Sepotong Fragmen di Jatinangor

Processed with VSCOcam with se3 preset

Jatinangor, bagi saya, serupa seblak. Di dalamnya kau bisa temukan manis dan sesekali pedas. Pedasnya mungkin tidak seberapa, kadang bisa membuatmu berkeringat dan sedikit menyesal. Namun, selalu ada alasan untuk tetap kembali. Ia adalah magnet yang seringkali menjelma jadi dosen bebal, tugas yang terlampau rumit, lelucon receh, atau tawa riang teman kosan. Sebuah rasa yang mungkin sulit kita akui, tapi rasa yang memberikan kelegaan, kenikmatan-kadang pahit-yang sulit saya temukan di manapun.

Mungkin, klise, tetapi saat kau bisa menjadi dirimu seutuhnya dihadapan teman tanpa tekanan, itu lebih baik daripada persahabatan. Di Jatinangor, saya menemukan kumpulan manusia itu. Mereka yang mampu melihatmu sebagai manusia yang memiliki keunikan. Ya, keunikan yang bisa dijadikan bahan ejekan. Saya tak pernah percaya kata ‘sahabat’, ia tak lebih dari sekadar kepentingan. Saya hanya percaya bahwa ada kumpulan manusia yang mampu membuatmu menjadi sebagaimana manusia.

Di lain hal, daerah yang kita diami lama dapat kita sebut sebagai rumah. Sebagaimana rumah, ia selayaknya memberikan kenyamanan, kegelisahan. Perihal menyusun mimpi, merapikan atau mengurungkan niat, juga mengkhawatiran masa depan. Tentu ada hal sepele lain yang membuat geli dari Jatinangor, seperti kehilangan empat pasang sepatu, angin kencang yang kepalang brengsek, bahkan menemukan celana dalam orang lain dalam tumpukkan laundry.

Pernah kau sesekali menikmati sore dan menyantap makanan di Gerlam? Entah tempat ini sudah berapa kali saya pilih untuk melabuhkan rasa lapar. Gerbang lama barangkali satu-satunya surga kuliner di Jatinangor. Tempat di mana kau bisa mafhum seberapa dekil tangan pedagang, tapi tetap kau santap sajian makanannya. Dari sana pula kau bisa merasakan bahwa semua senja menyimpan lelah. Dari melihat lesunya mahasiswa pulang kuliah, parade angkot yang mengetem, hingga mendengar klakson tronton yang bising.

Saya tidak lahir dan besar di Jatinangor. Tapi, mahasiswa yang sudah sekian tahun kuliah dan tinggal di sini membuat saya sedikit paham bagaimana kecamatan ini tumbuh. Jatinangor membukakan mata saya tentang kota penuh ironi. Sekitar empat universitas berdiri mentereng, Jatinangor menyandang kawasan pendidikan. Di sisi lain, murid sekolah dasar takut bercita-cita dan mayoritas mahasiswa yang bersekolah ialah pendatang. Ah, mengenai ini saya tak ingin bahas.

Ada sekian alasan lain yang membuat saya jatuh hati pada daerah ini. Seperti matahari yang bisa kau lihat dari jendela kamar, lantas menyapamu pagi-pagi betul ketika kau baru saja memejamkan mata atau tentang senja yang bisa kau lihat dari sawah lapang disertai burung gereja yang hendak kembali ke sarang. Hanya di Jatinangor, senja tak mengunci pintu. Ya, sesuatu yang mendekatkan kita pada kenikmatan alam akan terekam baik dalam pikiran.

Di pinggiran kota ini kau mungkin akan sadar bahwa uang tak mampu mengganti kebersamaan. Restoran cepat saji modern tak lebih baik daripada warung makan dengan harga mahasiswa. Jika para petinggi negeri Perancis membicarakan ide-ide mereka di depan secangkir kopi, kami bisa mengutarakan ide hingga berulang tawa dengan lelucon receh di depan sepiring indomie goreng, semangkuk soto, juga ayam balado.

Menuliskan kisah tentang kota yang kau diami lama tidaklah mudah, apalagi kau sadar tak lama lagi akan meninggalkan kota ini. Dan dalam waktu yang tidak menentu, kau tak tahu kapan akan kembali. Jatinangor memaksa kita menciptakan momen dan kenangan bersamaan. Tentang kebiasaan-kebiasan yang biasa kita lakukan lantas suatu pagi kau bangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini sudah bukan lagi milikmu. Nyatanya, Kenangan melahirkan keresahan, kerapuhan, dan peraasaan sentimentil yang secara tak sadar meneteskan air matamu. Seolah, tidak ada hal lain selain tangis yang mampu membuatmu tegak. Agaknya berat bagi saya mengakui, tapi jujur terhadap diri sendiri adalah laku mulia bagi manusia. Jatinangor adalah tempat di mana saya jatuh cinta secara tidak biasa pada sebuah kota.

6 thoughts on “Sepotong Fragmen di Jatinangor

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s