Tiba di Jalan II

tadi pagi pukul lima, aku terbangun
Tiba-tiba dicium ibu diubun-ubun
Mataku masih sepat
Sebab baru tidur pukul empat

“ibu kerja dulu, nak. Nanti kamu
boleh ke kantor” kata ibu sambil
tertunduk mencium keningku.
“iya bu” jawabku singkat.

Di bawah terik, aku ingin menemui ibu
Kususul dia ke kantornya. Di sana
Aku bertemu Bang Berni,
“ibu kau sedang dinas” sambutnya.
Aku diam, dengkulku lemas.

Kuputuskan kembali pulang
Setiba di persimpangan. Aku tercengang melihat ibu
Menghampiri tiap kendaraan yang datang
Berjalan pincang dan mengulurkan tangan

aku menelisik dari bawah lampu merah
sesekali haru sesekali heran
melihat ibu memelas
di persimpangan jalan

selepas maghrib, aku melengak.
ibu pulang membawa bingkisan
berisi: gitar, kecrekan, dan buku
kiat menjadi orang kaya dalam sebulan.

Advertisements

2 thoughts on “Tiba di Jalan II

  1. Agaknya ini potret apa yang kini banyak terjadi di jalanan-jalanan kota besar, sebuah fenomena yang terkesan tidak mengindahkan martabat tapi… semua adalah unuk kepastian kalau sore nanti masih makan. Hmm… semoga semua yang sedang tertimpa masalah cepat mendapat pemecahannya :amin.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s