Bakso Pak No

Lebaran sepi pekerja hanya berlaku di kota besar, tidak seperti kota-kota jauh dari pusat pemerintahan seperti Purworejo. Di hari pertama lebaran, pedagang dan petani tak kenal pensiun bekerja. Seolah hari lebaran seperti momen jumatan untuk beristirahat sejenak ditambah salam-salaman dengan tetangga. Selebihnya, hari itu sama seperti hari lainnya.

Sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga kami setiap mudik lebaran menikmati sajian kuliner khas dari kampung halaman. Di kampung halaman, hari pertama lebaran tidak langsung salam-salaman pada tetangga. Salam-salaman baru dilakukan pada hari kedua. Oleh karenanya, untuk mengisi waktu, kami putuskan silaturahmi lebih awal di Bakso Pak No.

Potongan kayu pipih yang menjadi pintu belum juga terbuka, rantai serta gembok masih mengikat kencang pada ban gerobak. Saya dan keluaga memutuskan berputar mengelilingi Purworejo sambil menunggu warung bakso buka.

“Pak, baksone limo, sing siji ora nganggo micin”
“nggih, buk”

Baru sempat Pak No menarik nafas, ibu saya memesan. Bakso-bakso tersaji cepat, sebab ia sudah lebih dulu menaruh seledri, bawang goreng, mie kuning, mie putih, dan sedikit micin serta garam. Lantas ketika orang memesan, hanya tinggal menyendok bakso dan kuah panas. Voila.. baru saja duduk, bakso sudah datang.

Pak No dan keluarga kami tidak memiliki ikatan keluarga. Berawal dari Ibu yang mencari Bakso Pak Karno langganan saat beliau SMA, namun takkunjung ketemu. Alhasil, ketemu warung bakso di bawah pohon asem dengan nama yang hampir mirip, bertuliskan “Bakso Pak No “Sorsem”. “Sorsem” sendiri adalah singkatan ngisor asem (di bawah pohon asam).. Dilalah, kok ya pas di lidah rasanya. Telusur demi telusur, antara Pak No dan Pak Karno tak kenal satu sama lain. Dari sini, setiap mudik kami taklupa silaturahmi ke warung bakso Pak No.

Seseorang menurunkan gabah dari gendongannya,
“pak, baksone papat. Mangan kene”
Di belakangnya ada anak serta ibu yang menggendong bayi. Setelahnya, sepasang kekasih mengantri. “pak, baksone kaleh nggih” katanya. Pak No menyela keringatnya.

Setiap berkunjung ke Pak No saya selalu melihat tiga tipe pengunjung, pekerja kasar (petani, dsb), sepasang kekasih, dan keluarga. Mereka tumpek blek di toko berukuran kurang lebih 5×5 meter. Tak heran jika air keringat beradu cepat dengan es batu yang mencair.

saya kerap mempertanyakan, sudah jauh-jauh mudik, kok ya makannya bakso. Pernah anekdot ini saya lempar ke ibu, “loh, kita selama di rumah jarang makan bakso bareng, toh?” es teh manis di depan segera saya seruput. Benar yang dikatakan ibu, saya dan ayah pada hari kerja di Bandung, saya pulang tidak menentu. Hanya pada momen-momen tertentu kami benar-benar makan bersama. di depan bakso dan segelas es teh manis, saya merasa benar-benar menikmati hidup.

Kadang pertanyaan mengenai kehidupan seringkali kita lontarkan, seolah kita sebagai manusia selalu hidup dalam tekanan dan penuh pengorbanan. Padahal, bagi manusia pengorbanan adalah wajib dan tekanan adalah hal wajar.

Pada buku Matinya Seorang Telanjang, Seno Gumira menuliskan, Kita sering bertanya: Apakah kegembiraan hidup? Sebuah pesta? Sebotol bir? Sepotong musik jazz? Semangkok bakso? Sebait puisi? Sebatang rokok? Seorang istri? Ah ya, apakah kebahagiaan hidup? Selembar ijazah? Sebuah rumah? Sebuah mobil? Walkman? Ganja? Orgasme? Pacar? Kamu selalu bertanya bagaimana caranya menikmati hidup.”

Seno seperti meyakinkan saya bahwa manusia adalah serigala yang tak pernah puas. Saat ia baru selesai menelan rusa, ia langsung memburu kijang, bison, atau kerbau. Rasanya ungkapan Plautus, Homo Homini Lupus, sangat relevan hingga akhir zaman nanti. Manusia kerap menikam sesama, berkompetisi mendapat sesuatu, lalu lupa bahwa kebahagiaan akan lebih terasa ketika dinikmati bersama.

Jika kedai kopi kerap digunakan para sastrawan dulu untuk mendapatkan ide, di bawah terpal warung bakso sebuah kebersamaan dapat terlihat. Ibu-ibu yang menyuapi anaknya, sepasang kekasih yang tak saling pandang, petani yang membungkus bakso untuk kembali ke ladang. Manusia yang “kejam” seolah hilang dihadapan bakso Pak No.
“baksone siji maning, pak” Pinta saya.

Dari bawah terpal Pak No, saya melihat manusia seutuhnya, kekufuran, kejahatan, kekhilafan manusia yang terlabuh di atas semangkuk bakso.

Advertisements

5 thoughts on “Bakso Pak No

  1. Marilah sejenak bersikap pragmatis, seperti hidup, sesekali perlu lah tambahin mecin biar gurih. Tak perlulah pertanyakan mengapa.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s