HAM dan Perjuangan Tanpa Ujung

Ketika mengikuti Sekolah Hak Asasi Manusia yang diadakan KontraS, saya teringat satu pembicara dari lembaga yang berdiri sejak zaman orde baru tersebut berkelakar, “saya berharap Indonesia berhasil menegakkan HAM dan menjadikannya sebagai cara pandang tiap manusia, supaya tak ada lagi KontraS” ucapannya disambut simpul senyum dari peserta, termasuk saya. “kalau udah gak ada KontraS, saya jadi pengusaha. Tinggal terima duit doang” tutupnya tertawa. Terima duit doang, gundulmu. Umpat saya dalam hati.

Pasalnya, ide tentang hak asasi manusia belum dipahami banyak orang. Sebagian masyarakat kita menganggap, hak asasi manusia adalah ungkapan yang ditujukan hanya untuk orang tertindas. Padahal, jauh di luar itu, hak asasi manusia sendiri punya turunan yang cukup dalam dan perlu waktu untuk orang benar-benar memahami. Singkatnya, orang akan mendorong penegakkan hak asasi manusia sampai orang tersebut tertindas. Selebihnya, ia hanya jadi semboyan yang ditempel di dinding, dilihat orang lalu-lalang.

Seperti yang sudah saya tuliskan beberapa waktu lalu, tentang Ibu dan HAM. Dalam perjalanannya, ibu mengasosiasi hak asasi manusia dengan Munir, aktivis hak asasi manusia yang meninggal diracun. Beliau bersimpati dengan kematian Munir, tapi pemahaman ibu tentang hak asasi manusia berhenti di situ. Malah, beliau berpesan jangan terlalu keras meneriaki hak asasi manusia nanti diculik. Ibu tetaplah ibu. Saya memaklumi pesannya sebab beliau tidak ingin terjadi apa-apa pada anak-anaknya. Ibu saya hanya contoh kecil, kendati demikian cukup mewakili apa yang masyarakat maknai tentang hak asasi manusia.

Isu hak asasi manusia berbanding terbalik dengan kondisi penindasan atas nama manusia. HAM tidak akan diteriakkan jika warga Papua bisa berjalan tenang di tanahnya sendiri tanpa harus dibidik senjata, jika orang tua dari anak yang hilang tak lagi berdiri depan istana, jika isi doa warga negara tak lagi diperiksa negara, jika yang berbeda bukan dianggap sebagai ancaman melainkan keberagaman. Jika belum terwujud, hak asasi manusia tetaplah menjadi pionir yang menjadi landasan berpikir umat manusia. Perjuangan hak asasi manusia di Indonesia masih sangat panjang, bahkan seperti jalan tak ada ujung.

Membaca dan memahami DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) adalah langkah paling minimal yang bisa dilakukan untuk mengerti hak asasi manusia. DUHAM, bukanlah deklarasi yang berangkat dari kisah cinta yang kandas atau lamunan yang didapat di atas jamban. Ia adalah hasil olah debat filsafat dunia yang dirangkum mulai dari Codex Hammurabi hingga Piagam Madinah yang tujuannya untuk kemaslahatan umat manusia.

Saya teringat beberapa waktu lalu, ketika diadakan Pengadilan Rakyat Internasional, pengusutan kasus pembantaian 1965 sudah dilakukan bertahun-tahun oleh lembaga-lembaga terkait dengan mengumpulkan data, fakta, dan saksi hidup. Tapi, mereka yang bergerak untuk membela dan mendorong terwujudnya keadilan justru dianggap sebagai pengkhianat negara. Sekelebat saya sempat berpikir, humanisme tak dapat seranjang dengan nasionalisme.

Pada akhirnya, kelakar bukan sekadar kelakar, ia ada karena kondisi masyarakat lalu menjadikannya sebuah satir atau metafor yang dapat dibagi kepada yang lain dengan maksud yang kontradiktif. Hak asasi manusia bukanlah kembang api yang indah kala terang dan berumur singkat. Hak asasi manusia harus menjadi matahari, sumber pencahayaan sebagai upaya melihat manusia seutuhnya. Hak asasi manusia yang membuat kita merdeka, bebas berpendapat, dan bebas menjadi apa adanya kita, tanpa sensor, dan tanpa kekang.

Lantas, mengapa harus peduli hak asasi manusia? Karena kita percaya pada kebaikan.

post-scriptum:

Selamat Hari HAM Internasional

2 thoughts on “HAM dan Perjuangan Tanpa Ujung

  1. Menurut saya minimal tahu dulu ya, HAM itu apa terus kenapa penting, dan apa yang terjadi ketika hak-hak itu diberangus. Minimal setelah tahu secara sederhana apa dan bagaimana hak asasi manusia itu, kita bisa bertindak untuk menjaganya agar tidak diambil secara paksa oleh orang lain, apalagi orang yang mengaku penguasa :hehe. Selamat hari HAM internasional, ini kontemplasi yang bagus!

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s