Klakson Telolet: Sebuah Pengingat

Selepas isya, biasanya saya dan teman-teman berbincang di balkon kos. Perbincangan dimulai dari hal-hal kecil, candaan, sampai merencanakan masa depan. perihal masa depan sudah teramat sering kami bicarakan, dari tahap serius hingga rencana-rencana itu malah jadi bahan tertawaan bersama. Hal ini hampir sering kami lakukan, seolah membayar waktu kumpul yang dipakai kuliah.

“enak kali ya kerja di daerah Sudirman” ujar teman saya. Sudirman ialah jalan utama Jakarta dan merupakan pusat bisnis yang terkenal dengan poros Sudirman-Thamrin-Kuningan. Setiap saya melewati poros ini, tak jarang saya melihat lelaki dengan kemeja slim fit, celana bahan, sepatu bally, dan rambut yang klimis seolah menjadi potongan ideal seorang karyawan dengan telepon yang tak berhenti berdering, rencana pertemuan yang berhimpitan, dan jadwal kerja yang demikian padat. Walaupun kita tidak pedulikan lebih jauh apakah ia makan siang di kantin supir atau tidak.

Berbicara masa depan tidak berhenti pada akan di mana kami bekerja, tapi sudah sampai tahap di luar kewarasan. Seperti persoalan rumah, kami masing-masing membayangkan bagaimana idealnya rumah idaman. Dengan tanaman-tanaman bonsai, dengan garasi yang lebar, atau dengan teras tempat ngaso di akhir pekan. “rumah dengan halaman yang luas, tidak bertingkat biar tiap anggota keluarga mudah berinteraksi satu sama lain” kata seorang teman.

Bayang-bayang itu menjadi batas kesuksesan yang secara bersamaan ada standar kebahagiaan yang tercipta juga dari sana. Menjadi karyawan di poros Sudirman-Thamrin-Kuningan dan memiliki rumah dengan halaman luas mungkin harapan bagi beberapa orang. Berpakaian elegan bak eksekutif muda, menggantung jas saat pulang kerja, memesan taksi, menikmati kemacetan, dan melaporkannya di media sosial seolah menjadi pencapaian yang wow bagi pekerja Jakarta.

Pembicaraan di antara kami memang selalu diselingi canda supaya kami tetap melek bahwa ada tugas menumpuk dan skripsi yang takkunjung beres. Sederhananya, kami berharap tanpa optimisme.

Kami sempat membicarakan bunyi klakson bis yang unik. Klakson telolet, begitu orang-orang menyebutnya. Saya lantas iseng mencarinya di Youtube. Saya mendapat satu video unik tentang klakson telolet ini ketika anak-anak mendatangi bis yang sedang menepi, berteriak ke arah bis meminta supir membunyikan klaksonnya. Supir itu pun mengerti, klakson dibunyikan, anak-anak merekam dengan ponselnya. “lagi bang, lagi” pintanya. anak-anak tersenyum lebar. Lantas, di antara kami terkejut bahwa ternyata ada yang bahagia dengan sesederhana itu

Di waktu lain, saya iseng mengeklik profil orang di Instagram yang memberi komentar di artis idolanya. Pada salah satu fotonya, ia menunggah foto idolanya. “YaAllah senangnya fotoku di-like sama mbak Aura Kasih. terima kasih, mbak” tulisannya di judul foto menandakan kebahagiaan. Tulisan itu mengalir saja begitu saya baca. Ia tak perlu filter lagi apakah saya akan tersenyum atau tidak. Jelas, saya tersenyum kecil. Saya senang melihat kebahagiaan yang hadir dari hal-hal kecil.

Goenawan Mohammad menuliskan kalimat sederhana pada salah satu catatan pinggirnya di Caping 7. Ia menulis, “Jangan-jangan Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan, melainkan pada momen-momen kini dalam hidup—yang sebentar, tapi menggugah, mungkin indah.”

Anak-anak yang meminta supir bis membunyikan klakson telolet dan pengagum yang mendapat like dari artis idolanya bagi saya adalah antitesis dari takaran kebahagiaan yang diciptakan saya dan teman-teman. hal-hal sederhana itulah tamparan nyata bagi saya yang menakar kebahagiaan hanya dicapai dengan terwujudnya keinginan-keinginan kita. boleh jadi betul yang dituliskan GM bahwa ada kebahagiaan kecil yang mungkin sebentar, tapi menggugah, yang seringkali kita tidak melihatnya sebagai sebuah pencapaian.

Barangkali tidak seimbang membandingkan dua hal tersebut, tetapi ada celah dari standar kebahagiaan yang kami ciptakan. celah yang seakan-akan membisikkan “eling, mas, eling”. dan pada celah itu pula ada like dari idola muncul dan klakson telolet berbunyi.

ditulis sambil mendengarkan musikalisasi puisi Dingin Tak Tercatat – Ari Reda

Advertisements

6 thoughts on “Klakson Telolet: Sebuah Pengingat

  1. Jadi inget kalimat ‘Bahagia itu sederhana’ sesederhana anak-anak mendengar suara klakson, atau sesederhana foto yang dilike sang idola :’) sesederhana apa yang kita inginkan tercapai 😀

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s