Mengenal Batas

Tetangga saya adalah pengagum da’i kondang, Aa Gym, tiap dakwahnya mungkin hampir seluruhnya ia tonton walaupun berulang. Saya sempat bertanya padanya mengapa ia mengagumi sosok Aa Gym di tengah ustadz-ustadz baru bermunculan dengan gayanya masing-masing. Katanya, ia mengagumi Aa Gym karena siraman rohani Aa selalu sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh dirinya plus dengan gaya penyampaian Aa tidak mencak-mencak walaupun mengingatkan.

Kemudian saya iseng bertanya tanggapannya setelah Aa Gym memutuskan untuk menikah kembali. Ia jawab dengan santai, tidak apa. Itu pilihan hidupnya, Aa Gym adalah manusia, punya hasrat sendiri, saya sebagai pengagum menghargai keputusannya. Karena saya mengagumi cara berdakwahnya ketimbang kehidupan pribadinya.

Saya terkejut dengan jawaban itu. Pasalnya, jarang seorang pengagum garis keras bisa memisahkan antara apa yang dikagumi dengan kehidupan pribadi tokoh tersebut. Cukup sering saya mendengar ceramah Aa Gym yang disetel di Youtube atau kaset dari tetangga saya itu. Karena itu, Hampir saya hafal kapan Aa Gym berdeham, batuk, atau mengambil air minum.

Seorang pengagum, di luar kita mengagumi apa yang memang kita kagumi dari sang idola, biasanya kita tergugah untuk menelisik kehidupan pribadinya. Tahap sebelumnya, ia sudah memiliki bayangan bagaimana sang idola itu hidup. Mengintai akun media sosial sampai melakukan pencarian nama dengan mesin pencari. Ini adalah bentuk kewajaran karena diri kita selalu bertanya bagaimana ia bisa seperti itu, apa yang dilakukannya sehari-hari, dan hal-hal sepele yang dilakukannya kita ingin tahu walau sedikit.

Tapi dengan mengetahui kehidupan pribadi sang idola, tidak sedikit kita sering kecewa karena ada sedikit tindak tanduknya yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tidak sama dengan nilai yang kita anut. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan harapan kita menjadi tapal batas yang menghentikan kekaguman kita pada sang idola. Tak jarang juga yang menyebut munafik setelah tahu kebiasaan kecil yang tidak sesuai dengan harapan atau nilai yang kita pegang.

Ada kalanya tetangga saya benar, terlepas dari dakwahnya yang mengeluarkan ayat-ayat, ia mafhum bahwa seorang ustadz juga manusia. Manusia memiliki sifat-sifat alamiah, pendendam, pemarah, nafsu, santun, dan lain-lain. Hanya kadarnya berbeda-beda. Mungkin sedikit yang bisa berpikir seperti ini, seorang pengagum biasanya taklid buta terhadap hal manusiawi manusia. Mereka mengagumi dengan harap, tanpa berpikir bahwa diluar kegiatannya mereka(sang idola) punya kehidupan. Saya teringat dengan salah satu tweet seorang teman, sudah saatnya kita membuat jarak dengan idola agar tidak benar-benar buta. Itu bukan tweet sebenarnya, saya moderasi sedikit tanpa menghilangkan maknanya.

Syukur mereka yang tahu batasan antara hal yang diidolakan dengan kehidupan dirinya, tapi banyak juga yang benar-benar mengikuti apa yang dilakukan sang idola ke diri sendiri. mereka cenderung mengimitasi daripada termotivasi. perihal ini, sebagai manusia yang diberi akal sama besar oleh Tuhan, baiknya kita tidak buta terhadap hal-hal manusiawi yang siapa pun bisa melakukannya. dalam hal ini idola, adalah wajah kita dalam bentuk yang lain. ia diyakini mampu menjadi contoh, tauladan, untuk meraih apa yang kita inginkan, tapi hal kecil seperti mengingat bahwa mereka manusia biasa perlu ditekankan.

Hal seperti ini tidak hanya terjadi pada mengidolakan seseorang, tapi banyak hal. Kita kerap dibuat buta ketika sesuatu benar-benar mewakili perasaan atau keinginan kita terhadap sesuatu, idola atau apapun itu menjadi representasi pada diri kita. Tak heran mengapa fanatisme mudah tumbuh tanpa logika. sebab fanatisme melahirkan ketakutan, menutup jalan baru, dan mengunci peradaban. Padahal, fanatisme itu sendiri seharusnya memiliki batas, yaitu harga dirimu.

Advertisements

9 thoughts on “Mengenal Batas

  1. Saya baru sadar setelah membaca ini. Lugas dan jelas, pesannya tersampaikan dengan baik, Mas :hehe. Keren!
    Idola juga manusia biasa :hehe, jadi kita mesti ambil yang bagus-bagus sebagai bahan untuk memperbaiki diri sendiri dan menjadikan yang kurang baik sebagai pelajaran untuk tidak kita lakukan :)). Terima kasih sudah mencerahkan :)).

  2. Sikap teman mas Rivan itu menurut saya adalah sikap rasional. Ambil yang baik jangan diikuti yang yang gak bagus. Kebanyakan pengagum adalah taklid buta, terutama dalam politik.
    Saya juga pengagum Aa Gym dalam hal kebaikan. Jadi ingat, “jagalah hati…” 🙂

  3. Sesungguhnya, menurut saya nih. Ada yang salah dengan konsep pemahaman orang-orang tentang poligami. Bukankah poligami adalah hal yang diperbolehkan? Tentu dengan syarat yang telah berlaku. Diantaranya bagi orang yang mampu menjalaninya dengan adil. Memang tidak banyak di dunia ini yang sukses dengan poligaminya, tapi untuk orang sekelas AaGym menurut saya, insya’Allah sudah diberikan bekal untuk menjalaninya. Pesan saya untuk para penggemar beliau, jangan berburuk sangka terhadap Aa Gym, tapi berbaik sangkalah dengan berpemikiran bahwa Aa Gym sudah diberi (oleh Allah) kapasitas kepribadian yang pantas untuk poligami. Sebelumnya, saya bukan pengagum Aa Gym, tapi saya cinta terhadap beliau selayaknya seorang muslim terhadp saudaranya. Salam. 🙂

    1. Betul, mas. Tak bisa dipungkiri ada bbrp yg kecewa dgn keputusan Aa, tp poin saya ga kesitu. Saya mengajak untuk mengerti batas antara idola dan pengagum. Minimal mereka menggunakannya tanpa taklid buta terhadap sesuatu yg diidolakannya.

      Terima kasih, mas 🙂

  4. Ketika sudah sampai pengkultusan, ini memang yg bahaya. Zamannya para orang suci telah lama punah, sekarang yg ada cuma manusia biasa.
    Saya justru jadi suka Aa Gym ini malah setelah isu poligami, suka karena rasa simpatis.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s