Percakapan Menjelang Malam

IMG_6941 (600 x 400)

Di bawah atap pondok saat senja hampir rubuh, ia berbincang dengannya menghabiskan terang. Kau dengan segala tanya dan heran, dan ia siap dengan seribu jawaban.

 “kau bilang puisi dapat mengubah peradaban” katamu memulai

“bukan hanya puisi, segala tulisan maupun lisan seharusnya bisa. Hanya saja manusia indonesia nihil membaca pun luput mendengar.”

Meminjam ungkapan Ajip Rosidi, Kalau sebuah bahasa dengan kesusasteraannya tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya, maka kematiannya akan segera menyusul.  Kerap kali kita terlalu dini berharap sesuatu dapat mengubah, namun alpa makna. Puisi, seperti halnya sastra lain dikatakan mampu mengubah peradaban sebab dalam tiap baitnya mengandung pesan, implisit maupun eksplisit. Puisi, sebagaimana tulisan lainnya adalah media berpesan dalam aksara. Tentu aksara akan terlihat maknanya ketika dibaca. GM pernah berkata, Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan. 

“adakah yang lebih pedih dibanding kehilangan?”

“kesunyian”

kesunyian adalah pedih yang kian menggerogot isi hatimu setelah kehilangan. Ia seperti ulat yang makan dedaunan hijau. Kesunyian yang membawamu masuk dalam momen yang kau sendiri kesal mengingatnya. Semakin kau coba lupakan, semakin teringat. Kesunyian mengingatkanmu pada dua hal, penyesalan dan kenangan masa silam. Kesunyian adalah kesediaan kita untuk mengakui kesalahan, mengucap maaf, dan memahami batasan.

“bagaimana memaknai kehilangan? Bagiku itu terlalu utopis jika kita coba untuk melupakan sesuatu yang biasa ada dan menganggapnya sebagai berkah”

Mata Abu Bakar berkaca-kaca, Umar berulang kali menahan nafas dan tangis, Usman menghela nafas panjang, dan Ali semakin menundukkan kepalanya, seiring dengan dua pesan Rasul terakhir pada umatnya sebelum kematiannya. mustahil bagi manusia menerima kehilangan sonder sakit, sonder meringis. Bahkan, setingkat Khulaufaurasyidin, kehilangan adalah hal yang paling mencekam. Kehilangan dan kematian, keduanya sama-sama melenyapkan hal yang biasa kau sayang yang lantas berujung kau rindukan. Tapi, kehilangan tak melulu tentang duka. Seorang cendekiawan muslim, Sayed Mahdi Syamsudin, mengumpulkan khutbah Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, ia menyiratkan kehilangan seperti suatu keharusan yang harus diterima untuk mendapatkan sesuatu yang lainnya. (hikmah ke-191)

“bagaimana mencintai sesuatu apa adanya?”

“belajarlah dari senja”

Senja begitu juga seseorang, memiliki kehidupan masing-masing sebelum memancarkan pesonanya. Sebelum langit keemasan, ia hanyalah sama seperti langit di penjuru dunia, biru muda dengan buih-buih awan yang sering kau asosiasikan pada ragam bentuk benda di bumi. Seseorang begitu pula senja, jika dinikmati terus-terusan tentu akan biasa saja.

“mengapa senja? kau pernah bilang, senja sudah menjadi barang kodian, dipakai banyak orang untuk pujian”

“tapi, tidak semua memahami senja. Ia hanya mencintai bagaimana langit keemasan lantas mengeluh ketika berubah menjadi malam. Senja adalah pengorbanan, ia merelakan raganya ditelanjangi menjadi puja-puji orang banyak dan diperkosa dari segala penjuru. Pada senja seharusnya kita belajar bahwa ia adalah pertanda bahwa malam kian dekat dan kematian semakin akrab.”

Advertisements

4 thoughts on “Percakapan Menjelang Malam

  1. Tertegun saat membaca bahwa yang lebih menyakitkan dari sebuah kehilangan adalah kesunyian.. Well, sayangnya itu memang benar 😦

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s