Surat Imajiner: Peluru

credit to original uploader
credit to original uploader

Van, Izinkan aku memulai surat ini dengan kata maaf. Maaf jika surat ini secara tiba-tiba kutujukan padamu. Bukan tak beralasan, melainkan aku bingung harus ke mana lagi surat ini kutujukan. Awalnya, ingin kutujukan langsung kepada Presiden. Tapi, aku sangsi. Melihat surat-surat kamisan yang dikirim pun hanya bisa dititip ke pengawal istana. Selebihnya, tergantung dia, menyerahkan ke presiden atau membakarnya di antara tumpukan sampah. Kau tak perlu kaget, mereka saja berani menculik manusia,  apalagi membakar surat tuntutan?

Aku dan kawan-kawan yang diculik tidak tahu keberadaan kami di mana. tapi, yang jelas tempat ini indah. Mungkin lebih indah dari Raja Ampat atau Derawan. Iya, lokasi wisata lokal yang kepalang brengsek mahalnya. Aku mendengar berita kamisan langsung dari teman-teman. Kamisan selalu menjadi perbincangan hangat di surga. Kadang Aku juga heran apa sulitnya Presiden menengok keluar pagar istana barang lima hingga sepuluh menit untuk berdialog dengan mereka? Eh, presidenmu yang senang blusukan itu bukan? semoga Aku tak salah dengar. Sebab, kabarnya ia juga menyukai salah satu puisiku.

Adikku dalam doanya juga melaporkan kalau puisiku dibacakan oleh walikota terbaik ketiga di dunia. Kau belum tau? Ini kutulis ulang untukmu.

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Puisi itu kutulis di Solo, barangkali itu yang membuat Presidenmu sekarang senang dengan puisiku. Tapi, aku tidak menulis puisi untuk disukai. Melalui puisi aku berpesan. Sebab, pada zamanku jurnalisme dibungkam dan sastralah yang harus berbicara. Kau tahu bukan Seno Gumira? Sastrawan yang menggambarkan secara tragis sepotong kisah 98 melalui cerpennya berjudul Clara. Kawanku sempat membawakannya padaku. Ia dalam salah satu bukunya menuliskan, menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Karena itulah aku menulis puisi. Puisi menjadi caraku untuk menunjukkan rasa sayang pada negeri ini. Justru ada yang aneh ketika rasa sayang ini dilihat sebagai ancaman. Aku semakin heran ketika mereka menyukai puisiku tanpa memaknainya. Rasanya ia tak lebih dari murid yang belajar hanya untuk kelulusan.

Kabarnya kau baru selesai mengikuti sekolah HAM? Bagaimana sekolah tersebut? Lembaga itu yang membantu mencarikan di mana diriku. Sebelum berada di tempat indah ini, Sebetulnya aku tahu di mana aku berada, hanya pita suaraku diputus oleh keadaan, dibungkam oleh zaman, hingga aku dibuat bisu secara perlahan. Kau tak perlu membayangkannya, seekor semut pun kembali ke masuk ke lubang melihat aku dan kawan-kawan diperlakukan. Ucapkan salam dan terima kasih kepada mereka.

Omong-omong, kau menyukai karya-karya Pram? Aku sering bertemunya di persimpangan. Ia selalu membawa mesin tik dari Sartre yang tak sempat ia gunakan waktu di Buru dulu. Kabarnya ia sedang menulis tetralogi baru, entah tentang kedegilan setan entah tentang kuasa Tuhan. tapi, aku belum sempat berbicara tatap muka dengannya. Pram memang begitu, selalu misterius dihadapan orang banyak seolah di kepalanya tersimpan isi negeri ini. kalau bertemu kembali akan aku sampaikan salammu padanya.

Van, barangkali ini sebuah kebetulan, aku tulis surat ini di hari ulang tahunku. Tenang, kau tak perlu siapkan kue maupun kejutan. aku hanya ingin kau dan teman-temanmu sadar tentang sebuah gerakan. aku berpikir tentang sebuah gerakan/ tapi mana mungkin aku nuntut sendirian?// aku bukan orang suci yang bisa hidup dari sekepal nasi dan air sekendi/ aku butuh celana dan baju untuk menutup kemaluanku// aku berpikir tentang gerakan/ tapi mana mungkin/ kalau diam?/

Kau tentu bimbang. ketika ditempatkan di persimpangan dan kau harus memilih antara menjadi seorang idealis atau realis. Sebagai makhluk hidup yang butuh logika dan logistik itu hal wajar. Aku pernah dalam kondisi seperti itu.

aku nganggur lagi/ semalam ibu tidur di kursi/ jam dua lebih aku menulis puisi/ aku duduk menghadap meja/ ibu kelap-kelip matanya ngitung utang// jam enam sore: bapak pulang kerja/ setelah makan sepiring/ lalu mandi tanpa sabun// tadi siang ibu tanya padaku: kapan ada uang?// jam setengah tujuh malam/ aku berangkat latihan teater/ apakah seni bisa memperbaiki hidup?

tapi yang jelas kau tak bisa memilih salah satu dari mereka.  Seperti Tan Malaka bilang, idealisme adalah harta paling berharga dari seorang pemuda.  Kau harus penuhi dirimu dan sadar akan keberadaan orang lain. Kau harus ingat, ilmu tidak akan berarti tanpa dibagi. Begitupun kebaikan, ia hanya akan mengendap dan basi dalam pikiran jika tidak disebarkan.

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam. mulut bisa dibungkam, namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku. suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan. apabila engkau memaksa diam, siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu. ia ingin bicara mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan? sesungguhnya suara itu akan menjadi kata. ialah yang mengajari aku bertanya dan pada  khirnya tidak bisa tidak. engkau harus menjawabnya. apabila engkau tetap bertahanaku akan memburumu seperti kutukan.

Jika kau telah baca surat ini, jangan lantas kau balas. Aku berharap kau balas surat ini ketika kau bisa pastikan padaku sudah tidak ada lagi yang bernasib sepertiku, sudah tidak ada lagi bapak atau ibu yang berdiri di Kamisan, sudah tidak ada lagi kekerasan militer pada rakyat sipil, dan sudah tidak ada lagi kekerasan terhadap manusia atas nama agama. apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu. Kau tidak sendiri, sampaikan surat ini pada kawan-kawan. Kalau kau tak lupa, Aku juga tidak akan lupa menitipkan salammu pada Pram.

Tertanda,

Wiji Thukul

*hari ini adalah ulang tahun Wiji Thukul, tulisan ini didedikasikan untuknya dengan memasukkan beberapa potong puisi karyanya

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s