Antara Depok dan Bandung

Di Depok, tempat saya tinggal, ada sebuah anekdot yang muncul tiap menjelang pemilihan kepala daerah berlangsung, “kamu milih atau tidak pun, yang menang PKS.” Anekdot ini kerap saya temui saat naik ojek, menumpang angkot yang sedang ngetem, atau pedagang sayur yang berhenti depan rumah. Mereka tanpa aba-aba bisa tiba-tiba ngedumel atau sekadar basa basi ke penumpang/pembeli berbicara tentang pilkada. “mending gue ngojek daripada nyoblos” ujar supir ojek yang kala itu saya tumpangi.

Ada dua pasang calon yang maju sebagai walikota, dari partai PKS beserta koalisinya dan PDI beserta koalisinya. Dan benar saja anekdot yang muncul per lima tahun itu. Idris – Pradi dari PKS menggantikan Nur Mahmudi yang telah dua periode memimpin Depok juga berasal dari partai yang sama. Kondisi ini membuat salah seorang netizen merasa mendapat “cobaan berat”. Ia mengeluhkan tentang pilihan pemimpin yang “tidak enak dilihat”.

Pilkada serentak memang di sisi lain akan membuat pemilih turut aktif membandingkan pemimpin di daerah lain. Dalam hal ini, Eko Kuntadhi menyandingkannya dengan Ahok, Risma, dan Ridwan Kamil. Masing-masing pemimpin menurut Eko “enak” melihat mereka memimpin kotanya. Eko tak sendiri, sebagai warga Depok saya kerap membandingkannya dengan kota lain.

Saya ingat pernah sekali mengeluh tentang keberadaan anak jalanan yang berjualan cobek di Jalan Mataram, Bandung, pada Kang Emil. Cuitan saya tidak dibalasnya, tetapi ditandai ke kolom favorite. Seminggu kemudian, saya lewat di jalan yang sama anak jalanan itu sudah tidak ada. Artinya, ada keluhan yang lebih dari sekadar ditandai semata.

Ridwan Kamil adalah salah satu pemimpin yang memanfaatkan media sosial sebagai upaya pendekatan terhadap warganya. Sepengelihatan saya, dari sekian banyak pemimpin mungkin hanya beliau yang paling aktif di media sosial. keaktivannya ini pernah dipertanyakan oleh pengikutnya di Twitter, lantas Ridwan Kamil menjawab dengan pertanyaan, “kamu tahu istilah multitasking?” seketika itu senyum merekah di bibir saya.

Peguna media sosial di Indonesia boleh dibilang banyak dan beberapa kali apa yang terjadi di dunia maya turun ke dunia nyata. Seperti halnya pembatalan peraturan menteri perhubungan tentang pelarangan transportasi online dan sejenisnya. Mendengar keluhan di media sosial, hanya dalam waktu semalam, Presiden lantas membatalkan peraturan tersebut dan meminta menterinya untuk mengkaji ulang.

Cuitan saya yang ditandai atau pembatalan peraturan oleh presiden mungkin dapat bilang “The Power of Social Media”. Tapi saya enggan menyebut apa yang terjadi atau apa yang diminta sebagian peguna media sosial mewakili suara rakyat. Belum lama, saya menemukan petisi yang isinya meminta Ridwan Kamil untuk membuat pantai buatan. Hasrat tersebut ditanggapi alumni ITB itu dengan menyaratkan petisi tersebut ditandatangani oleh 100.000 orang. Lantas, petisi-yang dirasa mewakili masyarakat-itu menjalar di berbagai platform media sosial untuk mendapat suara.

Saya tidak tahu apakah Kang Emil sedang guyon atau tidak, tapi saya tidak meremehkan apa yang telah terucap/tertulis.

Di awal paragraf, pembuat petisi menuliskan akan dugaan main-main dari orang lain atas pembuatan petisi tersebut. Tetapi, tetap saja keukeuh usulannya dirasa mewakili orang banyak dengan dalih bisa meningkatkan Index of Happiness. Makanya, Izinkan saya menanggapinya dengan kata maaf. Ya, maaf, jika keprihatinan saya ternyata membahagiakan sebagian orang.

Pantai buatan bagi seorang arsitek bukanlah hal sulit apalagi memiliki relasi pemimpin di belahan benua lain. Seperti halnya Dewi Citrawati yang meminta Taman Sriwedari di khayangan. Taman tersebut langsung ada dengan bantuan Sukasrana yang kemudian mati tak sengaja oleh panah kakaknya, Sumantri.

Roy Thaniago dalam ulasannya di Indoprogress menuliskan bahwa kehadiran media sosial tidaklah otomotatis membawa perubahan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang berada dalam lapisan terbawah dan jarang memiliki ruang untuk menyuarakan pendapatnya. Kemudian, media sosial punya bias karena ia tidak pernah menjadi medium yang netral, melainkan selalu menjadi medan pertempuran antarkelompok yang saling memperebutkan makna dan kekuasaan. Isu yang tak penting pun akan menjadi bahasan oleh mereka yang punya banyak suara. Tak ayal, kondisi ini akan melahirkan banyak manusia yang asing pada substansi. Barangkali Tuhan menciptakan tanah priangan saat sedang bersolek?

Perihal bersolek ada tulisan menarik yang teman saya pernah rujuk, tentang Bandung as a Gimmick City. Tulisan tersebut berisi tentang upaya Bandung menyolek wajah namun menyimpan borok di kaki. Penulisnya menyebutkan perkampungan pribumi yang mengenaskan tapi tertutupi berita “keberhasilan” Bandung yang kala itu dipimpin pemerintahan kolonial. Lebih jauh lagi, penulis juga menyinggung tentang warga Bandung yang pandai bersolek.

Bagi saya tak masalah seorang warga berusaha menyolek kotanya, tetapi tentu tidak penuh dempul dan memakai gincu hingga luber. Ada hal substansial menurut saya bagi sebuah kota, seperti kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan menjadi aspek yang harus diperhatikan lebih jauh ketimbang memilih kosmetik untuk mempersolek muka.

Dengan berharap dibuatnya pantai buatan, Bandung coba meringkas semesta ke dalam ruang sempit yang di dalamnya ada yang sibuk mencari air bersih, berharap transportasi massal yang optimal, dan pertumbuhan kota yang yang tidak carut marut. Barangkali,  jika terlaksananya pantai buatan ini dapat menutupi tingkat korupsi yang tinggi di Bandung. barangkali.

Tapi, justru di sini letak perbedaan warga Depok dan Bandung, yang satu ngedumel, yang satu ngedempul. Pada akhirnya saya sadar, Pemimpin Bandung berhasil membuat warganya peduli terhadap kotanya, bukan terhadap kota lain.

Advertisements

4 thoughts on “Antara Depok dan Bandung

  1. Anekdot politik di Depok itu sedikit miriplah dengan memilih pemimpin di kampung saya. Sebelum pemilihan gubernur masyarakat sudah merasakan bahwa yang akan jadi gubernur setelah pilkada adalah incumbent. Masayarakat memilih bukan karena dia kader pks, tapi karena dia pribadi yang diinginkan kembali karena tauladannya. Secara politik kultur daerah saya adalah lumbungnya pan, tapi calon gubernur yang diusung pan justru kalah telak, 🙂

    1. Loh mending itu kalo kondisinya seperti itu, mas. Artinya penduduk sudah bisa berpikir rasional ketimbang mewariskan budaya dominasi partai tertentu

  2. Intinya kita semua mendambakan kota yang lebih baik untuk tempat kita tinggal dan mencari nafkah ya Mas :hehe. Sekarang tergantung siapa yang mau bertindak dan siapa yang terlalu terlena dengan zona nyamannya, yang akhir ini akan malas untuk mengubah keburukan yang terjadi. Tapi menurut saya Tuhan Maha Penolong kok, pasti akan ada pemimpin-pemimpin baik ketika masih ada rakyat-rakyat yang butuh pertolongan :hehe ngomong apa sih ini :haha. Mudah-mudahan keadaan Depok bisa jadi lebih baik dan keberhasilan Bandung menular ke seluruh Indonesia :amin.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s