Memahami Pancasila

Mari sejenak kita mengingat pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945. Pidato yang tiap jeda nafasnya kerap diiringi tepukan meriah oleh orang-orang yang hadir di dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan. Pada pidatonya, Bung Karno berulang kali menjelaskan dan mempertanyakan arti kemerdekaan dengan perbandingan negara-negara yang sebelumnya merdeka terlebih dahulu.

Bung Karno menjelaskan kunci dari negara yang siap merdeka adalah rakyatnya yang siap mempertahankan negaranya. Sesudahnya, ia beranjak berbicara mengenai hal dasar, yaitu, Pancasila. sebuah Weltanschauung yang menjadi dasar-dasar Indonesia Merdeka. Pidato itu adalah jawaban atas pertanyaan Radjiman dan kritik terhadap catatan Zimokyokutyoo disuarakan Bung Karno tanpa teks.

Pancasila, diharapkan oleh para peserta sidang kala itu menjadi pegangan bagi rakyat Indonesia sebagai landasan hidup dalam bermasyarakat. Tidak sedikit nilai-nilai sosial serta agama yang tertera pada Pancasila dan bulir-bulirnya. Bagi saya, Pancasila adalah ide yang secara tidak langsung digodok dari berbagai ideologi (humanis, sosialis, agamis, dll) dengan getir, peluh, semangat, dan harapan yang gunanya tak main-main bagi negeri ini.

Penggarapan Pancasila yang dibuat berpuluh tahun lamanya bukan tanpa tanda tanya. Pertanyaan pada setiap silanya kerap ditanyakan, bahkan Pancasila sendiri bukanlah sebuah jawaban yang tepat. Bagi beberapa, Negara Islam dan ideologinya adalah pengganti yang tepat.

Ada yang aneh Indonesia di belakangan ini, seorang yang mengibarkan bendera bintang kejora di penjara 15 tahun, sedangkan mereka yang berteriak dan mengibarkan mendirikan negara islam disediakan tempat di lapangan bola terbesar di Indonesia dan dijaga. Ide Negara Islam terus dirongrongkan, sistem pemerintahan khilafah menjadi jawaban atas segala permasalahan. Berlandaskan sejarah yang kuat, singkat cerita sistem khilafah dapat disimpulkan sebagai sistem pemerintahan tanpa cacat yang membawa kemaslahatan umat.

Lantas, sekolompok organisasi dengan bendera hitam menyuarakan ide Negara Islam, sambil mengatakan demokrasi adalah sistem barat, kafir, dan haram diterapkan. Negara Islam harus ditegakkan dan semua rakyatnya nanti mesti islam. Agaknya perlu kita sadari bahwa bumi ini berisi kumpulan manusia dengan berbagai ideologi, tak mungkin satu sistem pemerintahan yang ditilik dari sejarahnya mampu menjadi satu-satunya jawaban. Bumi, yang mana bukan akhirat, tak mungkin tanpa cacat. Begitupun berlaku pada Pancasila itu sendiri.

Saya bukan seorang pancasilais, tapi saya mencoba berpikir logis tentang ideologi yang diresmikan 70 tahun silam. Pancasila adalah rotasi, rotasi yang terus dibenahi. Karena tidak sakti, justru Pancasila berarti. Dengan segala kekurangannya, pancasila adalah bentuk revolusi jelas tidak mengaku suci sehingga kapan saja bisa “dikritisi” dan “diperbaiki”. Meminjam istilah Goenawan Mohamad, Pancasila adalah ‘inspirasi’ untuk sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung ‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’.

Islam adalah rahmatan lil alamin, ia tidak hanya dikhususkan untuk muslim saja tapi seluruh umat dan tidak ada paksaan untuk memeluk islam. Melalui Bhinekanya, Pancasila membuat Indonesia terdiri dari beragam warna-ras, suku, dan agama. Agaknya, Indonesia masih perlu mendalami apa itu Pancasila berikut penerapannya dalam kehidupan berwarganegara, Pancasila mencoba membuat nilai kemanusiaan satu tingkat lebih tinggi dibanding kepentingan kelompok semata.

Advertisements

9 thoughts on “Memahami Pancasila

  1. jadi inget jokesnya Rocky Balboa (eh salah, Rocky Gerung maksudnya) :p

    doi bilang sih pancasila itu perlu direvisi:
    sila 1: ketuhanan yang adil dan beradab
    sila 2: kemanusiaan yang maha esa

    kabuuuurr takut ada pancasilais garis keras

  2. jadi kembali ke orang-orangnya…. sebaik apa-pun sistem, jika orang yg menjalankannya kurang mampu, sistem nggak akan berjalan baik.

    1. Nah! Betul banget mas. Saya geli ketika satu sistem diteriaki tanpa memperbaiki manusia itu sendiri. Seperti mengharapkan hasil bagus tanpa usaha

  3. sayang sekali….
    bila alergi terhadap yang dimiliki…
    atau memang tidak memiliki…
    padahal dia nafas yang mengantarmu bangun dan lelap
    padahal dia kunci yang akan membuka firdaus…
    sayang sekali…
    menyedihkan sekali…..

  4. Hmm, iya juga ya… berpikir.
    Pancasila saya anggap sebagai sesuatu yang mengakomodir adanya perbedaan supaya kita satu :hehe. NIlai-nilainya tidak stagnan, tetapi dinamis dan mengikuti perkembangan masyarakat yang menemukannya, yakni masyarakat Indonesia. Dan sebuah landasan sejatinya seperti itu. Seperti tanah tempat tumbuhnya pepohonan, biar diolah menjadi apa pun, biar di atasnya tumbuh apa pun, tanah tetaplah tanah, yang sifat dasarnya sejati :hehe.

  5. Wah kebetulan sekali pas 1 Juni kemarin aku lagi di Ende, kota tempat Bung Karno dulu diasingkan, dan merumuskan Pancasila di bawah sebuah pohon sukun yang rindang. Jadi ada peringatannya di Taman Pancasila. Udah pernah ke Ende?

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s