Di Balik Pohon, Di Tepi Lapang

“rindu” aku menyalakan rokok yang sedari tadi dihimpit sela-sela jari. “tak akan lahir tanpa perpisahan. Jauh sebelumnya, kita dihadapkan dengan kenyataan yang sebetulnya biasa saja, perjumpaan”

Ia kikuk, lantas menjerang air panas ke dalam cangkir yang telah berisikan kopi. Seperti ada sesuatu yang menyodok di pangkal tenggorok. Manusia kerap dipertemukan dengan keadaan dilematis antara menerima kenyataan atau menyembunyikannya diam-diam.

“apa kita harus berdamai dengan kenyataan?” pelan-pelan kau menyatukan bibir cangkir dengan bibirmu

Agaknya, kita semua pernah merasa kikuk pada sebuah kejadian. seolah ada dialektika dalam pikiran yang memaksa kita berpikir, apakah sesuatu terjadi karena takdir atau kebetulan? Seolah kepala ditubruki pertanyaan yang semestinya tak begitu penting untuk dipikirkan bahkan direnungkan. Tapi, sebagaimana pertanyaan, ia butuh jawaban. Terlebih, jika yang hati terlibat, ia butuh kepastian.

Kita semua pernah dihadapkan dalam dua pilihan yang memusingkan, antara mengungkapkan kejujuran atau berdiam dalam kepura-puraan. Keduanya akan mempertemukanmu dengan kenyataan, pahit ataupun tidak. Kau akan pahami bahwa pertemuan adalah keniscayaan.

“lantas, mengapa setiap orang harus dipertemukan?” katamu gugup. Seolah kau merencanakan sesuatu yang harus dilakukan ketika jawaban tak sesuai dengan harapan. Pertemuan bukanlah kecelakaan, ia tak lahir tiba-tiba seperti Isa, Putra Maryam. Ia hadir karena harapan. “barangkali, karena setiap orang memiliki harapan. Pertemuan itu adalah jawaban.” Jawabku singkat.

Kau tiup-tiupi kopi yang sebetulnya sudah tidak panas akibat angin sore menyisir isi lapangan.

“jika garis hidup bisa kita tentukan, mungkin mustahil bagi kita untuk belajar dari tiap kejadian. Atau jika hidup adalah pilihan, barangkali kita akan pilih mati daripada menerima kenyataan” Rokok kedua kunyalakan. Sore hampir rubuh, anak-anak bersiap pulang, lapangan mulai lengang. “seperti halnya perjumpaan?” tanyamu memastikan.

“perjumpaan ialah pelajaran. Dari perjumpaan kau akan dikenalkan perpisahan.” Jawabku malas.

Barangkali kita jengah tentang kehidupan yang ternyata penuh klise. Tapi, saat Pram menceritakan Minke bertemu Annelies, ia tidak pernah menuliskan mengapa mereka harus dipertemukan. Sebab, kebersamaan akan menemukan jalannya sendiri. “memang fiksi. Tapi, kisah Annelies dan Pram adalah kisah terbaik sekaligus miris yang pernah kutahu. Ia adalah potret mengapa orang satu dengan yang lain dipertemukan….”

“maksudmu?” tanyamu bingung sambil memandang heran ke arahku.

“…perpisahan mereka amat tragis. Ya, mungkin pertemuan diciptakan agar kita bisa belajar juga perihal perpisahan.”

Di balik pohon rimbun, sore semakin syahdu. Kopimu sudah kadung dingin. Tidak diminum sayang, diminum enggan. Kita berbincang dalam diam.

Sebab, di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk terus berbicara, lantas diam adalah pilihan. Kita tidak tahu mesti bagaimana persisnya rangkaian kata dimaknai, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di lapang luas, pada saat seperti ini, hanya ada anak yang pulang dan tinggal, mendung, atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki.

Sisa kopi yang menggenang dalam gelas kau buang.

“apakah kau jera dengan perjumpaan?”

Cangkir kopi yang sudah tandas kau putar-putar. Tingkah-tingkah aneh mulai kau lakukan demi mengelabui pertanyaan. “tak perlu kau jawab” lanjutku santai.

Kita berusaha bersahabat dengan kenyataan. Perihal ungkapan yang perlu dikelabui untuk menemukan waktu yang tepat. “kau tak bisa terus diam membiarkan rasamu tertahan. Ia hanya akan menghasilkan sesal kemudian,” tungkasku pelan

Aku tahu, sulit mengungkapkan sesuatu di waktu yang tidak direncanakan. Seperti berak yang tiba-tiba keluar di waktu yang tidak tepat. Ada malu, tapi juga lega yang seiring kau dapat.

“Sepertinya aku tertarik dengan Annelies. Buku apa itu?” katamu tiba-tiba. “Tetralogi Pulau Buru,” kau tak lagi melihat ke arahku

“dasar Pramis” selorohmu buru-buru.

“Kau tahu Hari dan Hara?” tanyamu seolah ingin menguasai percakapan. “pada pertemuan begini mesra, tugas kita hanya mengalami, tanpa berkata-kata,dan membiarkan air liur mengaliri kulit ari….”

“Subagio Sastrowardoyo!” kataku.

“kita tinggal mengalami, tapi tanpa bergumam, tanpa mencatat kejadian sehari, bahkan tanpa mengulum dendang sajak, hanya mengalami.” Lanjutmu menunduk. “kau hafal?”

“sedikit. aku selalu heran dengan karyanya. Seolah ada dunia yang ia miliki sendiri dan hanya ia yang bisa menanggapi pergolakannya sendiri.” aku menyalakan sebatang rokok terakhir

Tapi, dari Subagio mungkin kita bisa belajar bagaimana ia berdamai dengan sepi, rindu, haru, dan mengambil inti dari kejadian.” Rokok kuhisap.

“sepertinya aku sudah terlalu serius, mari pulang.”

Asap kuhembuskan ke awan.

3 thoughts on “Di Balik Pohon, Di Tepi Lapang

  1. Doh obrolannya berat Mas :hehe. Tapi iya juga ya, setiap pertemuan pasti akan melibatkan perpisahan, cuma waktunya saja yang kita belum tahu kapan. Saya suka dengan selipan kutipan-kutipan dari karya besar sastrawan Indonesia di sini, baik dari sajak maupun dari novel, soalnya membuat saya penasaran untuk membacanya :hehe. Keep writing!

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s