Ibu dan Hak Asasi Manusia

 

AksiKamisan 406
 

Barangkali menjadi berbeda di negeri ini adalah laku hidup paling berani bagi seorang manusia. Pasalnya, kejadian pelanggaran HAM atas nama perbedaan keyakinan kerap terjadi. Pemahaman minim akan nilai sosial dan egoisme sektarian menjadi penyebab utama tingginya kasus-kasus HAM. Masalah ini semakin runyam ketika persoalan HAM hingga kini bukan konsumsi publik. HAM masih menjadi pembicaraan di kelas aktivis, jurnalis, dan mahasiswa idealis. Tidak termasuk ibu saya.

Seminggu sebelum SeHAMA dimulai, beliau bertanya “kamu ikut sekolah HAM buat melawan pemerintah, ya?” Bagi beliau yang sering di rumah dan mendapat berita hanya dari layar kaca mewajarkan pertanyaannya walau cukup membuat jantung saya keluar dari tempatnya. “kamu mau jadi Munir ya? Nanti diculik lho” ibu mulai membobardir saya. Jawaban yang mau keluar dari mulut tetiba tertahan.

Ibu dan saya tidak kenal Munir. Tapi, kami tahu Munir sama-sama dari televisi, terutama saat ia dengan keras menyerang pemerintah Soeharto. Pemahaman kita sama kala itu, Munir adalah orang yang menentang pemerintah. Tapi, ketika orang kurus berkumis itu dibunuh dengan cara yang biadab, ibu dan saya mulai berbeda pandangan. Ibu tetap memandang Munir adalah orang yang mbeler, sedang saya melihatnya sebagai orang jujur yang tak punya saraf takut.

Perbedaan kami akan HAM adalah bentuk kewajaran. Ibu adalah pegawai pemerintahan. Sedang saya seorang mahasiswa. Tentu apa yang kami tangkap tentang HAM berlainan. Pernah satu waktu saya bertanya padanya apa yang beliau ketahui tentang HAM. “HAM itu daging.” Selorohnya singkat.

“kamu jangan nentang-nentang pemerintah lho. Masa orang tuanya kerja di pemerintahan, kamu malah nentang pemerintah” lanjutnya. Saya benar-benar dibuat tak berkutik. Omongan ibu bagi saya adalah segalanya. Kalau ada seribu rencana dan tak satupun disetujui ibu, saya memilih batalkan dan garuk-garuk tembok. Di kacamata beliau, pegiat HAM adalah orang-orang yang skeptis terhadap pemerintah. “kerjanya nuntut pemerintah terus…” tutupnya.

“bu, kan kita sebagai warga negara wajib peduli terhadap negara. Kepedulian kita bisa ditunjukkan dengan memerhatikan segala program yang diberikan pemerintah” pelan-pelan saya coba menjelaskan.

“tapi, mosok nentang pemerintah terus?” jawabnya

“pemerintah kan juga manusia. Pasti ada kesalahan. Nah, kita kan coba benerin kesalahan itu dengan mengingatkan”

Ibu diam. Saya menduga yang ada di benak beliau saat itu adalah anaknya yang coba ikut-ikutan melawan orang tua. Diam-diam saya peluk beliau. “kalau sayang dengan negeri ini kan harus ditunjukkan. Kalau tidak, bagaimana ia tahu kalau kita sayang?”

Ibu adalah potret masyarakat kita. Ketika media informasi hanya diraih dari layar kaca, tak ada kebenaran di luar itu. Saya yakin di hati kecil manusia ada semacam saraf yang tak tega melihat penindasan atas manusia lain. Hanya saja saraf ini ada yang hidup dan ada yang mati. Di sinilah pegiat HAM bekerja, mereka bertugas menyalakan api lilin pada saraf yang mati.

Bahwa hak asasi manusia adalah upaya untuk memanusiakan manusia yang mengingatkan bahwa ada hak-hak yang melekat pada individu. Hak yang tak bisa direbut dan dipaksakan. HAM inilah yang membuat manusia satu dengan manusia lain setara dengan kesempatan yang sama. Lebih jauh lagi, hak asasi manusia inilah yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya.

“jadi, aku boleh ikut SeHAMA, bu?” saya coba merayu.

Suasana hening, keadaan menjadi kaku, waktu seolah berhenti sesaaat. Jantung saya berdesir menunggu jawaban. Duga dan prasangka kembali mengisi ruang kepala. “kamu mau diongkosin berapa?” tungkasnya tersenyum.

Advertisements

8 thoughts on “Ibu dan Hak Asasi Manusia

  1. jika rakyat adalah anak dan pemerintah adalah ibu…. dari cerita di atas keduanya bisa menemukan titik temu dengan cara komunikasi yang pas 😀

  2. Selamat bertugas buat yang mau ikut SeHAMA. Syukurlah sang ibunda sudah mengizinkan. Dengan demikian langkah bisa lebih ringan dan pasti :hehe. Tak apa menjadi pengingat, kalau salah dan keliru kan memang harus diingatkan, justru kalau kita diam dan tidak mengingatkan, itu kesalahan yang besar banget :hehe.

  3. Saya bukan penikmat tv, sebulan belum tentu nonton 1 jam, tp tv memang hanya utk hal2 ‘fun’, kalau ada.
    Ibumu buka ga paham HAM atau miskin info ttg itu, beliau hanya kuatir terjadi sesuatu yg tak diinginkan terhadap putranya.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s