Di Tepi Telaga

Lagi-lagi kukirimkan sebuah surat. Tapi kali ini tidak berisi apa-apa, tidak ada senja dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan seperti yang dikirimkan Sukab pada Alina. hanya goresan tinta dari kertas bekas sisa skripsiku. Aku tahu ini cukup mengherankanmu. Mengirimkan surat padahal jarak rumah kita berdekatan. Tapi, ini baik buatku ketimbang harus menatap matamu dan berbicara terbata-bata sedang kamu bisa saja lebih memilih melihat layar ponselmu atau langit yang tak terjadi apa-apa.

Tadinya, ingin kusisipkan harum hutan sebagai wewangian yang akan buatmu dekat dengan surat ini. kalaupun kau tak baca, paling tidak ia selalu didekatmu karena wanginya. Tapi rasanya itu hal klise karena kutahu kau tak suka sesuatu yang bertele-tele apalagi dibarengi sesuatu yang melankolis. Maka hanya untaian kata-kata yang berisi sederet kisah membosankan tentang kisah kita di masa silam juga tentang harapan yang belum kesampaian.

Kuharap kita bisa kembali bertemu dalam perjumpaan yang sama-sama kita janjikan. Duduk bersama di tepi telaga saat sore tiba. mengulang kegiatan sampai bosan, seperti melempari satu per satu batu pipih yang ketika terlempar seolah ia akan berjalan di atas air. lenganmu sakit sewaktu pertama kali mencoba, tapi kau tetap penasaran. Sampai tanpa disadari batu yang kau lempar itu ada tai kambing di atasnya. Dengan tiba-tiba kau memeperi ke celana panjangku. Saat itu kita  seperti bocah yang dipertemukan banjir depan rumah dan saling mengecipakkan air.

Kita akan diam kelelahan saling memunggungi. Kau berkali-kali minta pulang sedang kumenolak sebelum adzan berkumandang. Sampai kondisi berbalik dari kita yang ingin menikmati telaga, malah air telaga yang seolah menunggu sebuah lakon sandiwara kita berdua.

Tentang topik pembicaraan tidak perlu kau khawatirkan. jika kita saling sungkan, kita bisa mulai dengan saling mengingat tentang pertemuan pertama. Seperti mengingat hal mengapa kau tidak berani menatap mataku lama-lama, mengapa kau selalu mengecek ponsel tiap jeda bicara, juga tentang sisa rotimu yang kuhabiskan. Lantas, kita akan hanyut dalam topik sepele dan saling menertawakan seolah tidak ada yang terjadi di antara kita.

Aku masih seperti dulu sering menghabiskan waktu dengan secangkir teh dan buku. Kegiatan yang selalu kau sebut sebagai pelampiasan dari waktuku yang sibuk. Tapi, hanya dengan itu sekarang kumengisi waktu semenjak kau memilih es krim bersama orang baru.

Tapi, siapa bisa menolak perasaan. Tak ada kepastian dalam perasaan, biar cuma perasaan tetap saja perasaan. Hamkan pun bilang kalau perasaan laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Jika ia jatuh pada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati dan keikhlasan. Jika ia jatuh pada tanah lapang yang tak subur, ia hanya akan menjadi lumpur dan becekan yang mengganggu anak-anak bermain bola.

Seperti yang kubilang, siapa bisa menerka sebuah perasaan. Ia serupa kutukan yang bisa datang kapan saja dan mengingatkanmu dari medium apa saja, seperti mimpi, bayangan, ataupun hal yang memang sengaja kau harapkan. Hidup adalah perkara memendam penyesalan. Kau tak bisa benar-benar lupa dari kesalahan yang kau lakukan, sekali kau belajar melupakan semakin kuat ingatan melawan. Tentu tak mudah bukan melupakan kebahagiaan yang tercipta dari lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang di pantai atau ketenangan hutan dengan suara tonggeret, burung bercuitan, dan daun-daun yang gugur. Hal-hal yang yang sulit kita relakan untuk ditinggal. Kupikir perasaanku padamu juga demikian.

Ada beberapa hal yang ingin kuceritakan lebih jauh lagi. Hanya saja, untaian kata yang panjang hanya akan membuatmu bosan seperti buku teori sosiologi modern yang merangkum pikiran Marx hingga Durkheim tapi kau pilih membacanya melalui simpulan.

Jika kemudian pertemuan itu benar-benar ada, di tepi telaga akan kuselesaikan kisah-kisah yang tertinggal dengan sepotong roti serta teh hangat. Akan kubuat keadaan yang kurang lebih sama persis saat perjumpaan pertama kita. Sehingga kau akan menganggap segala yang terjadi hari ini, tak lebih dari kenangan masa lalu yang selalu bisa diam-diam kita tertawakan meski kita berbeda jalan.

9 thoughts on “Di Tepi Telaga

  1. wah cerita yang mengesankan, ada sosok kekaguman yang diselipi rasa malu, sebuah kisah masa lalu menurut saya ceritanya bagus, saya kagum atas penulisan anda Good Job, dan salam kenal -Widia Mulyani-

      1. sama-sama, saya senang terhadap orang yang bisa diajak bekerja sama, sama-sama memberi ilmu tentang penulisan dan saya harap anda juga seperti itu 🙂 saya senang bisa berkenalan dengan anda.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s