Mencari Senja Yang Hilang

“kita sudah lama tak membunuh waktu sambil menanti senja” kata puan tetiba menyeloroh. Semenjak Desember awan abu lebih sering mampir daripada awan merah yang keemas-emasan. Mungkin ini siasat senja agar ia tak bosan dinikmati dan dipuja orang banyak setiap kemunculannya.

“…..sambil dengar Menuju Senja – Payung Teduh. Lagu kesukaanmu” si puan coba membangkitkan ingatan.

“Memang sebaiknya kita diam sejenak dan menerima apa yang semesta berikan kepada kita, tanpa subuh maupun tanpa senja. Barangkali ini adalah pertanda bahwa kita harus bersyukur ketimbang terlampau meminta.” Si lelaki mengingatkan. Ia coba menenangkan situasi, padahal hatinya tidak sepenuhnya menerima keadaan seperti ini.

Bagi mereka, senja adalah kekuatan. Senja seperti colokan yang selalu mereka cari alih-alih sembari memperbaiki hubungan yang pasai. Keduanya telah menjalin hubungan yang lama, kata lelaki di suatu masa, “supaya kita tak bosan, kita harus sering-sering menikmati kejadian alam. Aku pilih senja, kamu?”

“aku juga” sahut puan.

Saat itu, senja sudah seperti colokan yang selalu mereka cari-cari untuk mengisi baterai handphone. Senja bagi mereka sudah seperti orang sakit yang harus ditengok, setiap minggu atau setiap bulan, hanya untuk sekadar melihat senja datang atau menunggunya tenggelam. Biasanya, senja tiba pukul empat.  Namun, sejak Desember hingga kini senja tak memunculkan batang sinarnya. Seolah matari sudah kehabisan bahan bakar untuk mempertontonkan senja pada mereka.

“seandainya kau waktu itu tidak mengutuk senja, mungkin sekarang ia sudah muncul” tiba-tiba puan menyalahkan si lelaki.

“ini bukan karena aku. Jika memang iya, memang begitu lah adanya. Senja saja terlalu lemah” jawab lelaki gusar.

November tahun lalu, lelaki meneriaki senja. Ia berkata bahwa senja seperti pelacur. Datang dan pergi setiap hari dinikmati orang banyak dan orang yang tidak sama. Mereka dengan puja pujinya lalu senantiasa mengabadikan senja.

“dasar senja yang murah! Apa bedanya kau dengan pekerja seks?!” si lelaki geram

“hei, kamu kenapa berbicara seperti itu?” dengan sigap si puan menjawab

“kau lihat saja. Semenjak senja sering memunculkan dirinya, orang-orang berbondong-bondong memujanya….”

“memang kenapa? bukankah senja bukan hanya milik kita?” potong si puan”

“iya aku mengerti. Tapi bukan itu! Mereka yang tiba-tiba memujanya, lalu melupakannya saat senja tak muncul. saat senja tak memancarkan sinarnya yang kemerahan, mereka mengutuk, mereka tidak menerima langit selain senja. Bukankah kau juga harus mencintai awan lain selain senja sebab senja itu sendiri hadir karena warna-warna selain kemerah-merahan, kan” sang lelaki menjawab puas

“lalu, mengapa kau memaki senja?” tanya puan penasaran

“karena ia diam saja! Datang dinikmati, tenggelam dimaklumi, tidak muncul dikutuki. Begitu seterusnya. Seharusnya ia harus pertegas bahwa dirinya bukan pemuas.” tungkas lelaki agak memaki

Sejak kemarahan lelaki, senja memang tak memunculkan pesonanya. Segala duga-duga muncul dari lelaki. Mungkin benar, ketidakmunculannya selama ini adalah bentuk jawaban dari diam yang selama ini ia lakukan. Karena merasa bertanggung jawab atas kelenyapan senja selama ini, Si Lelaki mengajak Puan untuk mengadakan pemanggilan senja.

“bagaimana bisa kita melakukan panggilan untuk alam? Kau pikir kita Tuhan?” respon puan ketika mendengar ajakan lelaki

“Kita akan melakukan hal-hal sederhana, seperti pergi ke bukit atau ke pantai. kita lakukan kegiatan sebagaimana kita lakukan bersamanya” ajak lelaki bersemangat. Si puan yang masih keheranan segera menyetujui mau lelaki.

Keesokan harinya, mereka putuskan untuk pergi ke bukit. Sampai di bukit, mereka mulai berbincang, segala hal dibicarakannya. Mulai dari masa silam hingga masa depan.

“kau tidak akan keberatan menunggu?” tanya puan

“aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun betapa lama pun selama aku mencintainya. Menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri”* jawab lelaki tegas

“ini sudah pukul empat, senja belum juga lewat” ungkap lelaki

si puan diam terhenyak,

Bukan awan kemerahan yang dilihat, justru hitam kelam yang semakin terlihat. Dua jam berlalu, awan di luar semakin gelap. Si lelaki lelah dalam harap. Segera ia meminta puan menuntunnya turun.

“bawa aku kembali ke dokter” pinta lelaki.

*dikutip dari cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Linguae.

**cerita terinspirasi dari kehidupan jalanan, seorang pemain suling buta yang setiap sore kerjanya meminta-minta dituntun wanita di belakangnya

Advertisements

One thought on “Mencari Senja Yang Hilang

  1. Apa hebatnya senja sih? Cuma tafsiran manusianya yg hebat mah. Dan saya, si lelaki, juga si Puan sebagai manusia emang pada bego.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s