Ibu di Akhir Pekan

Salah satu tantangan menjadi mahasiswa rantau adalah hidup dalam bayang-bayang rumah dan masakan ibu. Setiap mereka yang hijrah dari tempat tinggalnya pasti merindukan setiap sudut yang ada dalam rumah, sekalipun mereka orang bebal yang meninginkan pergi dari rumah sejak lama. Ada saja memori yang muncul dari rumah kendati kita tidak berusaha mengingatnya, tentang sinar matahari yang lolos dari jendela, tentang kicau burung, tentang keran yang lupa ditutup. Seolah bayang-bayang tentang rumah punya waktu sendiri menghidupkan memorinya. Tetiba semua merasuki pikiran, menghidupkan sosok ibu yang menggoda kita, lantas membuat kita menjadi makhluk paling cengeng di peradaban.

Bagi sebagian orang, sosok ibu bagai seorang psikolog yang menampung kisah hidupmu dan memberimu wejangan. Namun, tidak bagi saya. Ibu saya adalah pekerja purnawaktu. Ia bekerja bagai matahari bahkan kadang beberapa jam lebih lama.

Sewaktu saya sekolah, beliau sudah berangkat kerja sebelum saya benar-benar sadar dan pulang setelah saya duluan tiba di rumah. Setibanya di rumah, ia renggangkan kaki untuk melepas lelah sambil menyetel televisi. Kalau tiba-tiba di lantai ia temui sejumput rambut, yang ia lakukan tak hanya mengambilnya, tapi menyapu isi rumah lantas memarahi anaknya yang paling berada di dekatnya. kotor adalah haram baginya. Momen ini yang kadang teringat dalam lamun dan sepi saya. Tak ada perbincangan di antara kita, ibu menonton televisi, saya di depan laptop. Tapi, keadaan itu bisa saja menjadi hal yang paling dirindukan.

Karena pekerjaannya itu, tidak pernah saya menghabiskan waktu bersama bercerita tentang apapun masalah dan kegiatan saya. Bukan berarti kami tidak pernah berbincang. Kami masih ngobrol satu sama lain, salah satunya saat menonton sinetron. Saya selalu menyauti apa yang ditanyakan olehnya, walau kadang pertanyaannya kadang hal yang tidak begitu penting.

“tadi remote tv taruh di mana?tanyanya agak kesal

“lah, kan aku baru pulang” jawab saya ketus

Karena kesibukannya, beruntung anak-anaknya tidak jadi berandalan. Saat ia kerja, saya dan adik-adik diasuh dan dibuatkan makanan oleh kakak ibu saya yang tinggal berdekatan dari rumah. Dari tujuh hari yang ada, saya mencicipi makanan ibu hanya dua hari, pada Sabtu dan Minggu. Oleh karenanya,kendati beliau tak bisa menjadi psikolog, ia belajar menjadi koki dadakan.

Akhir pekan adalah waktu ibu di rumah. Jelas, ia tak berseragam. Hanya daster atau kaos dengan celana pendek yang dikenakannya. Santai dan tidak kaku dilihatnya. saya pun jadi tidak sungkan mengajaknya bicara. Sabtu atau Minggu, ia selalu menawarkan makanan-makanan yang ia coba ulik sendiri. ini sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.

Ibu mempunyai buku resep makanan nusantara. Ia beli buku resep ini karena ia tak bisa memasak ragam makanan. Hanya seputar sayur sop dan telur dadar kala itu makanan kami. Selebihnya, ibu selalu membawa makanan saat pulang kantor. Ada banyak resep yang tersedia. Tugas saya membaca dan mengucapkan bumbu-bumbu juga takaran yang dituliskan dalam buku. Sedang ibu menuruti apa yang saya ucapkan.

Pernah suatu hari, ibu bilang pada saya akan membuat bolu panggwng. Sebagai asisten yang baik saya siap sedia mengambil buku resep itu. bahan-bahan sudah disiapkan, saya membacakan apa-apa saja yang dibutuhkan. Kala itu, kami hanya punya oven besar tanpa listrik. Besarnya melebihi kompor sumbu yang kami gunakan. Adonan sudah siap dalam cetakan. Ibu memasukkan adonan bolu ke dalam oven, lalu ia tinggalkan.

Dua jam berselang, ia mengecek bolunya.

“loh, kok masih kental, ya?” ia membuka tutup oven.

“astagfirullah, belum dinyalain apinya” tanyanya ia jawab sendiri.

Akhir pekan memang waktu yang pas kami bertemu. Saya pulang dari perantauan dan ibu tidak bekerja. Kami biasa menghabiskan pagi di teras rumah. ibu membaca koran, saya sibuk menelan makanan. Kadang tak ada obrolan di antara kami. Namun bisa saja, tanpa aba-aba, ia menjadi makhluk paling bawel, menanyakan tiap jengkal langkah yang saya lakukan. Ia bisa saja tiba-tiba bertanya tentang indeks prestasi, kegiatan, dan masa depan yang tiap ucapannya terasa menohok hingga ulu hati.

Hari-hari kerja, ibu adalah abdi negara. tapi, ibu dan akhir pekan adalah keniscayaan. Di akhir pekan, ia menjadi manusia seutuhnya; pergi ke pasar, memasak, membangunkan anaknya, hingga lelap dalam tidurnya.

Ia adalah kerinduan yang tak pernah terbayar lunas.

 

5 thoughts on “Ibu di Akhir Pekan

  1. Waw…. saya seneng mbaca ini. 😀

    Satu kalimat yang saya ingat2 terus, dari anonim (halah pake anonim segala, ini kalimat udah lumrah didengar). “Sayangi dan cintailah orang tuamu selagi mereka ada”
    🙂

  2. Saya “cerai” dengan ibu karena sekolah sejak umur 15. Tapi untunglah sewaktu di rumah dulu rajin memperhatikan ibu memasak, sehingga bila tak dekat beliau bisa memasak, 🙂

  3. baca ini, jadi kepingin bahagian beliau terus.. hampi mirip dengan kisahku yng membedakn orang tua ibuku (nenekku) yang menjadi koki untuk hari kerja beliau (senin-jumat).

  4. Sama seperti saya dan ibu saya. “…tak ada obrolan di antara kami. Namun bisa saja, tanpa aba-aba, ia menjadi makhluk paling bawel, menanyakan tiap jengkal langkah yang saya lakukan.”

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s