Dewa Dari Kebun Kopi

Hampir saja kami menyerah mengunjungi kebun kopi di tanah Gunung Cijambu, Sumedang. Kondisi jalan berbatu dan berlubang sekaligus menanjak mempersulit perjalanan. Terlebih lagi, semakin ke atas, jalan yang dilewati berpasir. Akibatnya, beberapa kali motor hanya menggerung di tempat daripada melaju.

Suara knalpot cempreng tetiba terdengar dari kejauhan menuju ke arah kami. “ayo, sebentar lagi sampai kebunnya” kata pria dari atas motor trail. Motor trail ini bukanlah sungguhan, melainkan alihfungsi dari motor bebek. Tujuanya, memudahkan menempuh jalan yang jeleknya tidak karuan.

Ia sengaja menuruni gunung untuk menjemput kami. Selang beberapa detik, ia kembali menyalakan mesin dan melaju dengan percaya diri lantas meninggalkan kami di belakang. di sisi lain, kami  dengan hati-hati melaju sambil memilah-milah jalan. Perjalanan berhenti ketika kami melihat ada gubuk yang berdiri sendiri di tengah hutan.

dua

Berdiri di samping motornya, ia menunggu kami datang. Sambil menyalakan Gudang Garam, mata lelaki itu memandang ke arah kami, lantas tersenyum dan menyuruh kami beristirahat sejenak. “ya, beginilah kehidupan Kang Dewa, seharian di hutan” katanya setelah menjerang air panas di atas tumpukan kayu bakar.

Sudah puluhan tahun Kang Dewa menjadi petani kopi di Dusun Genteng, Sukasari, Sumedang. Pria berkumis berusia kisaran 30an tahun ini menjadi pengunjung bahkan penghuni setia hutan. Di gubuk kayu selebar dua kali luas meja pingpong, ia seringkali menginap jika kerja terlampau sore.

“ini hutan, bagi kang dewa teh udah kayak kantor dan rumah.” Katanya sembari menaruh peralatan makan dan bubuk kopi di depan kami. “hutanku, istanaku, gitulah..” lanjutnya sambil menyeduh kopi.

selayaknya masyarakat pedesaan, sebagian besar warganya hidup dari pertanian. sejak kakeknya, menjadi petani sudah mata pencaharian keluarga. Kang Dewa sendiri sudah generasi ketiga yang melanjutkan pekerjaan leluhurnya menjadi petani kopi. Dengan luas tanah sepuluh hektar dan diurusnya sendiri tak heran ia sampai menginap di hutan.

Saya dan teman sejurusan sengaja meluangkan waktu ke sini, berharap bisa melihat proses pemetikan,  pengeringan biji kopi, hingga mengetahui perihal pendistribusian kopi dari sini. tapi, kami baru mengetahui kalau proses panen sudah dilakukan bulan lalu.

Isi dalam tas saya keluarkan, Kang Dewa nampak asing dengan benda-benda yang saya bawa, aeropress dan V60 dripper. Tak hanya beliau, beberapa teman yang baru lihat alat ini lantas menyerang saya dengan beragam pertanyaan.

satu

“naon eta teh, a?” tanyanya heran.

“ini biar ngopi makin asik, kang” saya langsung menyeduh kopi yang tersedia dan menjulurkan kopi kepada mereka.

“loh, yang ini asem, kok yang ini enggak?” sontak kebingungan “warna kopinya juga beda” sahut seorang teman. pertanyaan-pertanyaan yang muncul saya biarkan tak terjawab.

“kang, kopinya berapa bulan sekali panen?” tanya saya mengalihkan perhatian.

“baru aja bulan lalu panen, a” saya mengangguk “tiga bulan sekali, kang?”

nteu, a. 6-8 bulan sekali” selanjutnya ia bercerita perihal kedatangan mahasiswa pertanian yang mencoba teknik percepatan pertumbuhan tanaman sehingga bisa panen lebih dari sekali dalam setahun. Dari ceritanya, ia justru gelisah mengenai kopi yang cepat panen. Pasalnya, tak hanya membuat kualitas kopi menurun tapi memperpendek usia tanaman “cepet sih a, tapi kalau gitu, gak ada seninya jadi petani kopi, a” tambhnya berseloroh.

tiga

 

Menurut cerita Kang Dewa yang didapat dari leluhurnya. Kopi di hutan ini telah tumbuh sejak zaman kolonial. Jawa Barat menjadi daerah eksploitasi komoditas kopi karena faktor cuaca dan kondisi tanah yang cocok untuk tanaman kopi. Terutama di daerah Priangan, menjadi pilihan untuk uji coba tanaman kopi. Hingga kini, Priangan merupakan salah satu wilayah provinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. “makanya, a, di sini yang terkenal kopi preanger(=priangan)” tungkasnya

“terus, distribusi kopinya ke mana aja kang?”

“Kang Dewa mah serahin ke koperasi, koperasi yang urus semua alurnya. Tapi, ada juga yang langsung hubungin Kang Dewa.”

Kita ketahui bahwa ada pembeli kopi yang mengontak langsung ke petani, nantinya petani akan dapat upah langsung dari pembeli dan upahnya lebih besar dari yang didapat dari koperasi. Jika kualitasnya bagus, maka pembeli akan bertahan kepada petani tersebut.  “Tapi, Kang Dewa mah ngutamain ke koperasi supaya gak bikin sakit hati yang lain. Kita di sini kerja bareng-bareng, hasilnya untuk bareng-bareng, weh” ujarnya sambil mengumbar senyum.

Ada hal menarik yang saya dapat dari sini, yaitu kondisi masyarakat guyub yang memiliki hubungan mendalam dan erat, dengan dasar kekeluargaan yang kuat mereka menjaga apa yang alam berikan, tanpa berpikir tentang keuntungan.

Petani kopi di sini umumnya setelah proses panen, langsung diserahkan ke koperasi tanpa mengetahui alur ke mana saja kopi itu didistribusikan. Kang Dewa sendiri sekadar terima upah setelah ia memberi panen kopinya ke koperasi. Alhasil, yang ia tahu hanya menyiram dan memanen.

20151004_121745 (600 x 337)

Padahal, ada hal lain yang bisa diberikan kepada petani, yaitu edukasi. Di tengah permintaan kopi yang tinggi, tentu pengepul maupun distributor kopi ingin mendapatkan pelanggan tetap dengan tetap menjaga kualitas kopi tetap baik. Sedangkan, kopi yang baik itu dimulai dari petani, tentang pemeliharaan tanaman, proses pemetikan, hingga pengeringan. kalau petani tidak mengetahui akan hal ini, kopi yang dihasilkan tidak maksimal dan berujung pada turunnya permintaan.

“wah, a, sekarang siapa yang mau ngurusin kebun kopi sepuluh hektar sendirian?” Kang Dewa menyinggung tentang generasi penerusnya. Anaknya kini bekerja sebagai pegawai outsourcing di universitas. Raut kekhawatiran muncul dari mukanya “padahal mah ya, a, jadi petani itu enak gak kayak pegawai, diatur-atur.” Sebatang rokok terakhir telah dijepit di sela jarinya “Soalnya, kebebasan itu mahal.” Kami menyimpul senyum mendengarnya sambil saling memandang satu sama lain.

“ya.. hutanku istanaku, ya kang” ujar seorang teman mengulang ucapan Kang Dewa

 

3 thoughts on “Dewa Dari Kebun Kopi

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s