Ibu dan Ponsel Pintar

Lantunan nada sunda dengan volume penuh meriuhkan ruang tamu. Kurang lebih lima belas detik, nada dering pesan masuk itu berbunyi. Suaranya sangat nyaring dan cukup bikin kepala pening. Saya pun menduga, ashabul kahfi akan bangun dengan muka kesal jika mendengar nada itu.

“biar kedengeran” jawabnya. Karena itu, beliau memilih nada dering yang kencang lagi berdurasi panjang. Ponsel ibu saya tipe nokia model lama. Sudah empat tahun beliau menggunakan ponsel itu. sudah empat tahun pula saya memendam kekesalan mendengar nada deringnya. Untuk menekan keypad-nya pun butuh usaha, kadang tekan kursor atas yang terproses malah kursor arah bawah. Dari situ saya berpikir, mungkin diam-diam, ibu melatih kesabaran dari ponselnya sendiri.

Kini ponsel ibu tak hanya nokia dengan nada dering poliponik. Bulan lalu, ibu mendapat turunan ponsel dari ayah. Ponsel pintar bekas ayah ini model baru, Samsung, dengan layar sentuh dan beragam aplikasi selayaknya ponsel pintar anak muda jaman sekarang. Dari ponsel pintar itu, ibu dikenalkan cara menelpon, mengirim sms, dan menggunakan Whatsapp. Adik saya diminta mengajarkan ibu untuk menggunakan ponsel tersebut.

Saya sudah menduga, mengajarkan ibu menggunakan ponsel tipe baru adalah hal yang tidak mudah. Kira-kira sama sulitnya dengan memintanya untuk tidak teriak-teriak saat bertelepon. Tapi, dengan kesabaran adik dan ayah, Ibu berhasil menggunakan Whatsapp, walaupun sampai saat ini masih perlu pendampingan.

Sebelumnya, saya cukup sering mengabarkan keadaan di kos dan perihal kuliah melalui SMS. Ponsel baru dan Whatsapp sedikit membantu jika mengirimkan foto. Tapi intensitas berhubungan saya dan ibu tidak meningkat, biasa saja. Padahal, adanya Whatsapp ini saya sedikit berharap, saya dan ibu bisa lebih dari sekadar memberi kabar, tapi muncul obrolan ringan seperti seorang teman.

Memang sedikit sulit mengharapkan adanya obrolan-obrolan ringan dengan ibu melalui chatting. Pasalnya, tanpa Whatsapp pun saya sudah mafhum dengan ibu bahwa beliau seringkali menjauhkan diri dari ponsel. “kalau butuh ya pake, kalau engga ya ngapain” katanya. Sedang saya terus betah menggenggam ponsel hingga panas. Keadaan ini membuat saya sadar bahwa ibu lebih pintar daripada ponselnya.

Hingga kini, saya dan ibu nyatanya lebih sering menggunakan SMS daripada Whatsapp. Penggunaan Whatsapp pun tak lantas membuat ibu balas pesan yang panjang-panjang. Kebiasaan ibu kalau balas pesan, tak lebih dari tiga kalimat. Kadang saya mengucap syukur kalau beliau membalas lebih dari itu.

Beberapa hari lalu, saya sidang tahap awal skripsi, sehari sebelumnya saya mengirim pesan: “bu, besok aku sidang. Jangan lupa doain, ya..” lantas saya tinggal ponsel saya untuk belajar. Setengah jam setelahnya, saat saya lupa kalau saya mengirim pesan, ibu membalas pesan saya, beliau hanya balas dengan huruf “Y”. sontak saya mengingat-ngingat sambil meyakinkan diri kalau ibu tak pernah punya ponsel tipe Esia.

Barangkali, ibu dan ponsel pintar hanyalah metafor hidup yang mengingatkan saya bahwa ada dunia yang lebih luas dari layar persegi. Ialah layar yang muncul saat saya memberi jarak dengan ponsel. Lagipula, dengan Whatsapp atau tidak, kabar dari ibu selalu membuat saya bahagia, terlebih lagi ketika beliau mengabari uang bulanan saya telah ditransfer.

Advertisements

12 thoughts on “Ibu dan Ponsel Pintar

  1. hehehe… bgitulah ibu2 Apalgi klo lg “kopdar” sm ibu2 pengajian/arisan rt/rw nya…tambah serrruuuuu tuh mas

  2. hehehe… bgitulah ibu2 Apalgi klo lg “kopdar sms” sm ibu2 pengajian/arisan rt/rw nya…tambah serrruuuuu tuh mas

  3. hehehe….bgitulah ibu2, apalagi klo udah “kopdar” sms sama ibu2 pengajian/arisan rt/ rw nya…..tuambahhh serrruuuuu mas….

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s