Antara Ibu, Pak Asep, dan Valerie Thomas

Beberapa waktu lalu, saya dan teman, Rizky, dengan sengaja menonton satu video di youtube tentang keseharian keluarga Jeremy Thomas. Selain tak ada kerjaan, kami juga ingin melihat putri Mas Jeremy. Kurang lebih ada enam video bagian yang kami tonton habis seolah video-video tersebut menjadi bahan ujian akhir semester.

Ada yang unik dari yang kami tonton. Setiap adegan yang dilakukan, kami lantas membandingkannya dengan kehidupan kami di kos atau di rumah. Sebuah adegan yang saya ingat ketika Jeremy Thomas masuk ke kamar putrinya. Di dalam kamar Valerie sudah menunggu dengan segelas Starbucks, Rizky tiba-tiba menepuk pundak saya,

“tuh, Van… gitu.. Starbucks jadi kayak air putih” tertawanya menyudutkan saya seolah tidak mampu melakukan hal serupa

“lah, gue juga ada. tuh liat di lemari.”

“mana?”

“itu teh poci”

Dari apa yang diminum sehari-hari saja sudah terlihat beda kehidupan saya dengan Valerie.  Satu pak teh biasa saya beli di awal bulan. Kadang kalau beruntung dapat bonus satu pak lagi. Jika dikonversikan, satu botol starbucks saya bisa dapat 4-5 pak teh.

Keseharian Valerie seperti ke gym, pergi ke mal, hingga bolos sekolah juga tak luput dari mata kami. Adegan lain memperlihatkan kalau Valerie mengoleksi banyak sepatu dan pernah mendapat kado dari ibunya sebuah sepatu seharga 14 juta rupiah. Kami lantas saling berpandangan, saya nyeletuk

“sama dong kayak bayaran gua kuliah 7 semester”

Kami tertawa tanpa arah.

Tak ada iri dengki melihat kegiatan Valerie sehari-hari. Kami pun sadar, ia pantas mendapatkannya karena kerja keras ayahnya sejak dulu. Esok harinya, keseharian Valerie hampir menjadi bahasan senggang dan menjadi bandingan kegiatan kami sehari-hari.

Bagi saya kehidupan Valerie begitu menyenangkan. Terlebih lagi, usia yang masih belia dengan kegiatan yang terbilang mewah seolah menunjukkan kebahagiaan hanya didapat dengan uang. Saya sempat sekelabat berpikir, apakah memang begitu adanya? Kita rela mencari sesuatu yang membuat kita bahagia berapapun pengorbanannya?

Awal tahun ini, penjaga kos saya resmi diganti. Pak Asep namanya. Tubuhnya kecil, berambut tipis, kulitnya coklat tanda sering berbenturan dengan sinar matahari, tapi ototnya keras seperti betis Ismed Sopyan. Kulit dan ototnya dipengaruhi pekerjaan awalnya sebagai kuli bangunan.

Pergantian penjaga ini disebabkan kos yang berdiri sejak 2011 ini sudah jatuh ke orang baru. Banyak perombakan yang dilakukan oleh pemilik baru untuk mengemas kos terlihat menawan. Perombakan ini tentu dibantu oleh tangan Pak Asep. Luas kosan ini sekitar 500m, tingginya sekitar 5 m. pemilik baru memulai perombakan ini dengan mengecat ulang dinding kosan. Sebagian besar diselesaikan oleh Pak Asep. Suatu sore saya bertanya pada beliau,

“pak, emang gak pegel apa sendirian ngecat kosan luas begini?” saya tahu pertanyaan ini cukup retoris karena pak asep adalah kuli jelas dia tidak kaget dengan pekerjaan seperti ini.

“enggak. Bapak mah malah kalau gak ngapa-ngapain malah pegel” saya lantas ditawari secangkir kopi yang ada di depannya. Saya menganggukkan kepala menolak halus tawarannya.

“justru saya malah seneng kalau disuruh kerja gini (ngecat)” tambahnya

Pak Asep mengingatkan saya pada ibu saya. Beliau pun pernah mengatakan hal serupa, katanya kalau diam kepala rasanya pusing dan badan tiba-tiba pegel. Makanya tidak heran lantai rumah selalu disapu beberapa kali olehnya.

Ibu saya seorang wanita karir. Berangkat pagi, pulang sore. Sesampainya di rumah, gagang sapu menjadi sahabatnya. menyapu lantai seolah lantai adalah anak angkat kesayangannya yang belum mandi seharian. Lalu, dipelnya lantai itu dengan teknik yang selalu ia ajarkan ke anak-anaknya, “kalau ngepel tuh diteken dikit biar resik” katanya suatu hari.

Kami sekeluarga kadang suka memberi wejangan, “nyapu mulu bu, istirahat”. Wejangan itu tak pernah digubris betul-betul olehnya. “sedikit, biar gak ngeres lantainya” jawabnya. Tetap saja, seberapa sering kami memintanya beristirahat, menyapu lantai baginya adalah mungkin upaya ibu membahagiakan dirinya.

Ibu maupun Pak Asep keduanya tak pernah keberatan menjalankan kegiatannya. Mungkin jika Valerie yang melakukannya ia akan menggerutu seharian. Tapi, ibu dan Pak Asep tak kenal Valerie, pun saya. Kami terpisah dalam kondisi di mana kebahagiaan nyatanya punya lingkupnya masing-masing.

Kegiatan ibu dan Pak Asep di sisi lain menunjukkan bahwa hidup ini tidak rumit-rumit amat. Kerja kasar setiap hari nyatanya tetap bikin bahagia. Tak ada keluh kesah perihal mencari katarsis dari kesehariannya.

Saya mengingat secuplik tulisan Seno Gumira,

“Kamu sering bertanya: Apakah kegembiraan hidup? Sebuah pesta? Sebotol bir? Sepotong musik jazz? Semangkok bakso? Sebait puisi? Sebatang rokok? Seorang istri? Ah ya, apakah kebahagiaan hidup? Selembar ijazah? Sebuah rumah? Sebuah mobil? Walkman? Ganja? Orgasme? Pacar? Kamu selalu bertanya bagaimana caranya menikmati hidup.” 

Saya sedikit tergelak tiap mengingat cuplikan Seno. Banyak cara saya mencari pelampiasan alih-alih kehidupan ini telah terlampau tengik saya jalankan. Saya dalam kondisi ini selalu mencari bagaimana menikmati hidup yang padahal bisa diciptakan dengan hal-hal sederhana? Saya luput bahwasanya menyapu atau mengecat dinding nyatanya bisa membuat bahagia.

Valerie yang harus ke mal, Pak Asep dan Ibu yang hanya melakukan kegiatan sederhana. Apakah memang benar bahwa bahagia itu punya kelasnya masing-masing? apakah kita tidak sadar suara jangkrik tengah malam bisa membuat tenang? apakah kita tidak sadar suara tetesan air sisa hujan dari genting bisa bikin tenteram? apakah kita tidak sadar? 

Ataukah memang kita yang alpa bahwa kebahagiaan itu adanya pada rasa bersyukur kita?

Advertisements

8 thoughts on “Antara Ibu, Pak Asep, dan Valerie Thomas

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s