Anak Kecil Berbaju Hijau

Siang itu cukup terik, tapi karena banyak pohon rindang, sinar matahari pun serasa malu-malu menembusnya. Membuat suasana serasa teduh. Seorang anak kecil berbaju hijau sedari tadi menusukkan ranting pohon yang jatuh ke dalam tanah. Sesekali mengetuk-ngetuk batu dengan batu yang lain atau menguliti kulit pohon yang kering. Tidak ada teman sebaya yang menemaninya.

Ia bermain-main tepat di bawah saya duduk. Saya bersama seorang teman sedang menikmati secangkir teh di sebuah kedai minuman di Bandung. kedai tersebut didesain menyerupai lokasi berdirinya, di wilayah hutan. Hampir semua furniturnya terbuat dari pohon yang dimanfaatkan sebagai meja maupun kursi. Pada kursinya pun masih terlihat lingkaran tahun selayak pohon yang baru ditebang. Tak ada sudut kedai yang memperlihatkan kemewahan layaknya restoran di tengah kota. Semua didesain menyatu dengan alam.

Tapi, anak kecil berbaju hijau itu enggan bergabung dengan saya dan teman untuk menikmati teh.

“teu gaduh artos, a”

Tidak punya uang jawabnya ketika saya ajak untuk duduk bersama. Saya memang tidak kenal, tapi saya mengajaknya dengan sengaja dengan alih menjadi teman dadakan dia. Bisa juga keengganan itu berasal dari ketidakkenalannya dengan saya. Tapi, saya pikir tidak. Jika memang iya, semestinya ia kabur begitu saya ajak.

“teu rapih bajuna”

Lanjutnya sambil senyum malu. Saya tertegun mendengarnya. Ia melipat kaosnya. tokoh kartun di kaosnya pun terlihat kusut dibuatnya, tangannya merogoh kantung celana sekolah yang ia kenakan. Ia memalingkan wajahnya dan berjalan ke selatan menjauhi saya.

Saya merasa ada keengganan dari anak kecil berbaju hijau untuk duduk bersama kami. Entah karena suasana yang dirasa tidak pantas olehnya, entah karena ia melihat kami layaknya penculik anak. Saya mungkin terburu-buru menyimpulkan, tapi setidaknya, Seno Gumira juga pernah berpikir hal demikian dalam tulisannya mengenai taman di Jakarta. Ia menyebut sekiranya ada dua taman di Jakarta yang boleh dianggap layak, Taman Lembang dan Taman Suropati.

Tapi kedua taman tersebut membuat pemukim ruang tak beratmosfer dan daerah kumuh kemungkinan akan sungkan duduk-duduk di sana tanpa perasaan mengganggu. Juga karena letaknya di wilayah hot spot politik yang malah membuat tegang karena selalu melihat aparat bersenjata.

Sekelabat saya berpikir ternyata bentuk bangunan yang unik di sisi lain menciptakan konstruksi bahwa bangunan tersebut didesain untuk dinikmati orang-orang tertentu. Nyatanya memang benar, tapi saya luput pada hal ini karena konteks bangunan yang dikonsepkan menyatu dengan alam. Yang kita tahu, alam adalah milik semua. Tapi, Seolah ada “kelas” yang tercipta, ada tembok besar yang membuat enggan anak kecil berbaju hijau dengan sendal jepit untuk masuk dan menyeruput teh. Seolah nyaman yang diciptakan hanya untuk orang-orang tertentu, ia mengatur agar orang-orang yang tidak berbaju rapi, berwajah kusam untuk tidak dipersilakan menikmati hidangan atau kalaupun diberi pelayanan, itu tak akan sama.

Saya teringat Nenek Dela. Wanita yang telah hidup lebih dari setengah abad dan tinggal di Kawasan Kumuh Waduk Pluit. Ia mendapat penghargaan perempuan antipenggusuran dari PBB di Kamboja. Namun, ia jadi korban penggusuran yang terjadi di sekitaran waduk pluit. Saya berkesempatan menemuinya di sebuah acara. Sambil mengepalkan tangan, ia berkata cukup lantang:

“bagi orang-orang mungkin kawasan kumuh, tapi bagi kami istana”

Ia mengeluhkan sikap pemerintah DKI Jakarta yang mendorong warga untuk pindah ke rusunawa. Tempat tinggal yang dulu dimilikinya, jika pindah ke rusunawa maka ia harus bayar sewa. Hingga sekarang ia memilih tinggal di kawasan yang menurut sebagian besar orang kumuh. “di sini lebih nyaman” katanya.

Saya melayangkan pikiran ke proyek reklamasi Teluk Jakarta. Pendirian dinding besar yang katanya mampu menangkal pasang air laut dan mengatasi banjir Jakarta hingga 1000 tahun ke depan. tanggul ini rencananya akan membentang dari pesisir Bekasi hingga Tangerang. Lebih jauh lagi, proyek ini akan dikembangkan menjadi proyek terpadu untuk membuat 17 pulau buatan, yang di atasnya akan dibangun perumahan, hotel, pusat bisnis, belanja dan lain-lain.

Pembangunan-pembangunan itu akan terlihat baru dan mewah yang akan menggusur daerah yang menurut orang kumuh dan mengancam profesi nelayan di sekitarnya. Seolah bagai pembangunan taktis yang membuat sebuah kota terlihat menarik dalam kemasan namun luput nilai-nilai kemanusiaan.

Nenek Dela mungkin menakar kenyamanannya sendiri dengan lebih memilih tetap tinggal di gubuk kawasan kumuh ketimbang di ruang 5×9 meter dengan televisi layar datar 21 inch.

Dalam tulisan lainnya, Seno Gumira mengatakan seorang pembantu rumah tangga dari New York yang pulang ke Grobogan dengan konstruksi budayanya, akan membawa langkahnya ke Pasar Tanah Abang bukan QB(toko buku). Kenyamanan seorang pembantu dari luar negeri tidak bisa dipalsukan dengan kenyamanan QB yang adem dan tak berdebu, ia lebih nyaman masuk Pasar Tanah Abang dengan riuh orang dan beragam dagangan juga bau ketek yang seliweran.

anak kecil berbaju hijau mungkin sebuah isyarat bahwa ranting pohon dan batu yang saling diadu lebih menyenangkan ketimbang mengelabui diri dengan duduk-duduk di kursi dan seceret teh di meja.

Advertisements

One thought on “Anak Kecil Berbaju Hijau

  1. Hmmm… memang agak menyedihkan kalau masyarakat sudah terkotak-kotak dalam batasan ekstrem. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Seakan-akan tidak bisa membuat masyarakat yang satu, yang sama-sama sejahtera untuk semua.
    Tapi kalau yang ibu antipenggusuran itu saya rasanya agak gimana ya… mungkin karena saya di pemerintahan jadi kadang agak kesal juga. Kan pemerintah ingin supaya mereka mendapat kehidupan yang lebih baik dan layak. Ini pendapat saya saja sih. Bayangkan kalau semua orang tinggal di tempat yang mereka inginkan tanpa ada aturan, jadinya semrawut kan.
    Pada akhirnya kelemahan ada di sisi pemerintah. Tantangan bagaimana menciptakan dunia untuk semua itu tidak akan pernah habis. Selalu ada orang yang tidak puas. Tapi kita tidak bisa memuaskan semua orang, kan.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s