Tentang Ruang yang Kita Ciptakan

Kita pernah bersama dalam satu ruang di mana kita ribut soal bayang-bayang yang kita ciptakan sendiri. tentang rumah idaman kelak yang akan kita tempati, kau mulai berujar perihal kolam renang, taman, dan teras rumah tempat kita melepas matahari yang kan tenggelam. Sedang aku, mengamini setiap ucapanmu, setiap ide yang muncul tentang kita walaupun sebenarnya kutahu kita masih disibukkan dengan tugas akhir yang seolah tidak senang melihat sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.

Tentu kau ingat itu kan, puan? Di masa ketika tidak ada satu hal pun yang mengganggu kebersamaan kita. tidak ada guntur yang setiap menit bergelegar bahkan, tidak ada seekor cicak di sudut ruang yang sering membuatmu terjerembab begitu tahu ada binatang kecil nan menggelikan itu. kita hanya disibukkan dengan rencana-rencana kita ke depan, berlibur di deretan pantai Gunung Kidul, atau mengunjungi bukit-bukit tinggi di Bandung. Seolah rencana itu satu demi satu kita mampu jejaki bersama. Tak ada aral, tak ada godaan yang bisa meluluhlantahkan kemauan kita. di satu ruang di mana kita merasa hidup di dunia doraemon ketika semua hal dapat terwujud.

Kita pun mencoba menyiasati kegagalan, memperkirakan sebuah cara mengelabui nasib. “memang bisa?” tanyamu sambil mengernyitkan dahi. “jika kita sudah menduga sesuatu, kenapa tidak kita coba cari jalan agar hal itu tidak terjadi?” tungkasku meyakinkan. Lalu, kita susun satu per satu siasat tersebut. Kamu ingat, puan? Di hari yang lain, kita menghabiskan beberapa jam untuk membuat daftar masalah-masalah yang diduga akan mendatangi kita? lantas kita coba cari jalan keluar bersama sambil tertawa seakan-akan masalah serupa sandiwara tiga babak yang bisa kita tebak bagaimana akhirnya.

Tapi justru di sanalah kesalahan, kasihku.

Kita mungkin tak bisa mengelak tentang kebaikan semesta yang memberi kita waktu untuk mencipta sebuah ruang di mana kita bisa bebas berharap, berpelukan, berciuman sekalipun berupa bayang-bayang. Menciptakan sebuah kehidupan baru yang berisi hal manis serupa surga dengan langit yang selalu keemas-emasan, dengan kokok ayam yang membangunkan kita di waktu subuh, dengan decit burung yang menemani pagi kita. kita kadung terjatuh ke dalam kefanaan yang sialnya kita ciptakan sendiri.

Semakin hari kita mulai disadarkan bahwa upaya mengelabui masalah adalah hal paling sia-sia di dunia. Bagaimana pula kita bisa sekonyong-konyong mengelabui masalah semudah menghindari macet di jalan protokol. Masalah, nyatanya bukan serupa sandiwara, melainkan seperti udara yang akan mengisi ruang melalui celah-celah kecil yang tidak kita perhatikan, kasihku.

Kita luput, kasihku. Kita luput bahwa ada sebuah jeda yang harus diambil. Jeda yang mengejutkan kewarasan kita bahwa kau dan aku ialah manusia. Ia yang menyadarkan kita bahwa hidup bukanlah bagaimana belajar mengelabui masalah atau memupuk harapan semata, tetapi belajar mengikhlaskan sesuatu yang tak bisa kita capai bersama.

Kau boleh saja terbang ke manapun kau mau, bersama burung ataupun pesawat. Ke bukit maupun ke lembah. Ke tempat di mana kau bisa sendiri, melegakan pikiranmu, agar emosi yang kau katakan waktu itu bisa diredam dengan buih-buih ombak atau teduh pinus.

aku akan kembali ke ruang, memperbaiki gentingnya yang bocor, dindingnya yang rembes air, atau lantai-lantai yang tidak simetris, akan kuperbaiki setiap detilnya yang terlihat dalam pandangku. Akan kubuat diorama pedesaan dengan gunung yang tidak terlalu tinggi agar kita bisa menaikinya bersama saat sore, di bawahnya juga ada lembah dengan sawah dan padi yang masih muda, juga kalau kau mau ada nenek-nenek yang sedang mencuci pakaian di pinggir sungai supaya kita bisa sejenak menertawainya. Kau mau?

“aku lelah,” jawabmu singkat

One thought on “Tentang Ruang yang Kita Ciptakan

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s