Aroma dari Percakapan

“saya terakhir ke sini kira-kira tiga puluh tahun lalu. dulu mudah melihat alat-alatnya secara langsung. Sekarang beli saja antri” keluhnya tiba-tiba pada saya saat kami mengantre untuk membeli kopi di Koffie Fabriek Aroma, Bandung, Rabu (4/11) lalu.

Pria paruh baya itu tak menyangka harus mengantre panas-panasan dari luar kedai. Dari antrean yang mengular memang sebagian besar  adalah orang tua. Walau  berlangsung cukup lama, tapi dari sini Paberik Kopi legenda ini saya bertemu dan bercakap dengan peminum kopi lain.

Koffie Fabriek Aroma merupakan satu-satunya kedai kopi tertua di Bandung. Pabrik yang dirintis oleh Tan Houw Sian pada 1930, kini diurus oleh anaknya Widya. saya kenal sama Pak Widya, ia teman saya saat SMA dulu” ujar pria paruh baya yang mengenakan kacamata di belakang saya yang tiba-tiba masuk ke dalam obrolan.

foto oleh seorang teman, Tresna Darmawan
foto oleh seorang teman, Tresna Darmawan

Tak ada yang mewah di sini, bangunan kedai masih bernuansa zaman kolonial. Kalau mata tak jeli, akan sulit menemukan kedai kopi ini. Pasalnya, persis di depan bangunan kedai tumbuh pula pedagang yang memenuhi trotoar, seperti tukang kunci dan warung kelontong. Saya pun terlewat beberapa meter ketika mengunjunginya. Cat yang membubuhi di atas kata Paberik Kopi Aroma sudah dilumat waktu, pudar dan retak-retak di sisi-sisi hurufnya.

 

Kedai Kopi Aroma hanya fokus pada penyangraian kopi saja. Tersedia biji kopi arabika dan robusta yang dipasok langsung dari petani di Indonesia. alat penyangraiannya pun berumur lebih tua daripada negeri ini. “Pak Widya dulu bilang kalau bapaknya sudah mulai menyangrai sejak tahun 1930-an. Dan pakai api bukan listrik, tapi ndak tahu kalau sekarang” lanjut pria di belakang saya.

Ketertarikan saya pada kedai kopi ini berawal dari menonton liputan tentangnya di Lativi(sekarang TvOne). Di liputan itu saya ingat, sang pemilik mengajak jurnalis ke dalam ruangan tempat pemrosesan kopi. Terdapat dua alat penyangraian besar dan tumpukan karung goni. Ternyata alat penyangraian raksasa itu berasal dari Jerman yang masih digunakan hingga sekarang dan karung goni tersebut berisi kopi yang ditimbun di gudang khusus selama 5 hingga 8 tahun.

Penyimpanan biji kopi ini cukup membuat saya heran karena saat itu yang saya ketahui ditimbun selama bertahun-tahun adalah wine.

“di dalam bangunan ini ada tumpukan kopi yang ditimbun bertahun-tahun, mas. Dulu saya pernah sekali masuk.” Ungkap pria di depan saya.

“betul, pak. Tujuannya biar asamnya berkurang” jawab pria di belakang saya.

“loh, apa pengaruh pak?” saya coba masuk ke dalam perbincangan yang sebetulnya sudah tahu jawabannya.

woh, pengaruh, mas.” Tungkasnya sambil membetulkan kacamatanya yang turun ke ujung hidung.

20151104_110816 (600 x 600)

Antrean kami sudah memasuki ruangan. Dibanding minum di kedai kopi pada umumnya, baru ini saya merasa kalau mengantre kopi mampu mendekatkan orang yang tak saling kenal. Tingkat obrolan kami semakin hangat. Ada yang unik dari Paberik Kopi Aroma, yaitu tak ada meja dan kursi untuk minum di tempat. Menurut Toni Wahid, Pakar Kopi Indonesia, yang melakukan kunjungan ke Paberik Kopi Aroma, dalam tulisannya menyebut bahwa kedai ini hanya fokus pada penyangraian saja kendati banyak investor yang menginginkan dijadikan kedai kopi kebanyakan. “Keahlian saya bukan di situ, selain itu juga kami sudah sibuk dengan kegiatan sehari-hari” dikutip dari cikopi.com

Di dalam ruang, terpampang biji kopi kering yang beragam di dalam laci dengan permukaan kaca. Di sampingnya, berdiri penggiling kopi berukuran cukup besar yang dipenuhi sarang laba-laba. Sebelum giliran memesan, saya bertanya pada pria di depan

“bapak, pesan apa?”

“robusta” jawabnya tersenyum. “saya ngopi bisa lima kali dalam sehari. pagi dua kali, sore sampai malam tiga kali dan dicampur gula aren” lanjutnya sambil memeragakan kenikmatan seteguk kopi.

Antrean sudah mencapai gilirannya. ia pesan sekilo robusta dan sekilo arabika.

“arabika ini pesanan, saya orang robusta” katanya tanpa saya tanya

“bapak diabetes?” sahut pria di belakang saya

“ya, saya diabetes. Sejauh ini saya mengonsumsi lima kali kopi sehari kadar diabetes saya menurun. Harus robusta” tungkasnya meyakinkan.

Dengan kebiasaan berjualan, biji maupun bubuk kopi dengan sekali ciduk hampir sering tepat pada ukurannya. Tak lebih dari empat pegawai yang saya lihat sedang bekerja dari balik pintu.

“saya mau arabika, toraja dan flores, masing-masing 250gram” pesan saya.

20151104_111900 (600 x 337)

Saya melihat langsung biji kopi saya dibungkus. Dari balik pintu terlihat empat pegawai sangat cekatan menyiapkan kopi pesanan pengunjung. dua orang pria dan dua orang wanita. Seorang wanita bertugas mengukur berat kopi di depan timbangan, wanita lainnya melipat bungkus kopi. Sedang satu lelaki bertugas memindahkan biji kopi dari tempat penyimpanan ke tempat jualan. Lelaki satunya bertugas melayani pengunjung.

Giliran saya selesai.  antrean panjang tadi memunculkan obrolan singkat dengan orang yang baru saya kenal dan jauh lebih tua dari saya. Pada hari itu saya meyakini, kopi melahirkan bahasa. Lantas, tercipta percakapan yang tak terduga.

“secangkir kopi pasti akan mengikis, tapi obrolan yang hadir tak pernah habis”

Di luar saya bertemu dengan pria yang tadi di depan saya. Ia berdiri bersama istrinya, tersenyum dan memanggil saya

“mas, tolong fotokan kami. Tulisan Paberik Kopinya terlihat ya, mas” pintanya.

 

Advertisements

2 thoughts on “Aroma dari Percakapan

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s