Seperti Bunga di Pohon

Ada satu kebiasaan yang belakangan sering kulakukan. Mengecek ponsel dan berharap ada nama kamu di sana. Mungkin bodoh mengharapkan sesuatu yang hampir sulit menjadi nyata, seperti mengharap benda di sekelilingmu bisa diajak bicara. Tapi kadang kita malah belajar dari kelakuan bodoh yang kita lakukan, bukan? ah, ya ini adalah upayaku untuk berdamai dengan keadaan, alih-alih menerima realita namun di satu sisi harap-harap itu selalu menyala.

Kita kerap ditelanjangi oleh hal-hal sepele yang jika dipikirkan justru menguras energi. Menanti kepastian misalnya. Ia seperti pohon yang sudah kita perhitungkan akan berbuah bulan ini namun takkunjung tiba. Angin semilir yang menggerakkan daunnya seolah tahu kita menunggu, lantas mengajak bercanda dan mengolok-oloki kita dengan daun-daunnya yang terus berjatuhan.

Tapi kutahu, kau bukan pohon yang tak mungkin diajak berbincang tentang film terbaik minggu ini atau tentang musik indie yang jarang didengarkan orang. Pohon tidak mungkin bisa membuatku seharian memikirkan hal-hal di luar rutinitasku, mengisi pikiranku dengan harapan, dan menguras tenagaku semalaman.

Barangkali ini menjijikan bagimu. Tapi, ini hanya bentuk pengakuan bahwa mencintaimu ternyata sedemikian melelahkan. Kalau tahu begini, aku memilih mencuci puluhan motor satu hari daripada menunggu kamu membalas pesan. Tentu kau tahu, aku lebih memilih yang kedua. Sebab, yang pertama baru akan kulakukan ketika kamu membalas pesanku.

Mungkin di matamu aku terlihat egois, menyukai sesuatu tanpa tahu sebab. Tapi perlu kamu catat, alasan-alasan itu akan kamu dapat ketika kita telah bersatu. Ya, untuk mengisi hari-hari awal kita dengan membahas kejadian-kejadian bodoh kita dulu, saling pandang dari kejauhan, saling mendoakan diam-diam, atau mungkin ternyata kita saling menunggu pesan. Aku tak tahu.

Aku hanya tahu mencintaimu tak sesederhana ini. kayu terlanjur mengucap pada api agar tidak menjadikannya abu. Kamu terlalu rumit. Kamu lebih suka diam, menonton film seharian, mendengar musik indie, atau pergi ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang. Hal-hal yang secara tidak sengaja membuatku melakukan hal yang sama.

Setelah kamu membaca tulisan ini, mungkin kamu berpikir aku seperti anak kecil yang merengek pada ibunya karena kehilangan balon. Tak terima dan harus mendapat balon yang sama agar bisa diam. Tapi, bukankah seperti ini maksudmu? Melakukan apa yang aku suka tanpa harus berpura-pura suka pada sesuatu?

Mungkin aku harus sadar bahwa bunga yang indah tetaplah pada pohonnya. Ia tak mungkin tumbuh ketika telah tercerabut dari pohonnya. Ia hanya menghadirkan romantisisme sesaat lantas hilang begitu saja tertelan waktu.

Aku menginginkanmu, saat ini, esok, dan seterusnya. Mengajakmu berkeliling kota, menghabiskan secangkir teh sambil menghitung mundur matari terbenam, mendengarkan musik di bawah ribuan bintang. Tapi aku sadar kau bukan kantung doraemon yang menyediakan segala hal. Kau tetap dengan pendirianmu, aku tetap dengan kepongahanku.

Aku harus menyadari bahwa keegoisan tak menghasilkan apa-apa. Ia hanya melahirkan dugaan bahwa tak ada orang lain di luar sana yang kau kagumi, ia yang mengagumimu dengan tulus, ia yang selalu mendorong setiap kegiatanmu, ia yang tak harus jadi orang lain untuk mencintaimu.

*tulisan ini didedikasikan untuk teman kosan yang sedang menanti kepastian

Advertisements

4 thoughts on “Seperti Bunga di Pohon

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s