Antara Melipat Tangan dan Menaiki Kaki

Ada hal unik yang mengisi sisa-sisa waktu di tahun 2015 ini. Hasief, Seorang editor majalah musik kenamaan memberi komentar pada sebuah foto yang diunggah oleh Barasuara. Foto itu diunggah Barasuara di akun instagram-nya saat konser di Beer Garden, dua minggu lalu. Dalam foto tersebut, Hasief membubuhkan komentarnya yang menurut pandangan saya agak menyudutkan salah seorang penonton.

Saya tidak ingat persis komentar Hasief, seingat saya “yang pakai baju kotak-kotak tidak layak berdiri di barisan depan”. Peguna instagram lain menyambar dan menanyakan hal tersebut. Tak lama, Hasief pun membahas “lipatan tangan” dilanjutkan dengan memberi analogi orang yang menonton konser dengan tangan dilipat sama halnya orang yang mengantri STNK di Samsat. Walhasil, komentar tersebut dibalas langsung oleh orang yang dimaksudkan Hasief dalam foto dan komentar baru pun bermunculan hingga sekarang. Kondisi itu mengingatkan saya pada satu momen ketika menonton sebuah konser.

Sekitar tahun 2008, saya diajak teman menonton konser Nidji di Taman Mini yang diadakan oleh salah satu tv swasta. Itu adalah kali pertama saya menonton band secara langsung. Lagu-lagu di album pertama Nidji cukup enerjik, menggairahkan, dan menggoda siapapun (menurut saya) untuk menggerakkan hampir semua bagian tubuhnya. Begitupun saya saat itu, tanpa ada aba-aba dari koordinator panggung saya lantas mengangkat tangan ke atas, bergoyang mengikuti irama Disco Lazy Time.

Tuts-tuts yang ditekan dari synthesizer, simbal yang ada di sepanjang lagu, dan goyangan Giring bagai kelinci nyatanya tak membuat semua penonton bergoyang sekalipun penonton yang ada di baris depan. Seingat saya, penonton yang diam adalah wanita dan cukup cantik. Tak ada ponsel di genggamnya, kedua tangannya dilipat, kakinya ditekuk sedikit, telapaknya diketuk-ketukkan ke lantai mengikuti irama musik. Sesekali saya pergoki dia tersenyum melihat tingkah Giring di atas panggung sambil mencoba ikut melantunkan lagu yang sedang dinyanyikan.

Sambil joget, saya menatap heran ke arah perempuan tersebut dan membatin “ini orang ngerti gak sih lagunya? kok diem aja”. tentu pikiran itu tak lama karena tujuan saya menikmati konser bukan mengomentari tingkah orang di depan panggung. Intro lagu berikutnya dimulai, saya menyempatkan mata melirik lagi ke arahnya, masih dalam posisi dan keadaan yang sama. tapi, kakinya kini menepak-nepak  lantai berulang layaknya drummer menginjak pedal. keadaan menjawab lamunan saya tadi, lantas saya kembali goyang.

Barasuara di acara Musca

Ada yang luput dari Hasief, ia fokus pada lipatan tangan ketimbang kedatangan orang tersebut di konser Barasura. Mau datangnya seseorang ke sebuah konser bagi saya adalah bentuk apresiasi terhadap band yang manggung. Selama ia tidak ribut lantas mengganggu jalannya acara, melipat tangan, menutup mata, atau bahkan menggaruk biji adalah kebebasan baginya. Tentu malah aneh ketika standardisasi menonton konser diciptakan oleh penonton lainnya.

Saya jadi teringat tulisan Pandji mengenai Industri TV yang aneh. Ia menuliskan “Itulah mengapa banyak program TV yang terpaksa di-‘dumb it down’ atau dibikin ‘goblok’ demi mendapatkan perhatian masyarakat kelas bawah”. Kondisi siaran tv saat itu (bahkan sampai sekarang) mayoritas tidak memberikan edukasi, hanya sebatas hiburan semata. Tanpa pikir panjang, saya setuju pendapat Pandji. Ada “kelas-kelas” yang diciptakan Pandji yang secara tidak langsung mendaku penonton yang tidak menonton apa yang ditonton Pandji adalah penonton sampah.

Sekilas saya sempat mengiyakan apa yang ditulis oleh Pandji sampai setelah tulisan berseberangannya muncul dari Remotivi. Tulisan tanggapan tersebut kurang lebih menjelaskan bahwa apa yang ada di televisi bukan berdasar pada selera penonton, melainkan TV itu sendiri yang membentuk selera penonton yang mana selera tersebut adalah cerminan dari selera pekerja dan pemilik TV.

Seperti layaknya Pandji, Hasief mencoba menyuarakan apa yang menurutnya benar dan bagaimana seharusnya orang juga lakukan. Padahal ada yang lebih dahulu baiknya dipikirkan, menakar logika, misalnya. Bagi saya membagi sebuah kenikmatan adalah hal penting tetapi meminta orang untuk menikmatinya dengan cara yang sama tidaklah tepat. Ibarat makan di warteg, murah dan mengenyangkan, tetapi bagaimana kita menikmati makan tersebut tentu berbeda dengan supir truk atau kuli bangunan yang baru benar-benar nyaman ketika menyantap makanan dengan satu kaki naik ke kursi.

Advertisements

5 thoughts on “Antara Melipat Tangan dan Menaiki Kaki

  1. Mungkin si Mbak waktu itu lagi sakit tapi dia bela-belain datang ke konsernya Nidji itu Mas. Tidakkah itu berarti dia sebenarnya lebih ngefans, hanya saja keadaan memaksanya untuk tidak meluapkannya?
    Ah, prihatin saya dengan sang editor itu. Mungkin ia sedang lelah. Tapi tulisan ini juga jadi pengingat buat saya supaya tidak memaksakan kehendak karena isi kepala setiap orang pasti beda-beda. Terima kasih, ya.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s