Pada Sebuah Subuh

Subuh tercipta di antara suara mesin dan muadzin. Ia menciptakan oposisi biner antara pekerja dan pendoa. Satu menuju tempat kerja, sedang satu lainnya menuju yang kuasa. Bagi umat beragama, subuh ialah sesuatu yang kudus ketika kau teramat tenang panjatkan doa sonder berpikir perihal dunia. Bagi para pekerja, subuh hanyalah pengingat untuk memanaskan sepeda besi.

Dari kegelapan yang masih pekat, keduanya berangkat mencari cahaya. Dua hal yang sama dengan jalan yang berbeda. Ada yang gegas berharap doa dikabulkan dan gaji dinaikkan. Beberapa manusia kerap memaksakan diri untuk menghidupi kebutuhannya. Keinginan tiada batas, hasrat yang membelalak, menjalani kehidupannya seperti mesin bertenaga kuda, lantas mematikan naluri yang mengingatkan bahwa ia seorang manusia.

Barangkali hidup tak akan sedemikian brengsek ketika segala yang kita ingin terkabulkan.. Kadang, manusia dipaksa hingga titik paling rendah bahkan hina untuk memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, ia membuka mata kita bahwa untuk menyala butuh nyali. Tapi, aku selalu yakin hidup yang tak pernah diperjuangkan takkan pernah dimenangkan, begitu kata Sjahrir mengutip penulis idolanya.

Subuh adalah tanda bahwa kereta siap mengantar jutaan robot yang menjelma manusia. Bekerja mengadu nasib di ibukota dari pukul tujuh hingga pukul lima. Mereka yang berdesakkan di gerbong kereta, sama-sama ingin memberi yang terbaik untuk keluarga. Cobalah sesekali kau tengok kereta pukul lima sore. Lantas, kau bayangkan, apakah sebanding antara hasil yang didapat dengan bau keringat yang menyengat?

Tapi, subuh juga tanda syukur. Sebuah sajadah adalah harta paling berharga yang kau miliki. Ada khusyuk yang hadir ketika kau bersujud, ada tenang yang tersesap ketika menengadahkan tangan, ada damai yang muncul dari sinar matari yang tembus jendela kamarmu, ada tenteram ketika burung bercuit merdu.

Kadang manusia dipaksa untuk memendam keluh sampai di titik paling jenuh. Hingga ia terbiasa dengannya dan menganggapnya sebagai kewajiban menjalani hidup. barangkali ini yang dimaksud, ketika manusia terpuruk di antara hasrat dan nafsu. Tuntutan materi, harga diri, dan urusan pribadi yang terlampau tinggi membuatnya alpa bahwa mereka tak dibawa mati.

Ada makna kehidupan yang bengkok saat hasrat kadung bergelora. Kehidupan lebih sering membuat bulu kudukmu bergidik. Kau coba pergi dari keadaan, tapi sulit.  Jangankan pergi, bangkit dari dudukmu terasa berat saat pundak penuh tanggung jawab. manusia terpenjara pada kehidupannya sendiri. kewajiban yang memenjarakan. pada akhirnya, pekerja maupun pendoa

Pada akhirnya, subuh tak pernah salah, ia hanyalah waktu yang tiba dari malam yang menyisakan kisah melalui embun basah.

 

post-scriptum:
terinspirasi saat melintas di jalan raya bogor pukul selepas sahur.

 

Advertisements

6 thoughts on “Pada Sebuah Subuh

  1. Itulah hidug lee namun aku bersyukur walau kurasa aku jadi robot pekerja namun masih bisa membuat aku dan sekelilingku merasa cukup dan kata cukup itu yang susah..

  2. Melihat orang-orang berkendara pas subuh-subuh menuju kota besar untuk bekerja memang kadang menimbulkan banyak rasa di hati. Dulu saya pas naik kereta dan mencapai Jakarta menjelang subuh, jalanan di seputaran Bekasi sudah ramai dengan pengendara mengarah ibukota padahal itu baru jam setengah lima subuh. Ah, sebenarnya apa sih yang kita cari ya dengan bekerja sekeras itu :hehe. Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk saya sih, tapi kalau saya menjawab “untuk bahagia” maka bahagia seperti apa… pada akhirnya pertanyaan itu tinggal pertanyaan karena saya belum bisa menjawabnya :haha.

    Jadi ngelantur :p.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s