Nasi Goreng adalah Magnum Opus

Seorang kawan pernah bilang, “kalau kalian bingung lihat menu makan di restoran, pesanlah nasi goreng” ucapnya diliputi tawa. Nasi goreng, katanya adalah jalan terakhir jika kita ragu apakah makanan di restoran itu enak atau jika kita kekurangan biaya untuk memesan menu favorit. Bisa jadi teman saya benar. Bermodal nasi dan kecap, makanan yang kemudian goreng ini setidaknya mudah diterima oleh lidah kita. Tapi, bagi saya daripada memilih nasi goreng sebagai pilihan terakhir, saya lebih memilih pesan minum saja.

Nasi goreng, bagi saya, adalah magnum opus. Sebagai sebuah “karya”, nasi goreng tentu tak bisa dibuat main-main walau hanya menggunakan bahan yang mudah didapat. Bumbunya harus diracik baik-baik, komposisi penggunaan garam dan micin harus seimbang, juga teknik memasak yang tidak asal osek-osek. Saya meyakini bahwa tukang nasi goreng yang baik bukanlah yang pandai melempar nasi kemudian menangkapnya kembali ke wajan, tetapi mereka yang pandai mengatur jumlah nasi yang masuk ke dalam wajan.

Saya percaya kalau ada tukang nasi goreng yang memasak lebih dari tiga piring secara bersamaan, pasti hasilnya tidak pernah enak. Pasalnya, komposisi bumbu, micin, garam, dan sebaran api dipastikan tidak merata. Terlebih, lagi osek-osek hanya sekadar membuat nasi berwarna coklat saja.

***

Kecintaan saya pada nasi goreng berawal dari rumah. ibu saya adalah wanita karir. Waktunya sehari-hari habis di kantor sehingga jarang masak di rumah, kecuali akhir pekan. setiap pulang kantor, ia selalu bawa makanan. Kalau tidak, malamnya menunggu tukang nasi goreng yang lewat. Dalam seminggu, setidaknya dua kali saya menyetop tukang nasi goreng.

Saking seringnya, penjual sudah mengenali anggota keluarga saya. Pernah beberapa kali kami tidak menyetop tukang nasi goreng langganan kami, begitu ia lewat di depan rumah, bunyi “tek-tek”nya dibesarkan seolah sebuah kode yang berbicara “woi, nasi goreng lewat nih.”

Biasanya, kami sekeluarga menyantap nasi goreng menjelang pukul sembilan ketika semua kegiatan sudah selesai. Saya sudah selesai belajar, ibu sudah selesai membersihkan rumah, juga ayah baru pulang kerja. Sambil menikmati alunan lagu lawas dan dari acara Tembang Kenangan yang dibawakan Bob Tutupoli, kami menikmati nasi goreng dan saling berbincang.

Saya tidak punya langganan perihal nasi goreng ini. saya hanya meyakini kalau saya turut membantu perekonomian tukang nasi goreng yang keliling. Paling tidak saya membayar lelahnya kaki melangkah dan tubuh yang basah kehujanan. Nasi goreng keliling punya satu tempat di hati saya yang kelak selalu dirindukan.

Nasi goreng keliling pula yang jarang bahkan tidak pernah membuat nasi goreng dalam jumlah banyak. Jika pesanannya lebih dari tiga, ia akan memasak dua kali ketimbang memaksakannya. Tentu karena wajan yang tidak besar untuk membuat banyak porsi dalam waktu bersamaan. Tapi, pada kondisi itulah nasi goreng terasa jujur rasanya.

Sekali lagi, jumlah nasi yang ada di atas wajan amat memengaruhi rasa. Semakin banyak porsi yang dimasak bersamaan, saya bisa pastikan rasanya akan berbeda dengan satu-dua porsi. Rasa jujur ini adalah rasa yang hadir dengan atau tanpa micin.

Beberapa orang, termasuk ibu saya, kerap menghindari micin sebagai bumbu pelengkap. “bikin bodoh” kata ibu suatu waktu. benar atau tidak bukan soal, tapi ibu yang berbicara itu masalahnya. Memang, perlu diakui keberadaan micin ibarat sambal ijo di nasi padang. Seperti ada yang hilang jika tidak dimasukkan. Tapi, di sanalah cita rasa diuji. Jauh sebelum hadirnya micin di dunia, tentu orang-orang dulu menyiasatinya dengan bahan-bahan alami bukan. sama halnya dengan nasi goreng, tanpa micin, tukang nasi goreng diuji kemampuannya. Micin bukan satu-satunya prasyarat enak tidaknya nasi goreng. Seorang penjual nasi goreng juga perlu memerhatikan besaran api.

***

Hal-hal itulah yang membuat saya menolak nasi goreng sebagai pilihan terakhir di sebuah resto. Sebab, nasi goreng bukanlah perihal nasi dan kecap yang diosek-osek lalu dihias garnis dan disajikan menyerupai mangkuk kecil. bisa saja ia ditaruh acak, telur mengumpat di dalam nasi, masih terdapat nasi putih, atau bahkan ada asin yang kau temui di satu kunyahan.

Nasi goreng serupa buku. Ia tidak serta merta dibeli karena murah atau tidak ada pilihan lagi, tapi ia dipilih karena ada proses kecil yang senantiasa dihargai. Terlebih lagi, sebagai sebuah “magnum opus”, nasi goreng bukanlah pengisi perut belaka, tapi bisa membangun nuansa seperti makan bersama keluarga.

p.s.

ditulis setelah semalam menyicipi nasi goreng di depan Stasiun Cikini.

Enak sekali. Silakan dicoba.

Advertisements

7 thoughts on “Nasi Goreng adalah Magnum Opus

  1. hey there and thank you for your information – I’ve definitely picked up something new from right here.

    I did however expertise some technical points using this web site, as I
    experienced to reload the website a lot of times previous to I could get it to load correctly.
    I had been wondering if your hosting is OK? Not that I’m complaining, but sluggish loading instances times will sometimes
    affect your placement in google and could damage your high-quality
    score if advertising and marketing with Adwords.
    Well I am adding this RSS to my email and could look out
    for much more of your respective fascinating content.
    Ensure that you update this again very soon.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s