Bukan Pledoi Sonya

Kemarin, secara tidak sengaja, teman sewaktu kecil datang ke rumah. sambil menunggu ojek pesanannya tiba, saya temani ia ngobrol. Kami banyak tertawa mengingat apa yang pernah dilakukan sewaktu kecil, seperti menaiki kursi berlagak seperti vokalis band dan bernyanyi sekencang-kencangnya. Kelakuan yang kami lakukan dulu, malah kami tertawakan sekarang.

Obrolan kami semakin melebar. Mulai masuk ke ranah pekerjaan dan saling singgung rencana perkawinan. Di tengah obrolan, ia teringat ojek pesanannya takkunjung datang “kampret, mana sih nih ojek” keluhnya. Selang beberapa menit kemudian, ia menghubungi ojek yang bersangkutan. “bang, di mana sih?” nadanya meninggi. Diketahui ojek yang dipesannya kesasar tapi tidak memberi kabar. Habislah, tukang ojek itu dimarahi teman saya. Lantas, teman saya meminta izin untuk pergi.

Amarah yang ia tinggalkan membuat suasana setelah ia pergi malah terasa hambar. Ojek pesanannya memang salah, tapi tidak dibenarkan juga membentaknya. Saya bertanya pada diri sendiri, apa mungkin jika yang menjemputnya kekasihnya, lalu melakukan hal yang sama ketika ia salah jalan? Saya rasa tidak. Kadang kita sudah menentukan ke mana marah kita berlabuh. Kepada mereka yang kita anggap rendah. Kepada mereka yang ada dibalik kesalahan.

Cerita lain juga saya dapat dari media sosial. Sebuah mobil sedan yang berisikan enam orang siswa diberhentikan oleh polwan. Tak terima disetop, semua penumpang mobil keluar. mereka menolak untuk ditilang. Diketahui salah seorang perempuan bernama Sonya malah memarahi polwan dan menyebut nama salah satu keluarganya sebagai tameng agar ia lolos dari tilang. Kejadian itu terekam dan diviralkan, sehingga tak lama, mungkin setelah ia sampai rumah, ia menemukan dirinya sudah terkenal hingga penjuru negeri.

663x442-ngaku-anak-jenderal-meme-sonya-depari-jadi-viral-di-medsos-160407k-rev1
Sonya. pic via money.id

Video yang tersebar itu lantas mendapat kecaman dari pengguna media sosial. karena penasaran, saya menuju salah satu akun media sosialnya. Saya menemukan komentar yang muncul di akun Instagramnya sudah berisi hujatan, olokan, dan ucapan merendahkan lainnya. Saya sedikit mbathin, “di media sosial, gak boleh salah sama sekali, ya”.

Sejatinya, tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari segala bentuk penegakan hukum, baik ditingkat yang paling rendah, seperti tilang. Tapi, toh, kita tidak bisa menafikkan satu hal bahwa siapapun bisa lolos jika syarat terpenuhi walaupun tidak dibenarkan. Kita bisa mengakui apa yang dilakukan Sonya tidaklah patut dicontoh sebagai warga negara. Pelanggaran tetaplah pelanggaran. Membayarnya hanya dengan menjalani proses yang berlaku. Namun, kesalahan Sonya bukan juga tameng yang mengamini orang untuk merisaknya.

Saya melihat beberapa foto Sonya di akun Instagramnya hingga beberapa minggu lalu. haibatnya, di kolom komentar saya menemukan hujatan dan cercaan di luar konteks kesalahannya. Ada yang sesuai konteks, tetapi ada tambahan kata yang masuknya jadi perisakan. Saya melihat manusia bagaikan makhluk bersumbu pendek berbahan dengki dan bengis yang menunggu kesalahan seseorang sebagai apinya. Dalam hal ini, api itu muncul dari Sonya. Lantas, Sonya menyulut sumbu itu yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Nyatanya Sonya tidak sendiri. teman saya, begitu juga Sonya, keduanya memarahi orang karena mereka menganggap dirinya punya kuasa untuk memarahi orang lain. Bedanya, hanya Sonya yang diviralkan.

Arswendo Atmowiloto dalam bukunya Blakanis mengisahkan lelaki tua yang ingin jujur dalam segala hal. Saya ingin mencuplik satu kalimatnya dalam karya tesebut. Ia mengatakan bahwa kekuasaan menjadi tidak baik ketika dia dimenangkan kepada kekuatan lain yang ada. kekuasaan yang menjadi kuat hanya ketika disangga, ditopang banyak kekuasaan.

Dalam hal ini, Blakanis adalah kisah Sonya berlindung dari saudaranya dan teman saya berlindung dibalik statusnya sebagai pelanggan. Keduanya menganggap bahwa statusnya adalah kuasa yang menopang dan mewajarkan mereka untuk mengamini amarahnya.

Padahal, kekuasaan tak hanya dimiliki oleh Sonya dan teman saya, tapi juga kita. Kita yang merisak Sonya. Kita yang ditopang oleh kesalahan yang orang. kita yang pernah berlindung dibalik kesalahan orang lain lantas merendahkannya. Kita yang mengamini bahwa kesalahan adalah alasan untuk kita bisa bebas berlaku apa saja pada pembuat kesalahan.

Lantas, apa bedanya kita dengan Sonya dan teman saya yang seenaknya bertindak karena ditopang oleh kuasa? kita bisa saja mewajarkan tindakan sewenang-wenang kita dengan topangan kesalahan orang lain, tapi itu tak lebih menunjukkan bentuk kemunafikan. Kita bahkan lebih bengis karena melakukan kesalahan ke mereka yang berbuat salah.

ini bukan bentuk pledoi atas kesalahan Sonya. ini adalah refleksi bahwa apa yang dilakukan Sonya bukanlah ekslusivitas. Kita dalam hal lain adalah api juga sumbu. Kita bisa menyulut maupun tersulut. Sebab bisa jadi kita tak lain adalah Sonya itu sendiri.

Post scriptum:

Turut berduka atas kematian Ayah Sonya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Advertisements

11 thoughts on “Bukan Pledoi Sonya

  1. Mental menghakimi kita (orang indonesia) memang sulit dideskripsikan, entah objektif, ataupun subjektif.
    Seperti contoh “tukang ojek”, saya rasa masih wajar (walau saya ga tau seberapa tinggi tensinya), dan engga semua orang setuju.

  2. Kasihan juga sih Sonya. Walaupun saya terus terang sangat benci atas kelakuannya tapi setelah dipikir2 banyak kok orang yang bersikap seperti itu, tidak usah mencatut nama orang lain, memberi uang suap saja sama saja buruknya kan?
    Halo Rivan..salam kenal, makasih sudah follow blog saya, nice writings i like it!

  3. Walau awalnya aku kira bukan membahas Sonya namun ahkirnya membahas Sonya jadi yang aku tangkap ini kisah membahas tentang Sonya.
    Hhahahahah apa aku salah. Padahal di awal aku kira ada romansa dua insan buyar saat datang ojek dari situ baru tahu alurnya…

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s