, sekaligus semacam pengukuhan rendahnya posisi perempuan.*

Tulisan tersebut adalah bentuk “dukungan” poligami sejak masa Raja Pakubuwono IV ketika feodalisme sedang berjaya dan poligami adalah hal lumrah. Keluarnya serat tersebut menjadi acuan perilaku mulai dari kaum kerajaan hingga rakyat jelata untuk berpoligami.

Bagi saya, yang benar-benar pas melakukan poligami adalah nabi. Selebihnya (manusia), saya skeptis. Mungkin pada zaman sekarang manusia melakukan poligami lebih ke arah nafsu dan hasrat memiliki yang tinggi tanpa sadar bahwa ada keadilan yang harus dibagi. Saya tidak akan membahas tentang poligami, poligami atau tidak adalah pilihan bagi yang melakukan.

Adalah Kartini, perempuan berparas cantik yang menderita akibat kungkungan adat, tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Kartini adalah potret perjuangan perempuan gigih di tengah budaya patriarkal yang sangat kental di budaya priyayi jawa, ia merasa kehidupannya sebagai perempuan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, perempuan harus tunduk di bawah perintah lelaki sekalipun hal itu menjemukkan. Saat itu, peran perempuan tak lebih dari penjaga seksualitas dan moral suami.

Dalam buku Pram, “Panggil Aku Kartini Saja”, Perjuangan Kartini dimulai ketika ia mulai ditanyakan oleh temannya, “mau jadi apa engkau kelak, Ni?” ia berpikir mengenai pentingnya bermimpi untuk menjadi seseorang yang saat itu perempuan jawa lebih memilih bungkam dan manut daripada berpikir tentang harkat martabat pendidikan bagi perempuan. Ia belajar sendiri, membaca ratusan buku, menulis tentang pandangan filsafat, politik, dan budaya. Lantas, ia berkirim surat dengan sahabatnya di Belanda, Rosa Abendanon. Dan peradaban baru dimulai.

Pada dasarnya hari peringatan adalah momentum untuk mengingat, selebihnya “keberhasilan” hari peringatan tersebut dilhat dari penerapannya di kehidupan. Seperti hari ibu, terbilang 22 Desember, ada momen yang dirasa pas untuk mengungkap kasih sayang, mengenang kebaikan, atau mengucap maaf serta terima kasih pada ibu secara bersama. Tapi, perayaan yang sesungguhnya terletak pada hari setelah kita mencoba mengingatnya bahwa hari ibu tak hanya 22 Desember.

Begitu pun Hari Kartini, hari ini adalah momen mengingat bagaimana sebuah perjuangan seorang perempuan akan harkat dan martabat di mata lelaki, perjuangan mendapat pendidikan, perjuangan mendapat keadilan, perjuangan untuk bebas dari segala bentuk penindasan.

Saya tak utuh menyetujui prinsip-prinsip pada feminisme, tapi tidak membuat saya menolak mentah-mentah paham tersebut. Bahwa ada hal yang harus dimiliki semua orang, seperti halnya keadilan. Lelaki maupun perempuan berhak mendapat keadilan yang sama, dalam perlakuan maupun cinta dan kasih sayang. semestinya, tidak ada hierarki antara laki-laki dan perempuan. karena dalam relasi yang seimbang, sejatinya tak akan memunculkan masalah.

Di akhir cerita, saya bertanya balik ke teman saya, “lalu, kenapa kau masih memilih bersamanya?” ia diam sejenak, ada hal yang enggan diungkapkan tapi berteriak minta keluar, “karena masih sayang”. Saya terhenyak, tersenyum, dan mengalihkan pembicaraan seraya berbisik dalam hati “sungguh malang”.

 *dikutip dari http://historia.id/budaya/memadu-perempuan

Advertisements

2 thoughts on “Kartini Yang Malang

  1. Tulisan yang sangat dalam, yang mengingatkan bahwa 21 April bukan sekadar perayaan hari lahir Ibu Kartini, tapi lebih pada apakah pikiran-pikiran yang tertuang dalam suratnya sudah betul-betul mewujud dalam keseharian semua orang. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberi pandangan soal ini :)).

  2. Sedih ya, Vaaaan.. Tapi rasa sayang temen kamu itu ngga berbanding lurus dengan perlakuan kekasihnya ya.. 😦 Aku jadi sedih deh. Temen aku ada yang digituin jugak soalnya. Rasanya ngga tega 😥

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s