Ki Hajar Dewantara, Antara Indonesia dan Finlandia

Persoalan pendidikan bagi saya tidaklah parsial. Ia amat berkorelasi satu dengan yang lain. Bagai sebuah sumbu, kebakaran di awal akan merembet hingga ujung sumbu. Polemik di dunia pendidikan tak terasa ketika kita berpikir dalam kotak. Selama sebuah negara tidak “memerhatikan” guru, selama ruang kelas dianggap sebagai momok kebebasan berpikir, selama itu pula pendidikan negara tersebut hanya berkembang di lingkaran setan.

Pendidikan di Indonesia sekarang tak ubahnya seperti industrialisasi pendidikan. Terpaksa saya keluarkan argumen di atas karena kondisinya memang seperti itu. industrialisasi pendidikan membuat pola pendidikan seperti industri pabrik, masukannya macam-macam tapi keluarannya berujung satu cetakan yang sama. Sekilas tak salah, jika pendidikan akan melahirkan orang-orang kuat yang sudah ditentukan arahnya. Tetapi, justru ini memarjinalkan mereka yang terlihat tidak sesuai dengan “cetakan” pabrik pendidikan tersebut. Hal ini pula yang membuat guru hanya fokus pada orang yang menurut mereka pintar (karena sesuai alur) sehingga didorong, dimotivasi untuk terus semangat di jalannya. Di sisi lain, guru ogah melihat mereka yang berada di luar jalur karena kerap dianggap bebal. Pendidikan semestinya bisa mendorong setiap orang untuk mencapai kemampuannya sesuai dengan potensi yang dimiliki setiap orang.

IMG_5964

Saya termasuk orang yang hakulyakin percaya bahwa membangun pendidikan yang baik adalah landasan dasar bagi sebuah negara menjadi negara maju. Ini terbukti pada laporan Majalah Tempo beberapa bulan lalu tentang pendidikan di Finlandia. Setelah perang dunia kedua, Finlandia adalah negara yang carut marut. Pemerintah dengan sigap mencari jalan apa yang harus dibenahi, akhirnya diputuskan bahwa sektor pendidikanlah yang mesti dibangun. Hasilnya, sekarang Finlandia menjadi salah satu negara maju. Keterkaitan antara pendidikan dan negara juga dibuktikan dengan Restorasi Meiji yang dilakukan oleh Jepang. Dengan mengirimkan pemuda Jepang mengais pendidikan di Eropa dan harus kembali membangun Jepang. Kini, negeri matahari itu berhasil menjadi negara berpengaruh di dunia.

Berbicara bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia, pertama kita harus kembali ke sebab apa yang membuat pendidikan di Indonesia menjadi bagaimana seharusnya. Artinya, kita kembali melihat pada hal-hal dasar yang menjadi akar sebuah permasalahan besar. Meminjam ungkapan Rocky Gerung, ada tiga racun pendidikan di Indonesia; birokratisasi pikiran, religisasi kurikulum, dan standardisasi kecerdasan.

Musabab Masalah Pendidikan

Pertama, birokratitasi pikiran. Pendidikan yang memaksakan semua harus berpikiran sama, satu tujuan, sehingga perbedaan pikiran tidak dilihat sebagai rahmat atau keunikan seseorang, melainkan sebagai sesuatu yang harus diluruskan. Pola seperti inilah yang membuat murid tidak berkembang alias diam di tempat. Ketidakpercayaan orang-orang(guru-RED) pada keunikannya akan menekan laju perkembangan yang murid pegang, sehingga murid malah tidak percaya diri dengan apa yang dipikirkannya.

Kedua, religisasi kurikulum. Perihal pembuatan kurikulum yang dilandasi dengan nilai agama. Saya meyakini nilai agama mengajarkan kebaikan, tetapi tidak semua yang mengajari nilai agama ini bisa mengajarkan secara baik-baik. Hal ini bukan berarti membuang sekolah keagamaan. Tetapi, membuat kurikulum yang ada bersih dari religisasi, politisasi, dan indoktrinasi. Agama adalah hal absolut. Tak ada yang bisa diubah dari sana, ketika digabungkan dengan kurikulum akan sulit berkembang pemikiran murid karena ada batas dan larangan yang dilembagakan oleh kitab suci. ruang kelas yang seharusnya menjadi ajang diskusi akan sepi seperti ruang ibadah. Saya rasa tak hanya pendidikan, begitupun dalam politik bernegara, Turki salah satunya. Ketika mereka menjalankan sistem pemerintahan caesaropapisme. laju pertumbuhan negara terhambat karena nilai-nilai yang mereka pegang kala itu.

Ketiga, standardisasi kecerdasan. Masih diberlakukannya Ujian Nasional-walaupun dengan dalil apapun-adalah kesalahan bagi pendidikan. Ketika nilai dibuat menjadi standar pendidikan di daerah pun tolok ukur kelulusan murid. Kembali ke Finlandia, apakah mereka menjalankan UN? Jawabannya adalah ya, mereka menjalankan. Mereka melakukannya untuk check point dan mengevaluasi guru. Bukan menentukan nilai murid. Kemendikbud seharusnya mendorong anak akan kemajuan pendidikan di Indonesia bukan menyaring siswa layak atau tidaknya diluluskan. Kelulusan murid itu ada di tangan sekolah, bukan nasional. Jika seorang anak menganggap sawah berlumpur itu tidak kotor, berapa nilai UN-nya?

Tentu masih ada penyebab lain yang membuat pendidikan kita hanya berkembang dalam lingkaran. Lantas, pendidikan model apa yang cocok diterapkan di Indonesia?

Model Pengajaran Abad 21

Jawaban saya adalah mengadopsi pendidikan ala Finlandia dengan mengusung fun learning pada tiap yang diajarkan. Saya coba adopsi model pendidikan ini di JEC (Jatinangor Education Care), nyatanya tak sepenuhnya berhasil. Setelah ditelisik, penyebab ketidakberhasilan model ini karena model pendidikan yang sebelumnya sudah sedemikian sistemik dan menjalar di nadi guru-guru. Pendidikan yang mengkotak-kotakkan pikiran murid.

Sebetulnya saya tak sepenuhnya setuju jika pendidikan di Indonesia harus disandingkan dengan Finlandia ataupun negara maju lainnya. Dilihat dari segi geografis maupun psikologi manusianya pun tiap negara berbeda-beda. Toh, kita punya Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan yang penyematannya dilakukan dengan tidak main-main. Bukan hanya karena beliau mendirikan Taman Siswa, melainkan pola belajar yang ia buat sama halnya dengan apa yang Finlandia lakukan. Ki Hajar membuat sekolah seperti taman bermain, dan guru adalah teman berpikir di taman pikiran.  Jadi, sekiranya saya menggunakan Finlandia sebagai acuan dasar membandingkan pola pendidikan karena justru negara tersebut yang berhasil menjalankan ide Bapak Pendidikan kita.

Tapi, saya tetap yakin pendidikan dengan metode fun learning bisa menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan materi. Selanjutnya, adalah sertifikasi guru yang ketat. Lagi-lagi, saya harus mengacu pada Finlandia, di sana seleksi guru lebih ketat dibandingkan seleksi dokter. Dari ribuan pendaftar, hanya 10% yang lolos. Sebab guru adalah ujung tombak pendidikan. Terlebih lagi, di abad 21 ini, guru dituntut untuk cakap dalam mengajar dengan tidak teacher-centered tetapi student-centered. Untuk memulai student-centered, guru hanya butuh dua hal, pertama, kemampuan mendengarkan; kedua, kemampuan bertanya.

Kemampuan mendengarkan dan kecakapan bertanya adalah hal yang korelatif. Kecakapan bertanya adalah modal guru. Apapun jawaban murid, ia tak boleh marah dan menilai murid sebagai orang bodoh. Di sini pula kemampuan mendengarkan guru tersebut diuji. Tak hanya di dalam kelas, melainkan di luar kelas guru mesti melakukan pembimbingan dari apa yang ia dengar dari murid.

Pada akhirnya, pendidikan yang tadinya mirip seperti industri pabrik akan berubah menjadi insdustri jasa. dengan berfokus pada student-centered, murid akan terus didorong untuk belajar dan akan mencapai titik optimum kemampuannya. Tentu dengan bimbingan guru(yang kompeten-red).

Sepakat dengan apa yang sempat dituliskan oleh Prof. Iwan Pranoto, pendidikan selayaknya biro perjalanan, ketika dua orang datang dan ingin memilih perjalanan, sang biro akan membimbing dengan menjelaskan tentang perjalanan yang akan dilalui. Alhasil, walau tujuan kedua orang tersebut sama, tetapi apa yang dipelajari masing-masing orang akan berbeda karena mereka berdua sama-sama belajar. Dan setiap orang akan puas dengan “pembelajarannya” masing-masing. Dari melihat potensi pada masing-masing orang, pendidikan mencoba mendorong potensi tersebut hingga titik optimumnya. Pada titik itulah, seseorang akan terjadi konektivitas dengan apa yang dijunjungnya dengan pasar yang ada dan yang pasti akan beragam.

Mengubah bahkan mengenalkan pandangan baru perihal pendidikan di lingkungan kecil tidaklah mudah, apalagi jika lingkupnya nasional. Jika ke depan ada berita kepala Kemendikbud mengeluarkan asap, rasanya saya akan mafhum. Hehe. Tapi, toh, menyadarkan akan pentingnya pendidikan dan mengembalikan pendidikan ke khitahnya tugas kita juga bukan?

Mungkin hasil pendidikan tidak bisa terlihat dalam waktu dekat, tetapi apa yang terjadi pada masa depan adalah hasil pendidikan sekarang, seperti apa yang diucapkan oleh Confusius “If your plan is for one year plant rice. If your plan is for ten years plant trees. If your plan is for one hundred years educate children. ”

5 thoughts on “Ki Hajar Dewantara, Antara Indonesia dan Finlandia

  1. Yang bisa mengubah nasib adalah manusia, bukan padi atau pohon ya :hehe. Mesti kita akui sih, masih banyak yang perlu dibenahi. Saya juga dapat beberapa pemahaman baru dari sini. Soal agama yang dimasukkan dalam pendidikan juga menarik perhatian saya–mungkin menanamkan nilai agama pada anak didik tidak dengan menjadikannya mata pelajaran yang diujikan (hanya sekadar teori) tapi menyisipkannya pada teladan yang memicu keingintahuan, kali ya :hehe. Tapi petinggi di sana mesti sadar, banyak contoh bahwa sebuah bangsa maju karena pendidikan, kenapa kita masih begitu buta?

  2. keren, semoga rivan kelak bisa jadi menteri pendidikan dan memajukan pendidikan Indonseia menjadi lebih baik untuk semua kalangan! a luta continua!

  3. Yang saya heran dalam pendidikan di negri ini adalah pendidikan yang hanya menilai berhasil atau tidaknya model pendidikan tersebut hanya dari nilai. Padahal adahal yang lebih penting dibandingkan nilai tersebut yaitu bagaimana cara mendapatkan nilai tsb. Apakah dengan cara yang benar benar jujur atau segala cara dilakukan untuk mujur.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s