Natal Untuk Bude

Ibu saya adalah orang yang pertama kali menegur saya tentang menginterpretasi sebuah teks. Ia bilang, “teks itu seperti air yang dimasukkan ke dalam kulkas lantas membeku”. Beliau bukanlah lulusan sarjana komunikasi, tak mengerti hermeneutika apalagi toleransi. Beliau bukanlah aktivis keagamaan yang menyerukan toleransi. Ia hanya seorang perempuan yang lihai membagi satu telur rebus menjadi empat bagian untuk dimakan bersama saudara-saudaranya. “kaku banget jadi orang, wong cuma ngucapi tok” tutup ibu setelah saya mengatakan padanya bahwa mengucap natal adalah haram.

Ia jelas marah. Sebab ucapan natal itu akan dikirimkan ke kakak perempuannya yang nasrani. Semalaman saya kepikiran, mendukung argumen ibu atau mengikuti perkataan ustadz.

sumber foto: desktopwall.net
sumber foto: desktopwall.net

***

Nenek saya memiliki lima orang anak, empat perempuan dan satu laki-laki. Awalnya, semua beragama islam. Tetapi, anak kedua (bude saya) menikah dengan seorang nasrani sehingga ia berpindah keyakinan menyesuaikan agama suaminya.

Saat kecil, setiap sebelum tidur saya selalu diceritakan kisah-kisah ibu saat kecil. Cerita sebelum tidur itu dimulai ketika saya sering tidur larut, sebagai manisan ibu selalu menawarkan cerita sewaktu ia muda. Jika diurut hingga sekarang cerita ibu mungkin sudah melebihi jumlah episode Tukang Bubur Serigala atau Ganteng-Ganteng Naik Haji. Kisahnya selalu menarik didengar. Dengan maksud menidurkan saya lebih cepat, malah justru membuat saya tidur lebih larut.

Ada satu kisah ibu yang saya ingat setiap hari natal. Kisah saat beliau masih menjadi murid di sekolah katolik. Dan kisah ini seringkali saya minta ibu supaya menceritakan ulang sembari saya menanyakan tiap ibu bercerita.

Ibu adalah satu-satunya anak yang menerima pendidikan tingkat menengah di sekolah katolik. Alasannya, hanya sekolah itu yang sekiranya terdepan di antara sekolah negeri yang ada. Berangkat pagi-pagi buta dengan mengayuh sepeda sejauh lima kilometer untuk mencapai sekolahnya.

Lebih kurang tiga tahun ia mengikuti nyanyi-nyanyian yang dilakukan setiap pagi, membantu membersihkan rosario, merapikan setiap kelas yang ada patung yesus, hingga mengenakan seragam laiknya biarawati. Atas alasan ini, saya kerap kali meminta ibu untuk bercerita apa saja yang dilakukannya tiap natal saat itu.

“kalau mau natal, ibu bantu dekorasi pohon-pohon natal, pasang lampu kerlap kerlip, lonceng dan kadang ikut latihan temen nyanyiin puji-pujian.” Jawabnya riuh saat itu

“loh, emang mbah gak marah?” tanya saya polos. Kakek dan Nenek saya beragama islam. Kerjaannya setiap hari pergi ke sawah, ngarit atau sekadar mengusiri burung yang hinggap. Mereka hanya ingin anak-anaknya tidak ada yang tidak sekolah. Pendidikan dinomorsatukan untuk anak-anaknya. Pemikiran yang hebat bagi seorang veteran saat itu yang menghabiskan sisa senjanya di sawah bersama kerbau dan lumpur.

mbah mana ngerti. Anaknya sekolah saja sudah syukur” tungkas ibu meyakini saya. Di antara saudara-saudaranya, hanya ibu yang bisa mengais pendidikan sampai S1. Saudara-saudaranya hanya tamatan SMA. “woh, lagu puji-pujiannya kalau dinyanyiin bagus-bagus banget. Temen-temen ibu jago nyanyi” lanjutnya sambil menggerakkan tangannya menirukan gaya pemandu paduan suara.

Kisah saat ibu sekolah, berbeda dengan saya. Saya berada di lingkungan-yang bisa dibilang- beruansa islam, sebab setiap minggu selalu ada pengajian rutin dan jumlah kepala keluarga yang nonmuslim pun tak lebih dari jumlah jari dalam satu tangan, itupun hanya nasrani. Bahkan, selain pengajian rutin warga ada pula pengajian yang diselenggarakan oleh salah seorang warga yang aktif di masjid, sehingga tiap mengadakan pengajian bisa menutup jalan.

Kondisi tersebut mendorong saya untuk mengikuti tiap kajian yang diadakan majelis ta’lim. Jarang saya berkumpul atau berdiskusi dengan orang yang di luar agama saya. Sedikit banyak saya dapat doktrin yang baru saya sadari bisa menyudutkan pihak lain, mulai dari keyakinan bahwa di luar agama islam akan menjadi musuh di masa depan  yang saya ungkapkan secara blak-blakan ke teman saya yang nasrani hingga menolak permintaan ibu untuk mengucapkan natal ke bude saya.

***

Ibu dan saya jelas berbeda pengalamannya. Nyatanya kegagapan kita melihat perbedaan karena kita gugup melihat dunia. Hampir lima belas tahun lalu kisah itu sejak ibu pertama kali cerita, hingga sekarang saya terus mengingatnya. Dalam ceritanya, saya yakin bahwa ibu telah belajar bagaimana memahami keyakinan orang lain tanpa melunturkan keyakinannya. Mengutip apa yang pernah dicuitkan Rocky Gerung bahwa tanpa perbedaan, akal mengalami kematian sosial.

Pelan-pelan saya membuka layar ponsel. Mengikuti permintaan ibu untuk mengucap natal ke bude. Barangkali ibu tak paham mengenai toleransi, namun kisahnya memberikan lebih dari sekadar pengertian toleransi yang kuat dipikiran lemah diaksi.

Ponsel saya berdering,

“terima kasih, ivan. Semoga allah memberkati. Salam untuk adik-adik.” Balas bude saya dalam pesan singkatnya.

post-scriptum:

selamat merayakan natal bagi teman-teman yang saya kenal 🙂

3 thoughts on “Natal Untuk Bude

  1. Bagi saya indah perbedaan itu. Orang yang berada dalam “sangkar” yang sama terus-menerus akan menjadikan dia memandang sesuatu hitam putih. Saya mengenal perbedaan keyakinan sejak smta, sejak itulah saya memulai toleransi dalam ranah sosial. Keyakinan adalah urusan hati nurani yang tidak bisa diintervensi dengan dogma.

  2. Pernah berada dalam lingkungan yang beragam memang membuat pengalaman jadi lebih kaya ya Mas :)). Ketimbang melihat semua yang sama terus, jadi tak tahu bahwa di luar sana ada perbedaan dan keragaman yang sangat indah. Ibu saya juga dulu sama seperti ibu Mas–menempuh pendidikan di sekolah Katolik, dan itu juga berdampak pada saya sih :haha. Ah, betapa kayanya ibu-ibu kita :)).

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s