Gumam II

Di kala Indonesia relatif tidak dilanda konflik, Mochtar Lubis dalam orasi budayanya mengungkapkan kelemahan-kelemahan manusia Indonesia. ia menyinggung hipokrit, feodal, munafik, hingga percaya pada takhayul menjadi sebagian dari ciri tersebut. Pidato itu menuai pro dan kontra. Tanggapan atas orasi Mochtar Lubis bermunculan, begitupun tanggapan atas tanggapan dibuat olehnya.

Apakah yang dikatakan Mochtar Lubis sepenuhnya benar? Saya rasa tidak. Menggeneralisir karakteristik orang Indonesia tanpa penelitian ilmiah sangat sarat dengan subjektivitas. Tapi, di luar itu orasi ini cukup jadi cermin hidup bagi manusia Indonesia saat itu bahkan sampai sekarang. Saya kira dengan pengalaman memadai didorong analisis tajam dan kritis, pengamatan subjektif pada satu titik bisa benar. Lagipula, penilaian yang ia lakukan masih tergolong sah dibanding mereka menilai sekaligus menikam karena sebuah perbedaan.

Kau boleh menendang, menindas, hingga memberangus, tapi hanya satu yang kau tak bisa lakukan di negeri ini, berbeda dari kami. Agaknya, menjadi berbeda atau sesuatu yang lain di Indonesia sama saja bunuh diri. Konsep Pancasila sendiri suaranya kalah kencang dengan suara toa-toa ormas yang kerap berteriak penegakkan moral. Mereka memilih golok dan parang sebagai alat, ketimbang ilmu sosial untuk sebuah pemahaman.

Saya mafhum bahwasanya kebenaran menjadi kelompok mayor. Tapi, dongkol saat mayoritas menghalalkan segala cara untuk menindas bahkan menyudutkan kelompok minor hanya karena dia berbeda. Sampai kapan manusia indonesia akan seperti ini? Saya tidak yakin perubahannya akan lebih cepat dibanding negeri ini rampung membuat jalur kereta api di seluruh pulau.

Barangkali saya mesti mengerti bahwa untuk sebagian orang perbedaan dianggap bukan sebagai rahmat. Perbedaan kerap hanya dianggap sebagai ancaman yang akan merusak dominasi satu kelompok. Mungkin satu dogma membuat mereka betul-betul jijik pada perbedaan bahkan sekadar melihat perbedaan.

 Negara (mungkin salah satu) paling modern di abad ini baru saja melegalkan perkawinan sesama jenis. Seperti biasa, hal berbeda dari satu negara, yang paling riweuh justru negara lain. Segala kutukan atau sumpah ditujukan ke negeri paman sam. salah satunya Indonesia. negeri dengan segala keunikan manusianya, dari tradisi, budaya, hingga cara berpikirnya.

Dibalik sumpah serta kutukan yang dikeluarkan oleh orang-orang, Obama menyatakan bahwa kini sudah saatnya kita untuk melangkah dari simpati, dan menunjukkan kepedulian kita. Selanjutnya ia tambahkan “for all our differences, we are one people-stronger together than we could ever be alone. When all Americans are treated as equal, we are all more free”. Ada beda cara pandang yang kontras antara pengutuk dan pelaksana. Tentu hal ini lumrah, kita terbiasa mengomentari sesuatu yang tidak kita rasai daripada mencoba untuk memahami.

Pada titik ini, Amerika secara tidak langsung memplokamirkan dirinya sebagai negara maju nan modern yang menerima segala bentuk keunikan maupun perbedaan warga masyarakatnya. Sedang dibelahan bumi lain, hanya mengirim ayat-ayat kutukan padanya.

Saya mendukung pelegalan perkawinan sesama jenis yang dilakukan Amerika dengan beberapa alasan. Pertama, saya meyakini segala sesuatu berlandaskan kemanusiaan adalah kebaikan. Kedua, terjadinya bukan di negeri tempat saya tinggal.

Mendukung terjadi di suatu tempat bukan berarti juga mendukung hal tersebut diterapkan di negeri ini bukan? Dalam hal ini, nalar kita digunakan untuk menyesuaikan apa yang seharusnya diterapkan di negeri yang berkembang sejak lahirnya, seperti, pemikiran.

Kemungkinannya sangat kecil pelegalan perkawinan sesama bisa terjadi di Indonesia. dengan kondisi budayanya, perkawinan adalah salah satu ibadah. Mustahil rasanya perkawinan sesama jenis akan dilegalkan. Untuk itu, dukungan ini adalah bentuk simpati saya menganggap mereka ada. Tapi, toh seharusnya penolakan terhadap keputusan Amerika pun tidak serta merta menutup mata akan alasan dibalik keputusan tersebut. Minimal kita bisa belajar membuka mata kepada mereka yang berbeda, tanpa duga dan prasangka, lalu perlahan menerima.

Lalu, apa yang mungkin terjadi di Indonesia?

Mochtar Lubis dalam orasinya tersebut, ia menyebutkan salah satu karakteristik manusia indonesia, yaitu percaya takhayul. Hal di luar sains inilah yang mungkin diterima dengan lapang dan penuh penasaran.

Seorang anak perempuan berumur 14 tahun di Jombang berhasil menangkap sebelas tuyul dalam satu malam. Warga sekitar membenarkan keberadaan tuyul tersebut dan keheranan ingin melihat sosok sebelas tuyul yang dianggap sudah meresahkan. Keadaan berbalik, di Inggris, lelaki berumur 15 tahun berhasil menemukan planet baru kembaran planet Jupiter. Ia bukan sedang iseng dan ga ada gawean, ia melakukan serangkaian penelitian dan analisis untuk menemukan planet tersebut. Penemuan ini menjadi bahan penelitian lanjutan untuk dunia astronomi

Lantas kenapa kalau orang indonesia hanya bisa menangkap tuyul daripada menemukan planet? Ya, ndak apa-apa. Toh, selama kau tidak berbeda, kau bebas melakukan apapun di sini, kan?

Pada penutup orasinya, Mochtar Lubis menutupnya dengan sebuah usulan “Saya mengusulkan… Ah, apa yang hendak saya usulkan??? Saya usulkan kita di Indonesia bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia kita.”

ditulis sambil mendengarkan Over the Rainbow – Eva Cassidy

6 thoughts on “Gumam II

  1. Membaca postingan ini, saya jadi berpikir… kalau hidup itu rumit, yah :hehe. Jadi hidup itu mesti jadi orang yang sama? Tak bisa berbeda? Atau tetap sama tapi menghargai perbedaan? Ah, kayaknya saya lebih memilih yang terakhir, dengan semua pegangan yang saya punya, paling tidak saya tidak menutup mata kalau di luar sana ada yang berbeda.

    Yah seperti kata orang: “biarkanlah mereka berkembang” :hehe.

  2. Tujuan legalisasi pernikahan sesama jenis adalah menghilangkan diskriminasi dan mencapai kesetaraan yang (mendekati) sempurna.

    Sejarah diskriminasi (rasial, gender, agama, orientasi seksual, dll.) yang terjadi di Amerika cukup banyak. Pada kasus ini dapat ditilik pada :

    https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_violence_against_LGBT_people_in_the_United_States

    Dan kesenjangan hak-hak para kaum LGBT pada :

    https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_in_the_United_State

    Tingkat crime of hate dari tahun ke tahun semakin meningkat atas dasar diskriminasi. Kebebasan kaum minoritas terkekang karena rasa aman – kebutuhan dasar kedua berdasarkan teori Maslow.

    Saya jadi teringat salah satu episode pada acara Oprah yang pernah menuai kontroversi. Kalau tidak salah bahasan saat itu adalah “Obat Homoseksualitas”, dalam artinya homoseksualitas diibaratkan sebagai sebuah penyakit yang perlu diobati. Dari pandangan tersebut saja sudah “melanggar” kesetaraan bagi mereka, karena membuat kaum LGBT menjadi “minoritas yang lain”.

    Well, Amerika telah menetapkan legalisasi tersebut sebagai solusinya.

    Legalisasi yang saya tangkap berarti membuat sesuatu yang “berbeda itu” menjadi hal yang seharusnya normal dan dapat diterima oleh masyarakat. Artinya, crime of hate – kebencian biasanya muncul karena perbedaan (sesuatu yang abnormal) diharapkan berkurang.dan perbedaan orientasi seksual bukan sebuah alasan untuk melakukan kekejian.

    Tentu saja bagi orang yang beragama tidak menyetujuinya (bahkan bagi negara bagian Amerika yang masih kukuh karena dogma). Homoseksualitas melanggar fitrah manusia (mendehumanisasikan) dan melampaui batas, dan legalisasi pernikahan sesama jenis merupakan sesuatu yang sangat menyimpang. Apakah kesetaraan yang baik dicapai dengan legalisasi dehumanisasi?

    Sementara bagi “mereka yang tidak tahu”, homoseksualitas sah-sah saja dan manusiawi. Yah mau bagaimana? Memangnya di Amerika itu mayoritas berpegang pada agama? Yang mereka pegang adalah semangat untuk memperjuangkan kemanusiaan dalam hal kesetaraan.

    — ahh… banyak banget konsep sosiologi yang bisa diterapin tapi ga tau lagi plus ga ngerti —

    Intinya… Menurut saya, Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis diharapkan memenuhi tujuan sosial, yaitu mengimbau masyarakat untuk menegakkan HAM bagi semua kalangan. Kalau kita merasa homoseksualitas dan legalisasinya itu memang menyimpang, mungkin ada baiknya kita tidak mendukung maupun memojokannya.

    Masalahnya bukan cuma perdebatan mengenai kodrat manusia, tapi bagaimana antarkaum (mayoritas dan minoritas) dapat berbaur satu sama lain tanpa adanya rasa jijik dan timbulnya kekerasan.

    “Saya mengusulkan… Ah, apa yang hendak saya usulkan??? Saya usulkan kita di Indonesia bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia kita.”

    1. Jika kita mengacu pada agama, LGBT itu dosa mau bagaimanapun bentuknya. Masalahnya di Amerika, pelegalan ini sama sekali ga ada hubungannya sama agama. Hanya saja pelegalan yg dilakukan bahwa negara mengakui bahwa ada pernikahan sesama jenis. Jika gereja/masjid/ lainnya menolak menikahkan, ya silakan. Tp negara mengakui.

      Makanya saya mendukung Amerika atas pelegalan itu. Pasalnya berlandaskan kemanusiaan. Jika itu dilakukan di Indonesia, saya tidak dukung. Sebab, diskriminasi masih rentan sekali terjadi, penindasan apalagi, indonesia tidak siap dengan negara sekuler ekstrem macam Amerika. Biar budaya kita menjadi penyaringnya, bagaimana menghadapi sebuah perbedaan.

      Terima kasih sekali atas komentarnya saya turut belajar.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s