Soal Persiapan dan Perpisahan

Kupikir menunggu kamu memilih pakaian sudah paling memuakkan. Ternyata, menunggu kepastian lebih pedih dari itu. kepastian, apapun itu, membuat kita seolah menjadi manusia paling tolol di peradaban. Menjadi pongah, diam tak berarah, bergerak takut salah. Segalanya menjadi berlawanan ketika menunggu jawaban. Belum lagi, segala duga terka bertumpukan di kepala, apakah ia akan sesuai atau tidak.

“apa memang yang sedang kau tunggu?” katamu sambil menyodorkan segelas es teh.

Aku menggeleng, “tak perlu kau tahu.”

“selalu saja kau seperti ini.” Es teh lantas kau seruput nikmat hingga terdengar sedotannya sudah sampai pangkal gelas “Memikirkan hal yang belum pasti terjadi lantas berharap tinggi.”

“memang salah?” tanyaku ketus

“harapanmu tidak, tapi nafsumu terlampau tinggi” jawabmu tegas.

Tiba-tiba air menetes dari langit. Perlahan hujan mengisi bagian-bagian tanah yang kering. Aku menarik tangannya, mengajak untuk berteduh ke emperan toko yang kebetulan tutup.

Sambil mengeringkan rintik hujan yang jatuh di kulitnya, ia bertanya “katanya kau suka hujan? Kenapa berteduh?” pertanyaan kontradiktif selalu ia munculkan setiap kali apa yang kulakukan tak sesuai dengan apa yang pernah kukatakan. Kupelankan langkah seolah merespon apa yang ia tanyakan. Sambil berlalu, tak kujawab pertanyaannya.

“belakangan, kau sering sekali murung. Mengapa?” tanyamu sok perhatian seraya melepas tanganku.

“tidak” jawabku ketus.

“kau menyesal ditinggal olehnya?”

DEG. Pertanyaan itu langsung menuju otak, menusuk di hati, membekas di pikiran. “Mengapa ia bisa benar menduga” ucapku heran dan sedikit kaget dalam hati. Aku mencoba menenangkan suasana, seolah tak membenarkan ucapannya.

“sudahlah. Tak perlu kau tutupi”

Petir mulai menggelegar padahal hujan pun belum menderas. Aku mengulurkan tangan mengecek hujan. Kubuka tas dan mengambil jaket lantas memakainya. Bermacam gerakan kulakukan untuk mengalihkan ucapan-ucapannya. Tapi, ia sadar. Aku bagai kayu rapuh yang mengambang di laut. Berkali-kali aku mencoba ke tengah, ombak membawanya ke pinggir pantai. Hancurlah pertahananku.

“apakah kau pernah mempersiapkan perpisahan?” tanyaku sedikit ketakutan

Awan semakin gelap. Hujan sudah menderas. Aku sedikit merasa bersalah tidak menawarkan jaket yang kukenakan. “ah, peduli setan. Beruntung aku menemaninya sampai sesore ini” umpatku dalam hati.

Ia memindahkan meja di samping ke depan untuk meutupi cipratan air hujan sambil berkata “Kamu tidak perlu mempersiapkan perpisahan. ia bukan momen ulang tahun, reuni, ataupun sesuatu yang mesti dirayakan. Kau tak perlu berias, pergi ke salon atau mengenakan gaun cantik. kau hanya perlu menyandarkan dirimu pada keteguhan yang kokoh”.

Kedua tangannya disentuhkan ke pundak mencoba menghangatkan diri. “Sebab, perpisahan tak memerlukan persiapan. Ia akan datang tanpa ketuk pintu dan salam, lantas masuk begitu saja ke dalam pikiran yang membuat kepercayaanmu rubuh begitu saja.” Lanjutnya sambil memandang ke arahku.

Hatiku terasa tertusuk lagi. Dipancing satu pertanyaan, ia sudah menjawab apa yang hendak kutanyakan berikutnya. Lagi-lagi, aku hanya mengumpat dalam hati.

“Kadang, memang manusia terlampau bodoh dengan mengandai-ngandai sebuah kejadian di masa depan alih-alih menjadikannya sebagai persiapan. Menyiapkan segala macam siasat agar kita bisa kendalikan segalanya. Bukan begitu?” tungkasnya

“jika memang seperti itu, apa yang salah?” timpalku dengan nada sedikit tinggi tersindir atas yang ia utarakan sama dengan yang kulakukan.

“kau tidak salah” ia mulai bernada menceramahiku “tentu kau hanya ingin sesuatu yang terjadi sesuai dengan apa yang kau rencanakan. Lalu, kau persiapkan segala macam cara untuk menanggapi sesuatu yang belum terjadi, bukan?” lanjutnya

Aku mengangguk.

“lantas, apa bedanya dengan kepura-puraan?” tutupnya

Mobil tiba-tiba melintas kencang di pinggir trotoar menyebabkan genangannya muncrat ke arah kami. Kami sama-sama menghindar dan obrolanpun kandas.

Advertisements

One thought on “Soal Persiapan dan Perpisahan

  1. “Perpisahan tidak memerlukan persiapan.” Suka dengan kata-katanya. Membuat merenung. Kita bisa bersiap seperti apa pun untuk menghadapi perpisahan, tapi kayaknya ketika perpisahan itu datang, kita akan selalu merasa tidak pernah siap.
    Wanita memang pembaca perasaan yang baik ya, Mas :haha.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s