Untuk Anakku Kelak

Pukul sembilan malam, tubuhmu tetiba gemulai seraya mencari posisi terbaik dalam tidurmu sambil meringkuk di bawah selimut. Kau jajaki malam ini dengan teduh. Sesekali kau kupergoki mengigiti jari yang kau pikir itu susu ibumu atau botol dotmu. Tiap gerakanmu kubalas dengan senyum seraya membayangkan ketika kau besar nanti.

Ketika  kau akan resah dengan tingkah laku orang di sekitarmu sampai akhirnya kau bertanya “mengapa orang-orang selalu ingin tahu kehidupan orang lain?” kau tak perlu heran maupun khawatir. Keingintahuan itu sesungguhnya baik, anakku. Keingintahuan adalah asal muasal pengetahuan. Hanya saja segelintir orang memelintir keingintahuannya untuk mengetahui kehidupan orang lain.

Kau tak perlu kaget jika orang-orang lebih piawai menduga pelet yang menyebabkan anak lahir tak sempurna ketimbang memerhatikan kromosom dalam tubuh manusia. Memang sesuatu yang mengherankan itu selalu menarik perhatian banyak orang, anakku. Di saat teman-temanku sedang sibuk meneropong komet, sedang aku sibuk mencocok-cocokkan sesuatu.

Barangkali jika aku ingin tahu bagaimana tentang terjadinya gerhana matahari, tentang perdebatan sederhana antara ayam dan telur, atau tentang kehidupan di planet mars itu akan lebih baik. Kita memang lebih senang menyumpah dan menghakimi sebagai manusia. Tapi, kau tak perlu mengikuti langkahku, kecuali kau mau belajar.

Aku senantiasa yang akan mengajarimu, memberikanmu pilihan, mempertemukanmu dengan teman-temanku yang ahli pada bidang tertentu untuk sekadar menjawab pertanyaanmu, atau menghadirkan lelucon sederhana yang mungkin membuatmu tertawa terpingkal-pingkal atau menyesal mendengarnya. Sebab dari sana kau akan belajar, anakku, bahwa kita dituntut untuk banyak tahu semata-mata agar kita tak mudah membenci sesuatu. Banyak sekali kisah kebencian yang hadir dari ketidaktahuan, mereka menolak ingin tahu karena menganggap apa yang diketahuinya pasti benar.

Kita akan mulai dari dalam rumah. Semisal kita akan sering berbincang di meja makan, teras, atau balkon untuk saling bercerita perihal kegiatan sehari-hari. Seperti kemacetan kota, banjir semata kaki, buruh-buruh komuter yang menerjang ibukota. Mengapa masalah yang muncul sejak lama takkunjung beres hingga satuan bahkan puluhan tahun? kombinasi antara kelalaian negara dan ketidaksadaran warga membuat masalah-masalah itu lestari, anakku.

Tenang. Aku tak sedemikian kaku yang hanya berbicara bagaimana kehidupan berlangsung atau menyuruhmu belajar dengan baik. Kau juga boleh sesekali bercerita tentang kelangsungan pertemananmu dan kalau ada aku juga siap mendengarkan tentang seseorang yang berhasil membagi cintamu padaku. Entah setelah ku pulang kantor larut malam entah akhir pekan. Mata dan telingaku akan kubuka lebar hanya untuk mendengarmu bercerita.

Kita akan saling bertanya dan tertawa hingga membangunkan ibu dari tidurnya. Lantas, memarahimu dan menyuruhku segera menjerang air hangat untung mandi. Seketika itu mungkin aku menyadari ternyata hidup ini hanya repetisi, masalah yang hadir sama saja namun tingkat kerumitannya yang berbeda.

Anakku yang manis,

Barangkali beberapa kisah dariku sering terdengar rumit, tapi kau berhak dan wajib tahu, anakku. Dari dalam rumah ini kau akan belajar demokrasi. Keluarga inilah negara dalam skala kecil, ada tempat tinggal sebagai wilayah; ada aku, ibu, bude, dan pakde selayaknya pemerintah yang berdaulat; ada Pak Kosim, Ibu Budi, Bi Yuni, Mas Rian yang mengakui keberadaan kita sebagai tetangga; juga kau, selayaknya rakyat yang tinggal di sebuah di negeri. Sebagaimana sebuah negara, aku berkewajiban untuk memberimu makan, upah, istirahat, atau dengan kata lain kehidupan yang layak.

Perananku sebagai yang tertua di rumah juga tak membuatku untuk berlaku sewenang-wenang. Kau boleh saja kecewa, protes, atau marah kepadaku karena kupulang terlalu larut dan berangkat terlalu dini hingga salimpun kau tak sempat. Kau boleh membangunkan tidurku di akhir pekan, memintaku untuk menemanimu ke taman. Kujamin aku tidak akan marah atau membuatmu untuk mengerti keadaanku. Sebab dalam demokrasi adalah ruang untuk berbuat salah agar kau belajar.

Kau juga dapat terapkan ide dan ekspresimu ke dalam desain sebuah kamar. Kau bebas memilih warna yang kau suka, mungkin kau ingin menyamakannya dengan warna kesukaan pacarmu? Tak masalah. Menentukan letak jendela agar sinar mataharinya tak memantul langsung ke arahmu dan membangunkanmu tidur, juga menentukan letak lemari, meja belajar, tempat tidur, dan tv sesuai dengan yang kau mau.

Kau tak mau sesekali bercerita tentang seseorang yang kau cintai? Aku janji tidak akan menceritakannya pada ibumu. Apa mungkin sekarang terlalu larut? kau bisa selesaikannya di akhir pekan nanti.

Terlalu sempurna, anakku? Kutahu kesempurnaan sesungguhnya tidak pernah ada, tapi mengejar kesempurnaan bukan sebuah kesalahan, kan?

Pukul dua dini hari, kakimu lolos dari selimut. Hawa dingin menerobos masuk dari sela-sela jarimu yang mungil. kau gerak-gerakan seluruh bagian tubuhmu agar tetap hangat, seketika tangismu meledak. Aku bergegas memasangkan kaus kaki dan memukul tubuhmu pelan-pelan.

Peluk dan kecup hangat,

Ayahmu

6 thoughts on “Untuk Anakku Kelak

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s