Membenci Ketidaktahuan

“yang penting hape itu bisa buat telpon dan sms”

Ucap ibu saya dua tahun lalu. ucapan itu sekarag tidak berlaku, setelah saya ketahui ia mengirim friend request ke saya di Facebook.

Ibu bisa dibilang orang yang paling keras ketika tahu anak-anaknya sibuk main hape. Selagi mengurangi interaksi, hape membuat anak-anaknya terlihat jauh di matanya. Layar persegi panjang lebih sering dilihat daripada wajah ibu. Saat itu, ibu menggunakan Nokia. Ponselnya mungil, tuts nomornya sudah tidak lekat dengan penutupnya. butuh pijitan yang cukup dalam agar nomor yang ditekan tampil di layar.

Keadaan berputar ketika ayah memberinya smartphone. Bagai seorang anak yang baru dibelikan mainan, tapi malu-malu memainkannya karena takut rusak. Ia lebih baik dipajang dan digunakan sekenanya. Lama-lama, mulailah beliau meminta diajari cara memakainya. Minta dikenalkan whatsapp, mengirim foto, terakhir saya pergoki beliau sedang sibuk mencari kawan sekolahnya di Facebook.

Jeda menyapu lantai, beliau membuka handphone, mengambil waktu duduk sebentar. Debu-debu sapuannya tergeletak begitu saja. Cahaya dari layar menyentuh hidungnya, senyumnya merekah. Saya meliriknya. Senyumnya makin lebar

sapunya kembali digerakkan sambil berjalan ke arah saya ia menyodorkan handphone­-nya. “ini cara balesnya gimana, Van? Temen SMP ibu kirim pesan di Facebook” saya tersenyum sepat.

Saya teringat betapa bencinya ibu pada smartphone. “Semahal dan sebagus kualitas smartphone, ia tak berguna jika tak diisi pulsa” katanya suatu masa. Kesehariannya kini selalu diselingi waktu untuk membuka facebook dan menambah daftar pertemanan dengan teman-teman masa sekolahnya dulu.

Ibu mengingatkan saya pada kondisi dan sifat manusia belakangan. Ia mudah membenci yang mereka tidak ketahui. Seolah manusia seperti api yang membakar kayu apapun bentuknya. Bagi saya, kebencian lahir karena ketidaktahuan. Ketidaktahuan itu yang akan melumat pikiranmu, membulatkannya, lantas melempar akal sejauh-jauhnya. Sehingga nafsu leluasa menggerakkan pikiranmu.

Ini mungkin yang terjadi pada diskriminasi terhadap kaum minoritas. Mereka selalu dianggap ancaman karena berbeda dari yang lain dan ditakutkan memecah dominasi mayoritas yang ada. padahal, yang mereka inginkan hanya hidup tenteram di lingkungan. Tapi, stigma, ketakutan, bahkan anggapan ancaman menjadi makanan keseharian.

Mudah memang memelihara kebencian, peliharalah ketidaktahuan. Selamanya ia akan mengikatmu pada stigma dan ketakutan. Menguncimu pada pengetahuan. Mengajakmu untuk berlaku layaknya binatang. Tapi, memang nilai yang diwariskan kemanusiaan seperti kata Pram hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Selebihnya, hanya kebebalan yang membenarkan lakumu segala-galanya.

Ibu, wanita pramodern yang hidup hingga zaman milenium, berhasil mematahkan ketakutan itu. ia berani mencoba keluar dari stigmanya terhadap media sosial. beliau sadar bahwa untuk tidak terkontrol penuh oleh ponselnya, ia mengontrolnya. Ia paham bahwa komunikasi dengan anaknya adalah hal utama. Bukan karena ia sengaja menyediakan waktu untuk saya, melainkan ia paham akan kewajibannya sebagai orang tua.

Barangkali jika manusia paham akan peran dan statusnya, semestinya ia tak takut untuk belajar hal baru. Sebab, hal baru akan dianggap sebagai pengetahuan bukan ancaman. sedang, jika kita membencinya bisa jadi kita memelihara ketidaktahuan.

kali kedua saya memergoki ibu membuka facebook dari ponselnya, saya meledek “ciee facebook-an terus nih”. wajahnya mesem-mesem, “biarin kan gak tiap hari. lagian ivan juga gak mau temenan sama ibu di facebook”

13 thoughts on “Membenci Ketidaktahuan

  1. haloooo…
    sebegitu terbungkuskah akal budi
    sehingga membungkus kalimat ini
    “Ketidaktahuan itu yang akan melumat pikiranmu, membulatkannya, lantas melempar akal sejauh-jauhnya. Sehingga nafsu leluasa menggerakkan pikiranmu.
    Ini mungkin yang terjadi pada diskriminasi terhadap kaum minoritas”

    duhai pendukung minoritas….
    alangkah mulianya dirimu..
    alangkah celakanya mayoritas..
    mayoritas yang penuh kebencian…

    tidakkah engkau melihat begitu banyak dari mayoritas..
    yang memberi pelayanan…
    ketika minoritas mempunyai problem…
    yang terjadi adalah penyakit ingkar
    saking banyaknya kebaikan mayoritas
    begitu minoritas diingatkan demi kebaikan dirinya
    maka hilanglah syukur

    sebegitu terbungkuskah akal budi
    sehingga seolah-olah mayoritas mendiskriminasi minoritas…
    bukalah mata lebar-lebar…
    bukalah hatimu….
    duhai pendukung minoritas yang mulia…

    1. Wahai mas yang mulia, Diskriminasi pasti tersasar pada minoritas. Saya tak menyebut minoritas pada pihak2 tertentu lho. Jika dalam mayoritas, ada satu orang berbeda(minoritas), itu potensial diskriminasi bukan?

      1. contoh : satu kebijakan pemda oleh pimpinan dari gol minoritas, melarang trotoar untuk jualan saat hari besar mayoritas.
        lalu membolehkan trotoar untuk jualan saat hari besar minoritas.
        siapa yang diskriminatif? ini bukan potensial.

          1. Contohnya tidak sesuai. Pernyataan mas yang mulia pun begitu. Ya saya manut mas dari dua sisi. Tapi yang kena diskriminasi kan tetap satu sisi. Mas yang mulia baca komen saya di awal, bukan?

          2. Wahai mas yang mulia, apakah Anda bisa bedakan antara (yg mas mulia sebut) penindasan dan pelanggaran thdp kebijakan?

            Saya ngerasa masnya ini agak merujuk mayoritas=islam, minoritas=nonislam. Gak mas. Fokus saya tidak sektarian. Islam pun bisa jd minoritas. Di Jepang contohnya. Jika di sana mendiskriminasi islam, itu salah. Apa yg harus dilakukan? Membuka mata agar islam tidak didiskriminasi krn minoritas.

            Mas yang mulia sepertinya membaca tulisan saya penuh prasangka.

  2. yang mulia pembela minoritas, mas yang merasa, yang pula yang mempunyai iktikad tentang tulisan di atas. mungkin bukan tentang islam mungkin tentang lgbt, mungkin tentang perokok seperti contoh saya di atas.

    1. Yang mulia katacamar, saya kan sudah jelaskan di komentar awal. Saya tidak mewakili minoritas pada satu pihak khusus. Tp minoritas secara luas. Saya tegaskan lg di komen sebelum ini. Saya tidak mewakili sektarian pun LGBT pun ahmadiyah pun lain-lain.

      Tentu mas katacamar yang mulia paham jika baca tanpa prasangka. Jika dgn prasangka pun tak apa, berarti otentik tulisan saya 🙂

  3. tentu saja, perlu digarisbawahi bahwa diskrimasi bukan mutlak berasal dari mayoritas kepada minoritas, akan tetapi juga dapat dari minoritas kepada mayoritaspun mungkin terjadi. ikutan kebencianpun bisa disandangkan kepada mayoritas dan tentu saja kepada minoritas. Mempotensialkan terjadi diskriminasi dari mayoritas kepada minoritas tanpa menyebutkan kemungkinan sebaliknya adalah kurang bijaksana.terimakasih

    1. beti banget interpretasi penulis dan komentar apalagi tulisan nya otentik, setuju jika melihat standar yg dipake utk satisfaction ourselves…jd utk semuanya ya jln terus sj dalam kebaikan dengan passion masing2

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s