Perihal Membaca dan Menulis

Teman saya, Rahman Fauzi, tadi pagi mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya link wawancara dengan Eka Kurniawan. Bukan, bukan teman saya yang melakukan wawancara, tapi Aan Mansyur yang tak lain juga seorang penulis. Wawancara tersebut adalah rangkuman dari obrolan panjang Aan dan Eka di Ubud untuk urusan yang sama.

Saya selalu tertarik ketika kawan-kawan saya memberi suguhan bagus untuk dibaca. Di samping saya merasa dipedulikan, saya jadi tak perlu bingung mencari teman diskusi perihal membaca.

Dari jawaban Eka Kurniawan, saya banyak belajar mengenai membaca dan menulis. Saya sendiri (saat ini) masih mengkotak-kotakkan bacaan saya pada karya sastra klasik Indonesia. ini disebabkan saya merasa tertinggal baru menyukai sastra sekitar medio 2014. Saya tergerak untuk mengenal lebih dalam tentang sastra Indonesia yang dahulu dipercaya mampu menjadi kanon kepada masyarakat sehingga beberapa pergerakan sastra harus rela dibekukan, sebut saja Manikebu pada saat rezim orde lama.

Inilah yang menggiring rasa penasaran saya untuk mendatangi perpustakaan, toko buku bekas, hanya untuk mencari buku-buku lama perihal dunia sastra. Tujuan saya sederhana, mengerti sekaligus memahami apa yang sebenarnya bisa sastra lakukan pada kekuasaan, di sisi lain saya juga berharap dengan banyak membaca karya sastra klasik, perbendaharaan kata saya terus menambah dari waktu ke waktu.

Eka Kurniawan dalam wawancaranya menyebutkan pada titik-titik tertentu karya sastra terkadang mainstream. Ia muncul karena kejadian-kejadian yang dirasakan umat banyak, Eka menyebutkan pada waktu realisme magis sedang melonjak di Amerika Latin pada saat yang sama jug muncul hal yang sama di belahan benua lain karya yang setema. Benar adanya, saya merasakan gelombang mainstream tersebut pada saat masa pemberontakan PKI. Tak ayal, kejadian pada masa itu menjadi landasan bagi beberapa novel untuk menjadikannya setting tempat dan suasana. Saya tak masalah dengan hal ini, selama karya tersebut mampu membuka mata untuk orang banyak dan selebihnya mampu membuat cara berpikir orang lain berubah.

Pengkotak-kotakkan bacaan saya ini membuat saya sedikit buta terhadap penulis-penulis di luar kotak saya, terutama penulis-penulis luar. Sebut saja, Gabriel Garcia Marquez, Mo Yan, Don Delillo, Jorge Luis Borges dan nama-nama lain yang baru saya temui pada wawancara tersebut. Mungkin hal inilah yang perlu saya koreksi perihal membaca, kita harus berani keluar dari kotak nyaman menikmati satu karya untuk membuka mata menerima karya lain, tanpa duga, tanpa prasangka.

Mustahil menulis tanpa membaca adalah perintah yang menjadi pegangan saya untuk menulis. Walaupun saya bukan penulis. Kesulitan menulis hadir karena jarang membaca, kekurangan diksi pun ada karena kita kurang membaca, maka jika mau menulis, membacalah. Begitulah yang saya dapat ketika saya membaca ulasan orang yang datang ke pelatihan menulis.

Membaca sebagai pembaca atau membaca sebagai penulis? – salah satu pertanyaan yang dilontarkan Aan pada Eka Kurniawan.

Awalnya, saya pikir hanya saya yang rela menghabiskan satu bacaan untuk kemudian menulis dan menjadikan bacaan tersebut sebagai landasan dasar menulis. Ternyata saya tidak sendiri, Eka Kurniawan pun begitu, ada pretensi berbeda bagi Eka Kurniawan ketika membaca sebagai penulis ada keheranan, penasaran, dan pertanyaan muncul yang hendak menanyakan apa yang bisa saya dapat ketika membaca buku ini? Apa yang membuat buku ini menarik? Dan lain sebagainya. Benar adanya, ketika membaca sebagai penulis kita cenderung untuk mencari buku yang benar-benar bisa membantu kita untuk menuliskan sesuatu hingga kita kehilangan kesenangan yang seharusnya didapat dari membaca buku itu sendiri.

Membaca seharusnya bisa buat kita senang, kagum, berpikir, tanpa pretensi apa-apa terhadap bacaan tersebut. Entah nilai apa yang bisa kita ambil dari bacaan tersebut adalah hal lain. Yang terpenting membangkitkan semangat membaca itu sama sulitnya dengan bangun dari tidur yang panjang. Jika semangat membaca ini bangkit-membaca sebagai pembaca-kita akan mudah untuk membaca apapun yang ada dihadapan kita, sekali lagi, tanpa pretensi apa-apa. Karena, mengutip tulisan Goenawan Mohammad, “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.”

*
honorable mention:
Rahman Fauzi, terima kasih atas link wawancaranya
Aan Mansyur dan Eka kurniawan, sungguh saya sangat ingin bertemu kalian pada satu kesempatan.

**
Kalian bisa baca seluruh wawancara Aan Mansyur dan Eka Kurniawan di sini

Advertisements

8 thoughts on “Perihal Membaca dan Menulis

  1. Ah saya merasa tertinggal. Baru belakangan ini tertarik sama sastra, dan ternyata untuk sastrawan klasik Indonesia pun masih belum banyak yg saya kenal.

      1. Tertarik sama konsep bahwa menulis adalah bagian dari membaca, bukan sebaliknya. Jadi inget cerita sastrawan Indonesia yg jauh-jauh ke Amrik cuma buat ‘belajar membaca’. Lupa lagi siapa, Taufiq Ismail atau GM kalau ga salah.

  2. Kalo saya membaca sebagai membaca saja. Kalo membaca sebagai penulis nanti tak dapat menikmati bacaan. Lagian saya belum penulis. Jadi nikmatin membaca dulu. salam

  3. Ayo banyak membaca, pasti banyak gunanya :hehe. Setuju dengan komentar Mas Alris, yang penting keduanya bisa dinikmati sebagai suatu kegiatan yang fun. Pasti banyak manfaatnya :)).

  4. bener banget, saya sering kesulitan untuk menemukan diksi yang pas baik saat menulis blog maupun menulis laporan utk tugas hahaha
    ayo mulai membaca 😀

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s