Melihat yang Lain

 

“kalau diurutin gini kira-kira…” ia mengambil napas “…..laki-laki, wanita, tektektektek, kita”

Lisa meragakan bentuk tangga seolah ada yang berjalan dari atas ke bawah. Merah gincu di bibir dan pakaian yang ketat membuat pandangan mata saya menjalar ke mana-mana. bulu matanya lentik, entah asli entah buatan. Kaosnya yang berwarna putih semakin mengamini mata saya melanglangbuana.

Kami berbincang sewaktu pertama kali bertemu. Ia menjelaskan bagaimana posisi waria di masyarakat. Tangannya begitu lincah setiap diminta menceritakan sesuatu, sesekali menunduk membalas pesan di handphone-nya.

Kulit kakinya lebih mulus dari kaki wanita yang pernah saya lihat. Ia mengenakan celana pendek sepaha. Mata saya benar-benar tak bisa dikontrol. Setelah saya tahu, ia juga waria, obrolan saya kendurkan.

Saya menarik nafas panjang…

Sewaktu di SeHAMA, saya mengikuti kegiatan live in. kegiatan live in ini adalah sebuah upaya untuk menyelami kehidupan dari orang-orang yang jauh dari kata adil. Berkaitan dengan umpatan, dugaan, hinaan, dan kutukan yang sering mereka dapat, empat lokasi ini memang erat dengan yang terjadi di sekitar kita, di antaranya waria, buruh, PKI, dan perkampungan yang digusur. Keempat tema tersebut dibagi ke dalam empat kelompok. Satu kelompok berisi 5-7 orang. Saya kebagian yang pertama.

Jantung saya rasanya melengos begitu saja.

Kelompok saya terdiri dari empat pria dan satu wanita. keempat pria ini, termasuk saya, punya cerita sendiri dengan kelompok waria. Jika berbicara mengenai hal tersebut, kita nyambung karena satu umpatan. Bencong, banci kaleng, duri dalam daging  bahkan orang yang dilaknat Tuhan pun saya kira biasa waria terima. Tak kurang umpatan tersebut pernah terlontar dari kelompok kami, minimal saya seorang.

Bukan tak ada alasan saya pernah mengatakan hal demikian. Kejadian-kejadian tidak mengenakan dengan waria pernah saya dapat sebelum kegiatan live in. Begitu tahu kebagian di lokasi waria, dengkul saya tiba-tiba meleleh seperti lilin yang terbakar.

Lisa adalah seorang waria. Ia memilih menjadi waria bukan karena dorongan maupun paksaan dari rekannya. Murni karena ia merasa nyaman bertingkah feminin.

“aku berani come out waktu SMP. Waktu keluargaku tahu, aku dihadang parang” mimiknya terlihat sebal mengingat masa itu. “tapi sekarang pelan-pelan mulai dari kakakku udah terima. Perlu waktu sih memang” lanjutnya

Kami tinggal di salon yang berasal dari kelompok usaha bentukan waria. Sekiranya ada tujuh waria yang sehari-hari mengisi di salon itu. ada yang bertugas sebagai kapster, penata rias, dan pengelola keuangan. Kami menginap selama tiga hari dua malam. Barangkali menurut saya inilah interpretasi lain dari Tiga Hari Untuk Selamanya. Selama tiga hari dua malam, kami panas dingin.

Cuaca siang Jakarta yang membuat kepala gatal membuat keseharian kami hanya di salon, berbincang dan berseloroh dengan teman-teman waria. Saya merasa percakapan yang berlangsung di sana seperti mengunyah nasi yang kental. Ditelan curiga, tidak ditelan kelaparan. Kami akui bahwa masih ada ruang di pikiran yang membuat kami melihat sebelah mata

***

Kisruh LGBT yang terjadi belakangan mengingatkan saya pada kegiatan live in tersebut. Kondisi di mana orang-orang menganggap LGBT cocoknya tinggal di bawah lapisan bumi atau di dalam kobaran api neraka. Isu ini menjadi hangat ketika pihak UI melarang kegiatan SGRC yang ingin melakukan konseling mengenai LGBT.

Isu tersebut semakin terbakar ketika keluar pernyataan dari Menristek yang mengatakan LGBT dilarang masuk kampus. Omongan tersebut semakin santer lagi ketika muncul pernyataan klarifikasi dari Menristek yang dinilai ‘gegabah’.

Menristek boleh saja dinilai gegabah, lantas mendapat serangkaian hujatan dari netizen. Tapi, perlu kita akui argumen Menristek adalah argumen masyarakat kita. Saya mengambil sampel acak dengan bertanya ke kerabat. Delapan dari sepuluh orang yang saya tanya menjawab hal serupa yang dikatakan Menristek walau tak sama persis. Dua sisanya menjawab abstain tentang keberadaan LGBT, “asal tidak ganggu, yaudah gapapa”.

Jawaban yang keluar dari Menristek jelas gegabah, dengan sederet gelar tapi menanggapi perihal LGBT sedemikian asal-asalan. Tapi, tukang becak? Tukang parkir di mal? Mbah penjual gudeg? Kakek pedagang kerupuk keliling? tidak bisa kita anggap gegabah. Persepsi mereka lahir dari kejadian sehari-hari yang nyatanya mereka belum (atau tidak) siap menerima LGBT secara buka-bukaan maupun tidak. Di sisi lain, persepsi menjadi landasan bertindak manusia.

Perihal LGBT ini bagi saya sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal, dogma agama, pengalaman, dan preseden buruk tentang LGBT. Dari lingkup agama, memang jelas tertera ada kisah tentang kaum sodom dan azab yang diterimanya. Kisah ini saya dapat saat mengaji dulu dan mungkin orang juga mendapatnya pada saat yang sama. Kedua, Pengalaman seperti yang pernah saya alami menjadi alasan kedua mengapa LGBT dianggap sebelah mata. Saya persempit LGBT di ranah pengalaman ini hanya di waria atau transeksual. Pekerjaan sampingan mengamennya sering menjadi olok-olok, lantas waria tersebut menggoda kita dengan gerakan dan tindakan yang membuat kita jengah. Kemudian, preseden buruk tentang waria yang muncul di tv sebagai bahan candaan yang posisinya tersubordinasi oleh lawan mainnya. Serangkaian pengaruh tersebut yang membuat persepsi masyarakat kita monolit dan tunggal terhadap LGBT.

Bagi saya akan percuma jika kondisi masyarakat kita yang geli pada LGBT hanya dibalas dengan makian “pengalaman sedikit”, “kurang bertemu orang”, atau “manusia sok suci”. Sebab, kondisinya tidak pas untuk dilawan dengan hal tersebut. Perlu waktu yang cukup panjang untuk mengubah sebuah persepsi apalagi yang sudah terumuskan menjadi tingkah laku. Pun, hal itu juga berlaku pada mereka yang membenci LGBT. Ada baiknya menahan berkomentar daripada mengeluarkan isi kepala yang hanya melihat dari satu sisi–dan sebetulnya kosong.

Saya teringat satu instalasi di Jakarta Biennale, terpasang tv dan headphone di dinding. Layar tersebut memberikan suguhan seorang pria dan satu buah apel di piring. Instalasi itu dinamai Apple. Laki-laki dalam video itu bernama Kolatt, seorang gay di Myanmar, yang memperlihatkan cara memakan sebuah apel. Mulai dari menggunakan pisau & garpu, memakan langsung dengan tangan, hingga menggantung kakinya dengan tali lalu makan dengan kaki di atas. Kolatt ingin menunjukkan bahwa banyak cara untuk menikmati sesuatu, beda orang, beda cara, beda pula kenikmatan yang dicari.

Apple. salah satu instalasi di Jakarta Biennale
Apple. salah satu instalasi di Jakarta Biennale

Kolatt dalam pandangan saya mencoba membangun persepsi itu. ia mengenalkan cara baru dalam memakan apel, bahwasanya apel tak hanya bisa dimakan langsung dengan tangan tapi juga dengan menggunakan sumpit. Kolatt tak lantas memaksa orang-orang untuk memakan apel dengan sumpit atau jungkir balik. Kolatt hanya menawarkan sebuah cara untuk menikmati sesuatu dari sudut pandang lain.

Kolatt jelas sadar, status mereka kerap menjadikan mereka sebagai korban pelecehan seksual secara verbal, mental, maupun fisik. Banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana cara “melihat yang lain”.

***

Kolatt dalam videonya ingin menunjukkan cara memakan apel yang beragam, tapi sekali lagi, ia tidak memaksa orang untuk mengikutinya dengan makan apel sambil salto atau planking. Kolatt, Lisa, dan kaum LGBT lain hanya ingin menunjukkan publik untuk tidak terpaku pada satu perspektif. Mereka hanya manusia dengan cara pandang lain yang ingin diperlakukan adil. Kolatt telah memulainya, saya rasa kini giliran kita (saya dan Anda yang hanya melihat dari satu sisi saja) untuk mulai membuka sisi-sisi yang lain dan melihatnya dari sana.

Lisa maupun Kolatt tidaklah dibayar menjadi “lain”, bukan kutukan atau sumpah serapah dari warga sekitar. Dalam wawancaranya dengan Melela, dr. Ryu Hasan menyebut preferensi seksual yang mereka pilih adalah keadaan yang sudah terbentuk sejak sebelum lahir atau jika kondisi tersebut dianggap pilihan, bukan masalah. Maksudnya, jika seseorang memiliki kecenderungan menyukai lelaki dan perempuan, tetapi ia tetap memilih untuk menyukai perempuan saja walaupun ketertarikannya terhadap laki-laki jauh lebih besar. Ini tidak apa-apa.

“kita tahu kok kondisi kita gimana di masyarakat. kita juga tahu imej banci itu gimana. Tapi, kita cuma ingin diperlakukan sama kaya orang-orang aja. ” tutup Lisa sore itu

Bagi keluarga Lisa, Anda, pun saya harus mengingat kembali bagaimana Kolatt memakan apel. Jika dia mencoba mengenalkan berbagai perspektif, kita juga perlu melihatnya dari sudut yang lain semata-mata agar kita tidak memandang mereka sebelah mata. Dengan dikenalkan itu, barangkali kita bisa lebih paham agar berbicara tanpa prasangka, bercengkerama tanpa curiga, menerima dan memperlakukan mereka sebagaimana manusia.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s