Koki

Ini bukan kali pertama ia tidak lantas percaya pada masukan yang diberikan kepadanya. Kerapkali, ia selalu mengkhawatirkan apa yang terjadi dengan mudah. Entah ia tidak percaya diri entah ketakutannya terhadap hal-hal instan terlalu besar. Ada pertanyaan besar, kenapa sesuatu terjadi terlalu cepat dan mudah.

Bagi dirinya, dunia tidak semudah ini. Pekerjaan yang diselesaikannya pasti ada hal lain yang pasti menjadi halangan. Ia memilih tidak percaya pada suatu hasil yang melibatkan halangan besar, ketimbang percaya pada dirinya bahwa ia telah melakukan usaha yang maksimal.

Seorang koki hotel bintang lima ditugasi memasak sebuah makanan. Yang nantinya, makanan itu akan disajikan kepada petinggi negeri dan khalayak ramai. Segala teknik ia kerahkan, buku masak di sekolah kembali ia buka, semua demi hasil yang sempurna. Menuju ujung jalan, sang koki mencicipi makanan tersebut. Menilai apakah sudah masak atau belum. Koki itu kikuk. Lantas ia minta salah seorang tamu untuk ikut andil mencicipi. “sluurp” suara sesapan supnya terdengar.

Matanya mendelik ke arah koki, “lumayan, namun kurang garam sedikit”.

Kekikukan koki berkurang, namun pertanyaan dalam kepalanya belum usai. Sebab, ia berpikir orang yang dipercaya tidak terlibat sejak awal pembuatan.

“bagaimana ia bisa mengetahui rasa yang saya inginkan?” ia garuk-garukkan kepalanya

Seorang yang dipercaya koki untuk mencicipi makanannya menilai begitu tegas dan yakin bahwa penambahan garam sedikit akan menyempurnakan masakannya. Di sisi lain, kembali muncul pikiran bahwa ia belum seratus persen yakin. Duga-duga mulai menyibak rasa percaya diri akan masakannya. “ah, masak hanya kurang garam?” ketidakyakinan semakin memuncak di kepalanya. Sedang, makanan sebentar lagi harus disajikan.

Sambil membuka toples garam, ia berpikir bahwa kenikmatan akan masakan tidak bisa disamakan pada tiap orang. Lidah manusia belajar dari segala macam makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Barangkali, lidah yang sering mengecap soto ketika diberi somay akan terasa nikmat. Tentu berbeda ketika diberikan pada seorang yang dulu sering mengecap nasi goreng. Somay yang menurut seorang satu terasa nikmat, sedang seorang lain merasa somay itu biasa saja.

Keheranannya mulai nihil. Ia mulai yakin dengan makanannya. Satu per satu mangkuk dipersiapkan. Sendok sayur mulai menjalankan tugasnya membagi sama rata pada tiap mangkuk. Di tengah kebingungannya yang mulai hilang, ia memasukkan makaroni ke dalam tiap mangkuknya.

Pintu terbuka, pramusaji masuk “sudah siap, chef?”

“sudah!” sambil melepas topi panjangnya ia menyilakan pramusaji membawa mangkuk keluar.

Seiring tamu menikmati makanannya, sang koki keluar sembari melihat bagaimana masakannya dinikmati orang banyak. Para tamu terlihat menyantap makanannya dengan nikmat. Senyum mulai merekah dari bibirnya.

Pada titik ini, ia yakin bahwa setiap orang, termasuk dirinya, memiliki ciri khas sekalipun menurut orang lain ia tidak memili kekhasan. “seorang yang tidak memiliki ciri khas, bisa jadi itu kekhasannya” selorohnya dalam hati.

Tangannya tiba-tiba ditarik,

“kau ciptakan masakan biasa namun paling enak yang pernah saya makan” kata orang yang dipercaya koki untuk mencicipi makanan itu sebelumnya.

Koki itu menyalami orang tersebut dan tersenyum.
“terima kasih, pak. Masakan itu saya tidak tambahkan garam”

Advertisements

4 thoughts on “Koki

  1. Kadang kita butuh masukan saran dari orang lain namun keyakinan diri itu yang penting namun tetap ada hasil akhir yang bisa membuat kita mengerut atau tersenyum untuk sebuah keyakinan.

  2. Rasa enak itu relatif, ya. Yang penting kalau menurut saya adalah keyakinan pada diri sendiri bahwa kita sudah melakukan yang terbaik, bukan untuk memuaskan siapa-siapa tetapi cukup karena kita sudah melakukan sesuatu terbaik yang kita bisa. Kontemplatif sekali, karena sekarang kan banyak ya orang yang intinya cuma memuaskan orang lain, bukan menjadi diri sendiri dan mengeluarkan kemampuan terbaik dalam diri :hehe :peace.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s