Sebuah Pengantar

11363725_854007611382108_1660097357_n

Di satu kesempatan, saya menghadiri kelas filsafat yang diajar oleh Romo Hari, seorang Pastur di Katedral. Beliau saat itu mengajar tentang kebebasan beragama dan beberapa kali menyinggung tentang budaya Indonesia. ada yang menarik bagi saya ketika ia menyebutkan, “kita tak perlu mengubah budaya suatu suku. Inilah kebiasaan buruk kita, memandang budaya lain dengan kaca mata lingkungan kita untuk menilai sesuatu yang lain. Padahal memang begitulah adanya. Jika mereka butuh perubahan, biarkanlah perubahan itu tumbuh dari sana, kita sebagai fasilitator.”

Pernyataan Romo jelas saya garisbawahi dan cetak tebal, inilah potret orang-orang kita yang menganggap norma dan nilai yang kita anut dapat diterapkan di seluruh budaya. Sebagai contoh, memaksakan orang papua pedalaman menggunakan baju atau memaksa mereka makan nasi. Tentu hal itu kita rasa baik karena berdasar pada norma dan nilai yang berlaku pada masyarakat kita, tetapi tidak begitu di Papua. lalu, apa itu kita anggap sebagai keburukan?

Romo Hari menjawab “kebaikan itu milik semua orang. Di kondisi yang beragam suku dan budaya ini, tidak ada standar khusus mengenai kebaikan” lantas ia tersenyum, seolah saya seperti anak SD yang tidak mengerti apa-apa dan tiba-tiba mendapat pencerahan.

Persoalan melihat sesuatu dari kaca mata kita dan menganggap norma yang kita anut paling sempurna adalah masalah yang pelik. Ini tak hanya terjadi di budaya, tetapi juga pendidikan. Pendidikan pada dasarnya adalah memupuk pikiran murid, bukan menanam pikiran guru. Tentu, untuk memupuk pikiran itu guru wajib memiliki bekal pengetahuan dan wawasan yang luas. Jika tidak, maka yang terjadi ialah menanam pikiran guru. Yang kita tahu, kebenaran pikiran guru itu sangatlah subjektif. Kita tak memberi kesempatan mereka berpikir dan seolah memaksa mereka untuk mengerti dan laksanakan apa yang kita juga pikirkan. Saya menyebutnya sebagai pendidikan dan budaya yang otoriter.

Pendidikan yang otoriter pernah dilaksanakan China untuk menciptakan orang-orang yang patuh, menjadi pekerja yang nurut, dan kontrol sosial. model ini dikritik keras oleh pemerhati pendidikan dari negeri panda dalam bukunya, Who’s Afraid of The Big Bad Dragon? Karya Yong Zhao. Jika melihat skor PISA, China memiliki skor tertinggi. Tapi, menurut Zhao pendidikan di China tidak perlu dijiplak sebab hanya menghasilkan orang-orang yang patuh dan ditujukan untuk kontrol sosial. Dengan kata lain, pendidikan dianggap sebagai industri. Jika dipandang sebagai industri, murid-murid yang kalian ajar hanya menghasilkan satu cetakan. Ini semakin buruk jika cetakannya berasal dari mesin tua yang bobrok.  Mengutip pernyataan Iwan Pranoto, Pendidikan sebagai industri produk tentu mengangankan lulusannya berkecakapan sama, andal, dan patuh, agar dapat diterima sebagai pekerja. Tapi, ini cara pandang yang salah. Pendidikan seharusnya menghasilkan haruslah berkemampuan optimum yang sesuai dengan talenta masing-masing anak.

Untuk melihat talenta masing-masing anak, tentu dibutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar. Proses adalah kewajaran, namun sebagai pengajar adalah kewajiban untuk membuka peluang, memberikan wawasan, serta pengetahuan umum kepada anak-anak agar mereka dapat kenal dengan banyak pilihan/peluang. seorang pengajar harus menjadi perpustakaan yang memberikan pilihan buku bacaan yang baik bagi anak-anak.  Jika dianalogikan lebih jauh, pengajar bertugas untuk membangun sebuah dapur beserta bumbu dan fasilitas memasak dan membimbing cara memasak, tetapi murid harus memasaknya sendiri. sebab, sebaik-baiknya pendidikan ialah tidak memaksakan, tetapi memberi bimbingan.

Selamat bertanggung jawab, kawan-kawan!

6 thoughts on “Sebuah Pengantar

  1. Dulu pernah lihat pamflet tentang promosi sebuah kurikulum baru. Di pamflet itu, diibaratkan kurikulum sebelumnya memberikan ikan kepada anak didik, sedangkan di kurikulum baru penggambarannya adalah memberi pancing kepada anak didik itu. Saya kurang tahu apa pendidikan kita sekarang sudah mencapai tujuan sebagaimana di pamflet itu tapi semoga saja demikian :hehe.

    Saya setuju dengan pendapat Romo itu soal bagaimana budaya memang diciptakan berbeda-beda dan tidak sepantasnya kita memaksakan nilai budaya kita untuk diterima di budaya yang lain hanya dengan alasan bahwa kita menilai nilai itu “baik”. Bukankah kebaikan itu pada akhirnya bersifat relatif?

  2. seorang filsuf, entahlah apa di dalam Islam masih harus menyebut filsuf.
    karena dalam keseharian aturan norma agama Islam budaya tidak dimenangkan ketika dia tidak sejalan dengan kaedah agama, maka orang papua yang belum pakai baju harus diselamatkan bukan karena apa-apa, tapi karena syariat menggariska batas aurat, itu jika mereka menjadi muslim.
    tapi pola pikir yang menjunjung tinggi budaya dan berlabel filsuf, membiarkan ketelanjangn karena menyelamatkan budaya setempat. memang tidak akan pernah sejalan filsafat dengan ajaran Islam kecuali yang sudah tunduk patuh menjadi hamba bukan yang bangga dengan otaknya.

    1. mungkin lebih sederhana begini, mas.
      kita tidak ujug2 mengubah suatu budaya, tapi biarkan mereka maju berdasarkan alur budayanya. di saat itu, kita ada untuk memfasilitasi gerak budaya tersebut.

      contoh sederhana lain adalah baduy dalam, beberapa-walaupun tak semua-sudah mau keluar dari budaya yang tertutup, memakai kompor gas, bekerja di luar, menggunakan ponsel. itu lahir atas kesadaran mereka, bukan memaksa mereka berubah

      1. la ikroha fiddin… tidak ada paksaan dalam mengikti agama, tapi pengajran akan norma-norma wajib disampaikan tentu saja dengan bil hikmah… bukan lantas penegakannya denga otoriter… sejarah terbentuknya budaya yang unggul adalah kombinasi yang penegakan norma dengan sanksinya dan kelembutan pendidikan

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s