Papua, Petani Berdasi, dan Pekerja Sosial

lipsus.kompas.com
lipsus.kompas.com

Kita tak pernah memiliki
Rumah yang kita diami semusim
telah dituntut kembali
Dan tanah yang kita pijak
makin larut dalam pasang laut
Sedang kesetiaan yang dijanjikan kekasih
berhenti pada kianat
Dan nyawa ini sendiri
terancam setiap saat

sebait sajak di atas ialah milik Subagio Sastrowardoyo. Seorang kawan dari Papua, Ricky, pernah bercerita pulau ujung timur itu, tentang keindahannya, tentang kondisi sosial, dan tentang nyawa murah. Barangkali, Subagio tidak melihat Papua saat membuat sajak itu tapi kuyakin puisi itu hadir karena alasan yang sama. Karena ada yang terancam di tanahnya sendiri.

sedang beberapa menganggap Papua adalah kopi dan tujuan wisata. ia adalah pintu surga yang sekonyong-konyong lepas lantas jatuh di negeri ini menjelma jadi pulau dengan bentuk seperti tangan mencengkeram. Dari ketinggian 1800 mdpl, kopi terbaik diracik, Papua Wamena. Kopi terbaik yang pernah saya minum. setidaknya, jika kopi itu diberikan pada malaikat, mereka akan lupa menutup pintu surga. Papua adalah bukti bahwa surga tak hanya satu pintu. Kau bisa masuk lewat Papua.

Belum lagi soal keindahan alamnya, sebut saja Raja Ampat, lokasi yang kerap menjadi jualan para agen travel lokal dengan mematok harga yang kepalang brengsek mahalnya. Tentu ini adalah konsekuensi saya, warga kota yang demam akan keindahan alam dan hasrat menggebu-gebu untuk berbagi harus merogoh kocek lebih besar. Papua sudah masuk dalam daftar wajib tujuan wisata selama saya masih hidup.

Barangkali memuja Papua dengan melihat keindahannya, kesejukkanya, dan kenikmatan kopinya saja membuat kita luput akan pelanggaran-pelanggaran terhadap manusia yang terjadi di sana. Karena seorang kawan, tengkorak otak saya tiba-tiba dibuka dan disisakan sebuah ruang untuk berpikir tentang ada apa dibalik alam Papua. Bahwa ada hal lain yang nyatanya harus dilihat dari Papua, misal pelanggaran HAM dan pembuatan sejuta hektar sawah yang nyatanya meresahkan.

Ricky adalah salah seorang teman Sekolah HAM yang saya ikuti. Mungkin dari sekian teman baru yang saya kenal, hanya dia yang paling unik. Sebab, ia menginginkan Papua bisa melakukan referendum. Saat ia menggebu-gebu berteriak referendum, sebaliknya saya membayangkan isu tersebut adalah harapan yang sia-sia.

Papua adalah lumbung dari segala lumbung. Ia memiliki emas yang mungkin baru akan habis jika kiamat terjadi. Kontrak negeri ini dengan penambang pun baru akan berakhir puluhan tahun lagi. Sedangkan mereka yang coba mengadvokasi mengenai pemutusan kontrak dianggap sebagai melawan negara.

Ketika terpilih menjadi presiden, Jokowi mendapat suara yang besar di Papua. artinya, warga di sana menaruh harapan besar bagi daerahnya untuk kemajuan, minimal, mendapatkan kesempatan yang sama selayaknya di Jakarta. Tak mungkin rasanya sebuah daerah mampu benar-benar menjauh dari kemajuan zaman. Baduy Dalam pun sulit membendung teknologi yang kian terdepan. Ini menjadi PR bagi negara untuk tidak memaksakan sebuah daerah sama persis dengan daerah lain. Seperti halnya, membuat sawah berjuta hektar di Papua. Pengerukan tanah untuk persawahan sama saja memaksa orang Papua untuk menelan nasi. Padahal, tanpa beras, warga papua terbiasa makan sagu dan itu tak membuat mereka mengeluh tidak makan nasi seperti apa yang terjadi di daerah lain.

Jika melihat film dokumenter The Mahuze’s karya Dandhy Laksono, kamu bisa melihat bagaimana pengembang dengan tega melepas-pasang patok untuk mengelabui warga, juga keinginan pemerintah membangun Papua sebagai lumbung padi, dan membuka lowongan bagi petani berdasi. Iklan lowongan ini ditujukan ke semua jurusan di bawah 35 tahun di mana setiap orang dapat mengelola 5-10 hektar. Sungguh angka yang fantastis ketika sadar bahwa sawah konvensional digarap 3-5 orang per hektarnya.

Hal ini mengingatkan saya pada kondisi Pasar Santa kala itu, Pedagang-pedagang lama yang telah berjualan di Pasar Santa, sebelum menjadi pasar yang ramai akan roda empat, terancam tidak dapat melanjutkan usahanya karena harga sewa/jual kios yang terlampau tinggi.

Jika saya mengacu pada apa yang diucapkan Marx dalam bukunya Capital I,
“’Improvements’ of towns, accompanying the increase of wealth, by the demolition of badly built quarters, the erection of palaces for banks, warehouses, etc., the widening of streets for business traffic, for the carriages of luxury, and for the introduction of tramways, etc., drive away the poor into even worse and more crowded hiding places”

saya tidak akan membawa isu ini ke dalam isu marxisme atau kapitalisme. Saya sendiri percaya sebagai sebuah negara, dalam satu titik, semua idealisme menyatu tanpa kita sadari. Tapi, inilah gambaran yang sempat terjadi di Pasar Santa dan Papua kini. Dengan dalih memperbaiki kelayakan hidup atau kondisi masyarakat, pemerintah melalukan penilaian tentang apa yang baik dari kacamata ibukota.

Di kesempatan lain, saya menghadiri kelas filsafat yang diajar oleh Romo Hari, seorang Pastur di Katedral. Beliau saat itu mengajar tentang kebebasan beragama dan beberapa kali menyinggung tentang budaya Indonesia. ada yang menarik bagi saya ketika ia menyebutkan, “kita tak perlu mengubah budaya suatu suku. Inilah kebiasaan buruk kita, memandang budaya lain dengan kaca mata lingkungan kita untuk menilai sesuatu yang lain. Padahal memang begitulah adanya. Jika mereka butuh perubahan, biarkanlah perubahan itu tumbuh dari sana, kita sebagai fasilitator.”

Pernyataan Romo jelas saya garisbawahi dan cetak tebal, inilah potret orang-orang kita yang menganggap norma dan nilai yang kita anut dapat diterapkan di seluruh budaya. Sebagai contoh, memaksakan orang papua pedalaman menggunakan baju atau memaksa mereka makan nasi. Tentu hal itu kita rasa baik karena berdasar pada norma dan nilai yang berlaku pada masyarakat kita, tetapi tidak begitu di Papua. lalu, apa itu kita anggap sebagai keburukan?
Romo Hari menjawab “kebaikan itu milik semua orang. Di kondisi yang beragam suku dan budaya ini, tidak ada standar khusus mengenai kebaikan” lantas ia tersenyum, seolah saya seperti anak SD yang tidak mengerti apa-apa dan tiba-tiba mendapat pencerahan.

Negara sepertinya terburu-buru untuk melakukan perubahan tanpa melihat adanya kebudayaan lokal atau potensi lokal yang sesungguhnya bisa membantu dalam perubahan itu sendiri. pada mata kuliah Indigeneous Social Work, saya belajar mengenai konsep masyarakat pribumi yang kaya budaya.

Budaya kerap dilekatkan dengan persukuan, padahal perluasan konsep budaya melampaui kesukuan. Ia menekankan pentingnya interaksi lintas batas kelompok. Berkaitan dengan bagaimana budaya mempengaruhi relasi lintas budaya antar kelompok dan interpersonal. Budaya sebagai cetak biru bagi tindakan atau ‘peta kognitif’. Artinya, sebuah kelompok dengan budaya tertentu sudah “siap” untuk dapat berubah suatu saat nanti sesuai dengan zaman. Hal ini terjadi karena kebudayaan memang ada sebagai suatu yang transaksional dan dinamis.

Pelayanan Sosial Berbasis Masyarakat
Masalah ini ibarat kumpulan orang dalam sebuah rapat. Dengan pengalaman dan pandangan yang berbeda, pada sebuah rapat kita akan menentukan satu keputusan. Tentu akan sulit menemukan satu keputusan dengan isi kepala yang berbeda. Tapi, idealnya sebuah keputusan ada tanpa paksaan dan atas dasar persetujuan semua.

Seharusnya, ini juga yang mesti diterapkan negara. Ia tidak bisa memaksa mengubah suatu kebudayaan dengan dalih untuk kemajuan negara. Justru hal ini akan menciptakan gegar budaya. Untuk menghindari hal ini, dalam buku Social Work: an Empowering Profession karya Brenda Dubois dan Karla Miley menyebutkan tentang pelayanan sosial berbasis masyarakat. Pada konteks pekerjaan sosial, masalah budaya masuk ke dalam ranah makro (masyarakat).

Hakikat dari pendekatan layanan berbasis masyarakat adalah bahwa masyarakat harus bertanggung jawab bukan hanya untuk memberikan layanan-layanan, tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan, merencanakan layanan, menetapkan prioritas dalam lingkup dan diantara layanan-layanan yang ‘bersaing’, dan memantau serta mengevaluasinya. Dengan kata lain, benar apa yang diucapkan Romo Hari bahwa kita sebagai fasilitator dan masyarakat mampu membangun kebutuhannya sendiri. pada titik ini, sebuah masyarakat akan bertanggung jawab pada apa yang mereka inginkan.
Pelayanan berbasis masyarakat ini akan menyentuh dan menghargai beragam aspek, seperti pengetahuan lokal, kebudayaan lokal, sumber daya lokal, keterampilan lokal, dan yang paling penting proses lokal.

Sumberdaya yang dimiliki oleh masyarakat lokal merupakan salah satu sumber yang dapat membuat program pengembangan masyarakat yang sustainable. Keberlanjutan program pengembangan masyarakat ini terjadi karena dengan keswadayaan akan mengurangi ketergantungan kepada sumber-sumber yang berasal dari luar. Juga, Proses-proses yang digunakan dalam pengembangan masyarakat tidak perlu diimport dari luar, karena mungkin terdapat proses-proses masyarakat lokal yang dimengerti dan diterima dengan baik oleh masyarakat lokal.

Di saat hutan-hutan dibabat, sawah terus dibuat, nyawa terus disayat, jika kepedulian kita terlambat, seolah kita memaknai kembali sajak Juga Waktu – Subagio Sastrowardoyo.

Tak ada yang kita punya

Yang kita bisa hanya
membekaskan telapak kaki,
dalam, sangat dalam,
ke pasir,
Lalu cepat lari sebelum
semuanya berakhir

Semuanya luput

Juga waktu

Memahami proses bukan dengan penekanan. Sebagaimana proses ia butuh waktu.

Advertisements

3 thoughts on “Papua, Petani Berdasi, dan Pekerja Sosial

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s