Menikah Adalah Keyakinan II

Upaya pemerintah dalam mengatasi masalah kepadatan penduduk terbagi menjadi tiga cara, mencanangkan program KB, menetapkan undang-undang perkawinan tentang batas minimal usia pernikahan, dan membatasi pemberian tunjangan bagi anak PNS.

Seperti yang saya tulis di atas, batas minimal usia pernikahan saat ini adalah 16 tahun. Atas kebijakan ini maka coba diajukan permohonan perubahan undang-undang dengan mengubah batas minimal 16 tahun menjadi 18 tahun. Namun, nyatanya permohonan ini ditolak dengan alasan Permohonan tersebut ditolak dengan alasan tidak memberi jaminan dengan menaikan standarnya menjadi 18 tahun angka perceraian turun dan meminimalisir permasalahan sosial lainnya.

Saya merasa ganjil pada keputusan ini, pasalnya upaya pemerintah seolah tidak dimudahkan dengan menaikkan batas usia minimal. Pada titik ini saya sepakat ucapan Rocky Gerung saat pidato kebudayaan, Mahkamah Konstitusi sekarang lebih tepat disebut Mahkamah Konstipasi. Ada bebal pikiran yang sulit dikeluarkan menyebabkan logika sembelit. Ditambah lagi, menjauhi zinah termasuk dalam alasan penolakan tersebut.

Barangkali banyak yang beranggapan bahwa menikah muda menjauhi zinah, tapi ada yang terlewat dari logika ini. Jika niatnya menjauhi zinah, baiknya pemahaman ditanamkan pada anak perihal kehidupan. Namun beberapa memilih mengamputansi tangan daripada menyembuhkan luka.

Di luar alasan penolakan tersebut, saya berpendapat bahwa dengan minimal usia 16 tahun ini secara tidak langsung akan mendorong wanita menikah muda. Jika angka pernikahan muda ini tinggi maka menandakan angka pendidikan rendah. Dari sini pun timbul masalah baru yang sebelumnya belum selesai, membenahi persoalan pendidikan di tanah air.

Saya memiliki standar sendiri dalam menentukan siapa yang disebut menikah muda, yaitu mereka yang menikah di bawah umur 25 tahun. Tidak, saya tidak anti menikah muda. Namun, timbangan saya lebih berat ke arah lebih baik tidak untuk menikah muda.

Tak mesti menikah muda adalah tidak baik. Tapi kita hidup dalam tatanan sebab akibat. Sebab ini mengakibatkan itu. menahan angka 16 tahun sebagai batas minimal pernikahan sama saja menekan gas laju pertumbuhan penduduk semakin cepat, permasalahan sosial meningkat, beban pemerintah numpuk.

Menikah adalah perihal kesiapan dan keyakinan. Keduanya mesti seimbang, siap namun tak yakin sama saja merelakan kehidupan mengombang-ambing di bahtera keluarga. Yakin tapi tak siap setara dengan ujian yang disiapkan hanya dengan doa tanpa usaha. Menikah bukan tentang menghadapi ujian, ketika seseorang memutuskan untuk menikah, saat itu juga dimulai perjalanan panjang, asing, dan penuh tantangan.

4 thoughts on “Menikah Adalah Keyakinan II

  1. Saya rasa perlu sekali peran orang tua dalam pengambilan keputusan seperti ini. Jangan mentang-mentang, sudah dewasa, sudah mandiri, orangtua lepas tanggung jawab.

  2. Menurut saya sebaiknya umur minimal untuk menikah bagi perempuan 20 tahun dan bagi laki-laki 22 tahun. Ini menyangkut kematangan emosi dan kestabilan jiwa.

  3. Ya, bukan segerakan menikah, tapi segerakan memampukan diri buat nikah.
    Mungkin solusi paling alami buat mengatasi kepadatan pendudukan mah lewat perang sama genosida sih.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s