Menjadi Orang Lain

Pada salah satu foto yang diunggah Arbain Rambey di Instagram, ada tulisan menarik yang dituliskan Arbain Rambey pada salah satu foto yang diunggahnya. Ia menulis bahwa selalu ada hal yang ingin dibagi dalam melihat, komposisi, lighting, dan “menemukan”.

Sebelumnya, saya mengikuti para seleb Instagram yang kerap mengunggah foto indah nan menawan tentang matahari yang baru bangun, tentang ombak yang menghantam tebing, atau tentang portrait manusia pedesaan. Sehingga tak jarang ketika saya buka Instagram, saya mengetukkan dua kali jari saya pada tiap foto yang mereka unggah.

Pada foto yang Arbain unggah, kadang membuat saya bingung dan bertanya apa maksud dari foto yang ia unggah. Ia kerap “lain” dari para selebgram, dengan foto yang mesti simetris dan dempul sana sini. Tetapi, Arbain beberapa kali mengunggah foto yang tidak simetris dan portrait dirinya. Sehingga, kadang muncul tanya, “ini beneran Arbain atau bukan, sih?”

Kita terbiasa melihat sesuatu yang menurut kita baik atau menjadi standar sebuah foto baik atau tidak. Saya tidak ahli dalam fotografi, tapi saya juga ingin berbagi kepada yang melihat foto saya tentang apa yang saya lihat. Karena apa yang saya lihat belum tentu sama di mata orang.

Kasus ini bukan hanya terjadi pada foto, tetapi pada segala aspek, tulisan misalnya. Menulis ibarat melihat sebuah tembok. Penulis satu bisa saja menulis tentang usia cat yang telah senja, penulis lainnya melihat lubang-lubang yang tercipta di sudut tembok atau pada bercak-bercak tanah yang menempel di pinggiran. Semua perspektif datang berdasar kepekaan dan pengalaman kita memandang sesuatu.

Ada satu kebiasaan yang saya lakukan sebelum menulis, yaitu mengunjungi blog-blog orang dan membacakan satu per satu tulisannya. Terkadang saya bisa berhenti lama di sebuah blog, kadang bisa langsung cabut begitu saja. Alasannya sederhana, ketika tulisan awalnya sudah tidak menarik untuk dibaca maka orang akan enggan melanjutkannya–kecuali punya keterikatan tertentu dengan sang penulis.

Sejauh ini saya sering mengunjungi blog Mas Ardiwilda dan Mas Nuran Wibisono. Kami hanya saling follow di Twitter, tak pernah berjumpa. Tapi jika saya boleh jujur, saya mengagumi tulisan yang ada di blog mereka. Setiap membaca tulisannya, saya merasa seperti anak kecil yang digandeng tangannya untuk jalan-jalan melihat sesuatu dengan cara “lain”.

A.S. Laksana dalam status facebooknya menuliskan penulis sebaiknya menyampaikan pemikiran, mengungkapkan apa yang tidak terlihat di permukaan, mengurai kompleksitas, dan mendukungnya dengan bukti-bukti yang ia temukan di dalam teks yang dibahasnya

Seperti juga pada foto, tulisan yang saya buat juga ingin dibaca oleh orang lain dengan kaca mata saya menulis. Sebab pembacalah yang membuat tulisan itu hidup. tapi saya tidak mengejar tulisan untuk menjadi penulis kawakan karena menulis bagi saya hanya melampiaskan hobi saja.

Ketika berhenti lama di sebuah blog, saya bisa telusuri arsipnya hingga beberapa bulan ke belakang. Alih-alih bisa belajar dari apa yang dituliskannya, malah justru membuat saya demotivasi. “kenapa dia bisa peka terhadap hal yang luput dari perhatian saya?” tanya saya dalam hati.

Kemarin, teman SMA saya, Sahid, menghubungi saya via LINE. Ia bercerita tentang pekerjaannya, ada satu pesan yang saya ingat, “ada satu hari dimana lo akan sangat produktif, tapi di hari lain seharian lo cuma scroll timeline ”.

Benar adanya kita bisa saja produktif melakukan segala hal yang jarang kita lakukan di momen-momen tertentu, tapi kadang semua itu tiba-tiba hilang. Melihat berbagai tulisan membuat saya tertarik untuk terus menulis tapi di sisi lain saya merasa lemas melihat kepandaian mereka menuliskan sesuatu berdasarkan perspektif yang mereka ambil seolah merekalah yang pantas untuk menulis dan saya lebih baik diam di kasur membaca tiap tulisannya. Demotivasi itu juga yang membuat saya berpikir bahwa saya harus mengambil jeda dengan banyak membaca buku dan melihat sekitar untuk menemukan perspektif “lain” itu.

Arbain menutup caption di fotonya dengan menuliskan, “Anda harus membiasakan diri melihat yang tak dilihat orang lain.”. Saya sepakat dengan Arbain, mungkin kita sesaat harus “menjadi orang lain” untuk sekadar melihat apa yang ia lihat semata-mata agar kita mengerti.

post-scriptum: ditulis sambil mendengarkan Fleet Foxes – Tiger Mountain Peasant Song

One thought on “Menjadi Orang Lain

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s