Dunia di Gerbong Kereta

Seorang kawan berujar pada saya, “Van, gue mulai kehabisan waktu sendiri pas udah kerja.” keluhnya. Ia mengatakan telah kehilangan ruang privatnya dalam hidup. “iya walaupun gue kalo di kamar tidur sendiri, tapi gue ga bisa mikir apa-apa” lanjutnya. Ruang privat yang dimaksud kawan saya adalah waktu kontemplasi. Kondisi saat ia mencoba mengenali diri sendiri.

Hampir mirip dengan yang saya lakukan. Sejak kuliah, setidaknya ada satu hari dalam sebulan saya meluangkan waktu bangun tengah malam untuk merefleksikan diri. Berbicara dengan diri sendiri, terucap maupun tidak, membayangkan hal-hal yang membuat saya tenang saat itu juga.

Prosesi ini bukan tentang melihat keberhasilan saya saja, tetapi kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan. Baik yang orang lain sadar, maupun tidak. Dimulai dari kegiatan sehari-hari sampai kegiatan yang jarang saya lakukan. Kadang bukan untuk refleksi yang dalam, hanya sekadar cuap-cuap belaka.

Hal yang saya refleksikan biasanya tentang kegiatan sehari-hari yang melibatkan orang lain. Berkaca kembali melihat kelakuan yang lalu. semacam momen pengingat bagaimana hubungan saya dengan orang lain. Terkadang membayangkan sesuatu yang mungkin-bahkan sulit-terjadi sampai saya senyum-senyum sendiri.kontemplasi ini kadang menghabiskan waktu seperempat sampai setengah jam atau bisa lebih cepat ketika saya kelelahan.

Pernah satu waktu, saya menyatukan satu momen dengan momen lain. Seperti membayangkan ketika saya sedang berbicara depan orang banyak, tiba-tiba berak keluar begitu saja tanpa aba-aba. Atau menjadi dalang dalam satu lakon yang pemainnya teman sekolah dan teman kuliah yang tak saling kenal. Mengatur watak mereka satu per satu dan pembuatan alur cerita. Saya tidak terlalu memikirkan perihal keefektifan rutinitas ini. Bagi saya, ini adalah momen memahami kehidupan dan menghidupi segala hal di sekitar. Setidaknya, saya bebas dalam pikiran saya sendiri tanpa mengganggu orang lain.

Saya meyakini yang kehilangan ruang privat ini bukan hanya saya dan kawan saya. Sederhananya, semakin banyak kegiatan seseorang, ia harus merelakan setidaknya satu kebiasaannya untuk ditinggalkan. Saya sering bertanya ke diri sendiri, apa tiap orang punya ruang privatnya sendiri? mengambil sebuah jeda untuk memahami diri sendiri?

Di lain cerita, saya menyadari hal unik yang saya temukan dalam kereta. Biasanya, tiap di kereta saya mendengarkan musik dengan headset. Tidak ada interaksi antar saya dengan penumpang lain. Padahal tubuh kami berhimpitan karena padatnya jumlah penumpang. Bahkan, pertanyaan terbuka pun saya jawab dengan anggukkan.

Belakangan, saya coba keluar dari kebiasaan itu. Melepas headset, mendengar suara-suara yang muncul, dan melihat perilaku penumpang kereta. Bukan hal yang dalam hanya kegiatan sederhana saja. Mata saya memandang ke segala arah. Melihat kegiatan yang dilakukan tiap penumpang kereta. Mendengar tiap suara yang keluar dari sudut gerbong kereta.

Banyak sekali ternyata yang luput dari pandangan saya selama ini terutama di kehidupan di kereta: orang yang sedang ngobrol, mendengarkan musik, tertidur lelap, sampai membaca quran. Kegiatan-kegiatan itu bisa dilakukan dalam satu gerbong saat orang melakukan kegiatannya masing-masing. Begitupun pendengaran, suara holder bertumbukkan, batuk penumpang, decit ban kereta yang mengerem, sampai suara perpindahan rel menjadi menarik bagi saya.

Di dalam gerbong, saya bisa melihat pembaca quran dan anak-anak sekolah yang mengobrol dalam satu waktu. keduanya tak merasa terganggu dengan kegiatan lain. ibu-ibu yang tidur tidak merasa terganggu setiap kali tersenggol orang di depannya. Bapak-bapak yang membaca koran tidak risih dengan laju kereta.  Dalam keramaian, justru ada ruang privat yang tercipta.

Masing-masing punya ruang privatnya sendiri tanpa mengganggu ruang privat yang lain. Kereta seolah menyulap gerbong penumpang menjadi ruang privat tiap penumpangnya. Tidak ada distraksi bagi pembaca quran dari kelompok lain yang sedang ngobrol. Terkumpulnya banyak orang dalam gerbong, malah menciptakan proses individualisasi.

Saya teringat satu cerita Seno Gumira tentang penjaja buntil yang tiap hari lewat depan rumahnya. Pada suara tukang buntil itu Seno menyadari adanya objektivitas suara tiap kata “buuuntiiiilllll” diteriakkan. Ini sederhana memang. Ia mengajak kita untuk berlaku realistis bahwa meditasi bukan hanya didapat di atas gunung atau di bibir pantai, ia bisa saja hadir diteriakan penjaja buntil dengan fokus pada suara tersebut.

Seno melanjutkan, dengan memisah-misahkan suara dan mendengar salah satunya, seseorang kembali menjadi dirinya sendiri. pada saat itulah, suara hadir sebagai makna dan lingkungan suara hadir sebagai suatu dunia.

Ini juga yang saya rasakan di gerbong kereta, Mas-mas yang membaca quran, mbak-mbak yang tertawa sendiri memandangi ponsel, anak sekolah yang ngobrol kencang, bapak-bapak yang tertidur, dan ibu-ibu yang misuh-misuh memiliki ruang privat masing-masing. Mereka hadir sebagaimana yang disebut Seno, sebagai suatu dunia, menciptakan ruang privat di gerbong kereta. Ruang privat dalam keramaian tempat saya lebih peka pada keadaan sekitar.

Kawan saya ada benarnya. Kegiatan yang sudah semakin banyak, membuat kami harus mengorbankan kebiasaan-kebiasaan kontemplasi di ruang sendiri itu. Waktu tengah malam itu hilang begitu saja. Tidak ada ruang privat atau semacamnya. Tapi, saya menyadari menghubungkan kontemplasi dengan suasana hening terkadang hanya riasan artifisial. dalam gerbong, memang ramai, tapi dengan hadir di antara mereka dan memaknai kehadiran mereka sebagai sebuah dunia saya lebih mudah peka dari kebiasaan yang saya lakukan di tengah malam.  Nyatanya, saya di kereta, dalam hening, tidak pernah kepikiran untuk berak di depan orang banyak.

Omong-omong, Anda punya ruang privat sendiri?

Advertisements

5 thoughts on “Dunia di Gerbong Kereta

  1. Dulu terbiasa dengan kereta ekonomi, begitu pertama naik kereta non ekonomi, langsung berasa ada yg hilang. Mungkin karena lebih sepi dan lebih tertata, jd kekurangan objek untuk diamati ya.

  2. iya yah,

    ruang ‘privat’ itu bisa tercipta di mana-mana dan bahkan semakin terlihat dg aktivitas individual di tengah keramaian.

    eh, nyambung gak ya ini mksdnya 😀

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s