Memori Ramadan

Hampir tiga tahun tidak bertemu, di tahun ke empat saya mendapat berita Ilham meninggal dunia. Artinya, empat tahun saya tidak tidak bertemu hingga hari kematiannya. Ilham adalah adik dari teman saya, Ical. Keduanya saya kenal saat SD, kami sama-sama satu perguruan di klub badminton. Tapi, sebelum itu saya sudah mengetahui mereka di perlombaan futsal antar RT, keduanya itu memang mirip, kalau main futsal seperti Tsubasa dan Misaki, saling mendukung dan menutupi.

Ical, Ilham dan saya berasal dari dua SD berbeda, namun rumah kami letaknya tidak terlalu jauh. Kami saling mengunjungi rumah satu sama lain, sekadar bertukar mainan, main tazos, atau tepok gambar. Di klub badminton, hubungan kami semakin direkatkan. Mungkin karena pelatih yang kepalang galak dan disiplin membuat kami yang malas, kami sering mendapat perhatian khusus.

Selain satu klub badminton, momen ramadan adalah momen lain yang semakin mendekatkan hubungan kami, sebab ngabuburit terkadang kita lakukan bersama, tarawih dan pengisian agenda ramadan begitu pula. Terkadang isi cerimah salih bertukar.

Saya dan mereka sedikit berbeda dari segi orang tua, mereka berasal dari keluarga agamis, sedang saya biasa-biasa saja. Perbedaan latar belakang orang tua kami tentu berdampak pada anaknya. Terbukti paham keagamaan lebih tinggi mereka ketimbang saya. Makanya, dari tiga puluh hari bulan ramadan, mereka full tarawih 23 rakaat, sedang saya 8 rakaat istirahat sudah bertandang ke tukang jualan dan baru kembali saat witir.

Suatu saat saya meminjam agenda ramadan Ical untuk melihat kekurangan catatan saya pada ceramah kemarin.

“ini ceramah kapan? Perasaan gue kemarin teraweh tapi gak ada ceramah” tanya saya penasaran.

“ssstt.. ah. Ini ceramah dari tv gue tulis” jawab Ical.

Dari sini saya menganggap ternyata saya tidak jauh tertinggal di belakang mereka. Kemudian kami tertawa, seolah berhasil menjadi mukmin yang baik dengan agenda ramadan yang terisi penuh.

Pemahaman agama yang didapat dari orang tuanya membuat saya banyak belajar perihal nilai-nilai agama dari mereka. Barangkali mereka yang mengingatkan saya untuk tidak fanatis terhadap sesuatu, sebab fanatisme adalah bibit fasisme.

Kami berpisah saat beranjak tingkat menengah, saya masuk SMP. Sedang mereka masuk ke pesantren. Hingga kini, kami belum sempat bertemu kembali.

*

Bagi saya, tak hanya ramadan kita harus berbuat baik dan bermoral. Ramadan adalah momen pengingat. Bersamaan dengan itu, perbuatan yang dilakukan saat bulan ramadan ini bisa menjadi bekal untuk bulan-bulan lainnya dalam bertindak tanduk.

Ukuran keberhasilan ramadan bagi saya tak melulu tentang agamis, tapi meningkatnya nilai kemanusiaan pada diri kita yang nantinya di luar bulan ramadan, kita, dapat lebih bermanfaat bagi orang lain.

Melalui ramadan, kita secara “normatif” akan lebih sering ke masjid. Tarawih serta siraman rohani yang kita dapat di masjid inilah yang menjadi input bagi kita, sedang output dan outcome-nya adalah kita bisa bermanfaat bagi manusia lain. Momen “sering” ke masjid saat ramadan ini memiliki pengertian lain. Saya teringat pesan Cak Nun tentang filosofi masjid, masjid adalah “dapur rohani” bagi Anda & masyarakat yg akan mengantarkan Anda menyuguhkan kebaikan sosial bagi masyarakat. Semakin merendah (sujud) semakin tinggi derajat kita di mata-Nya, semakin mendongak, semakin rendah diri kita dihadapan-Nya.

 *

 Ical dan Ilham adalah orang yang berpengaruh bagi pelajaran agama masa kecil saya. Saya membayangkan saat itu mereka adalah orang yang dikirim Allah bagi saya dalam bentuk teman kecil yang sebaya, yang mengerti kondisi dan hasrat saya, dan tak lupa memberi output dari islam dalam bentuk tindakan.

Ramadan adalah momen pengingat, Salah satu ingatan yang muncul saat ramadan adalah mengingat kebersamaan itu. Ramadan ini saya kembali merindukan ngabuburit, menulis agenda bersama hingga meminta tanda tangan imam tarawih sampai dimarahi marbot.

Terkadang, rindu muncul pada hal-hal yang tidak bisa dibayangkan, ada rindu yang muncul tiap bilal tarawih dibacakan, ada rindu yang tiba saat azan isya dikumandangkan, bahkan ada rindu yang hadir tiap mengantri telur gulung.

Selamat menempuh bulan ramadan
Selamat menjalankan puasa

 

4 thoughts on “Memori Ramadan

  1. Hidup dan mati seseorang memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan ya, Mas. Semoga Mas Ilham diterima di sisi-Nya, dan dilapangkan kubur serta jalannya :amin. Memang ya, saya juga pernah pengalaman, teman yang dulu kenal terus lama tak berjumpa, tiba-tiba begitu ada beritanya malah yang seperti ini yang didapat.

    Ah, mungkin itu cuma kebetulan, jadi abaikan saja :hehe.

  2. Selamat menunaikan ibadah puasa 🙂
    Ramadlan adalah kelas terapi bagi kita semua yang beriman, diharapkan setelah lelaluinya taraf hidup kita bisa lebih baik secara kebatinan, bersyukur bila juga secara dzahiriyahnya 🙂

  3. Ramadan adalah sebuah dunia yg berbeda. Ramadan yang notabene adalah praktik penindasan dan pengekangan bagi diri, justru menjadi hajat karnival bagi kita. Ramadan sebagai piknik.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s