Semisal Kita Merindukan Sesuatu yang Belum Terjadi

Pernahkah kau sekali dalam hidup mereka-reka sebuah drama kerinduan yang akan terjadi di masa depan? Mengeja satu per satu sisi ruang, melihatnya secara mendetil seolah setiap sudutnya melahirkan kenangan. Tentang paku berkarat yang menancap di dinding, tentang tumpukan besi-besi tua, tentang keran bocor, atau tentang serangga kecil yang sering masuk ke kamar. Badanmu menggigil, tubuhmu melemas, dan setiap kali kau berupaya mengalihkannya malah semakin menggiringmu ke ingatan masa silam yang padahal hanya dalam bayang-bayang.

Saat itu, kau hanya bisa memandang nanar benda-benda di sekelilingmu sambil berharap apa yang kamu lihat merespon tatapanmu, menanyai kabarmu, atau mencoba menghiburmu. Tapi, kau sadar mereka hanya benda mati. Staples, dispenser, atau akuarium bukanlah psikolog yang bisa mendengar cerita-ceritamu dan merespon setiap keluh kesahmu. Eh, tapi, bukankah kadang kita hanya ingin didengar daripada ditanggapi? Lantas kau tetap melanjutkan bergumam sambil melihat gelembung air dalam dispenser yang bergerak ke atas permukaan, ikan yang menabrakkan dirinya ke dinding akuarium seolah ia ingin keluar dan merasakan menjadi manusia.

Manusia boleh saja melewati berbagai ujian, bangkit dari kegagalan, lalu mendaulatkan dirinya sebagai orang paling kuat. Tetapi, sekuat-kuatnya manusia ia akan tunduk pada kesunyian. Keadaan yang bisa membawamu memikirkan hal-hal yang menurutmu tak pernah terjadi namun kau senang membayangkannya. Menyatukan setiap keadaan ke dalam satu peristiwa, seperti atap kamarmu rubuh secara tiba-tiba lalu turun salju atau wanita yang kau idamkan sekonyong-konyong mengetuk pintu kamarmu meminta maaf padamu, padahal kau tak pernah berbuat salah, lantas ia mengecup keningmu dan hilang begitu saja. Kau paham, bayangan-bayangan itu hanya fana belaka, tetapi dalam hasrat yang tersisa, kau ingin hal itu terjadi.

Di dalam keramaian, apa yang kau pikirkan dalam kesunyian bagai abu rokok dalam asbak, nampak namun mudah beterbangan begitu saja terkena hembusan nafasmu. di dalam keramaian, kau tak bisa menjadi orang waras. Sebab apa yang kamu pikirkan kau coba untuk tak berseberangan dengan yang lain. Dengan kata lain, kau coba membuat lakon sederhana di mana kau jadi dalang yang alur ceritanya bisa kau ubah seenak udel, tetapi kau sadar plot yang terbuat paling tidak harus membuat penonton terhibur.

Sesekali kau pernah bertanya-tanya sendiri, apakah yang dilakukan dalang sebelum lakon dimulai hanya membaca buku atau mengucap mantera? Tidakkah ia bengong, berak dengan gelisah, ngedumel atau berpikir acaranya akan gagal. Lantas, sang dalang akan gelagapan sewaktu acara berlangsung. Kau terus berpikir berbagai kemungkinan yang muskil terjadi, tetapi kau menikmatinya.

Kadang kau, mungkin manusia lain, pernah sesekali mengharapkan sesuatu tentang nasib buruk yang menimpa orang lain bukan untuk berada di atasnya, tetapi semata-mata kau mencoba menyamakan keadaan, seperti ibu hamil yang melahirkan anak kecebong yang akan menjadi bahan gunjingan tetangga atau kuburan yang tiba-tiba meledak membuat heboh warga sekitar.

Kau terus saja mengisi pikiran-pikiran guna mengalihkanmu pada rekaan-rekaan kerinduan yang mampu melemahkan dirimu. Tetapi, sekali lagi, semakin kau mengalihkannya semakin mendorongmu pada apa yang akan kau rindukan.

Kau coba bertanya lagi, “bagaimana nanti kalau kubangun tidak ada hamparan sawah lagi? Bagaimana aku bisa mendengar suara katak yang mengorek setiap mau tidur?” setiap tanya yang kau buat tak berarti apa-apa. Ia hanya akan bersemayam dalam pikiran yang menjamur menjadi kenangan. Pada akhirnya kau sadar, ke depan, kau hanya akan merogoh-rogoh ingatan untuk menenangkan keadaan.

Kau kalah dalam pikiran.

Advertisements

3 thoughts on “Semisal Kita Merindukan Sesuatu yang Belum Terjadi

  1. Berkhawatir-khawatir ria? Oh, tentu pernah. Bahkan sampai terlalu terkonsumsi dalam rasa khawatir akan sesuatu yang belum terjadi itu, sampai lupa bahwa sesuatu itu belum terjadi, alias tidak pasti, jadi sesungguhnya tidak perlu dikhawatirkan. Tapi ya… kadang khawatir itu menenangkan :haha. Mengisi otak dengan berbagai pikiran dan pertanyaan, dan mencoba mereka jawaban dan berbagai jalan, kadang memberi rasa aman :hehe :peace.
    Jadi khawatir tentang apa kita di tahun baru nanti?

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s