Sesuatu di Balik Tas

Antara jendela dan senja
Kuhampirinya sambil menaja
Duhai Puan,
Hati ini penuh rindu
Tidakkah kau merasa begitu?
Duhai Puan,
Rindu ini kian meminta
Bertemu dalam satu jumpa

Minggu lalu, kita kembali bertemu dalam perjumpaan dan saling berbicara dalam diam. Dari kejauhan aku melihat kau bawa tas. Semakin dekat, kuketahui di dalamnya berisi masalah yang belum tuntas. Aku pun membawa sesuatu, sebuah kertas yang berisi rindu yang tak terbalas.  Aku ingat, kegugupan membuatmu luput mengucap salam. Aku berharap semoga itu bukan lahir dari dendam. Kita duduk berhadapan, Satu dari kita tak juga memulai perbincangan.

Di depan api lilin yang goyang-goyang, dihadapan vas bunga tinggi yang membuat wajahmu sedikit ketutupan, kita masih diam. Sampai pelayan datang menawarkan pesanan keluar juga ucapan-ucapan. Seperti biasa, kau pesan latte, aku cappucinno. Pelayan pergi, kau membuka tas dan mulai menarik nafas tinggi-tinggi, seperti ingin mengungkapkan sesuatu dalam hati

“kau tahu rasanya sendirian dalam satu hubungan?” kau mulai dengan suara parau sedikit serak. Pesanan yang baru sampai langsung kau minum perlahan.

Mampus, kataku dalam hati. Aku deg-degan setengah mati. Duga-duga mulai muncul dalam pikiran, syahdan memikirkan segala jawaban. Sekian waktu berpikir, bukan dapat jawaban, malah kebingungan. Cappucino kuseruput, pertanyaan berikutnya datang menjemput.

“kenapa kau diam? Kau lelaki berpangkat namun tak satu katapun terucap?” Tanyamu yang membuatku seperti sasaran tembak.

Saat itu aku berterima kasih pada vas bunga yang menutup wajahnya setengah bagian yang berarti membuat separuh wajahku juga ketutupan. Aku kembali diam sembari berpikir.

“kau memaknai kesendirian sebagai kenestapaan, hingga lupa arti kesibukkan.” Kataku sambil menyeruput cappucino untuk mengurangi rasa gugup. Masih memainkan jari-jari di atas api lilin, untuk membuat kita terlihat baik-baik. Kini keadaan berbalik, kau tertunduk. Jari-jarimu memegangi ujung meja dan coba mencuilkan kayu-kayu pada meja itu.

Puan yang menawan, hidup tentu tidak akan serumit ini ketika kenyataan sesuai dengan harapan. Namun, harapan itu terpeleset di simpang jalan sehingga takdir mengajak kita bertemu dalam kembimbangan. Di sungai waktu, rindu hanyut ke hulu*. di dalam telaga, rindu adalah waktu yang terluka. Kukira kita lelah menaja perasaan, rindu yang membumbung dalam dada tak jua sesuai dengan harapan. Ia bermain dengan segala kemungkinan.

Puan yang rupawan, kita telah berupaya bersahabat dengan waktu. dari berbincang melalui pesan kawat hingga melupakan teman sejawat. Kau tentu paham kasihku, bersahabat dengan waktu sama dengan mengakrabkan diri dengan jarak yang semakin beranak pinak. Ia yang membuat kita silau dengan duga serta prasangka……

“kau tak menghargai waktu, kau tak sadar banyak yang ingin ada di posisimu!” katamu.
Bicaraku belum selesai, egomu lebih dahulu sampai.

Pertemuan usai.

Ternyata, ada yang luput dari upayaku menjinakkan waktu, yaitu memberi asupan pada ego dan nafsumu. Ini bukan tugasku. Ini maumu sejak beberapa waktu lalu.

Tas kau tutup, masalah tuntas. Sedang rindu yang tak terbalas masih tertulis apik dalam kertas walau kini hanya tinggal ampas.

*potongan tweet rocky gerung
**didedikasikan untuk salah satu teman SMA yang baru ditinggal cinta

3 thoughts on “Sesuatu di Balik Tas

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s