Kita Pernah

Kita pernah membayangkan duduk di teras rumah, ditemani kicau burung perkutut dan sesekali suara pedagang keliling yang memecah hening. Berkisah tentang pertemuan pertama kita. Saat kita saling menistakan ungkapan-ungkapan sentimentil, saling menuduh siapa yang lebih dulu suka. Iya, bagian yang paling kau suka ketika kita membicarakan masa lalu. kita juga bertanya-tanya mengapa baru dipertemukan padahal bukan hal sulit bagi kita sebenarnya untuk bertegur sapa bahkan kenal lebih dalam.

Kita pernah berbincang bagaimana kota kelak. Akankah ia ramah dengan penduduk-penduduknya? Ataukah ia menjadi monster yang terang-terangan menindas? Saat itu, aku diberondong banyak pertanyaan seolah seorang dosen tamu yang memberi kuliah singkat. Kamu tertegun dan menyadari nyatanya selama ini pembangunan selalu mengakibatkan korban. “tapi, apa ada pembangunan yang tidak membuahkan korban?” tanyamu polos. “pembangunan yang ikut menumbuhkan masyarakat” lantas peluk dan cium mendarat.

Kita pernah saling membenci karena hal-hal terlampau sepele. Kau selalu bilang aku tak pernah menuruti kemauanmu. Sedang, pledoiku kau tak mengerti apa yang kulakukan. Kita terjebak dalam persimpangan saat semua saling membenarkan. Tak ada jalan lain selain saling beradu dalih. Lantas, kemenangan ada di pihak yang paling lama meminta maaf atau kadang maaf itu saling kita kelabui dengan tak membalas pesan.

Kita pernah saling mencintai setelah berdebat semalam suntuk. Seolah subuh menjadi batas amarah. Setelahnya, kita melupakan atau pura-pura melupakan kejadian semalam. Masalah, pada saat itu, seperti upil yang diam-diam ditempelkan di bawah kursi lalu pergi begitu saja tanpa dosa. Bagian dari perjalanan hubungan kita mungkin yang kubilang menarik ketika kita berhasil memandang masalah sebagai hal remeh yang “ah, besok juga usai”.

Kita pernah menertawai tingkah manusia di atas sepeda motor, di dalam angkutan umum, di gerbong kereta, bahkan di layar ponsel. Mereka dengan segala keunikannya bisa sesekali kita jadikan bahan pembicaraan di malam tenang. Saat kau dan aku tak punya bahan perbincangan tapi tetap berhubungan. Terpaksa, mereka-mereka yang pernah selintas di hadapan kita jadi sebuah topik yang menarik untuk dibicarakan. Kau tentu paham. Kita juga belajar dari situ bukan? seperti yang kau bilang ketika kita vakansi bahwa kebaikan, sekalipun, itu keluar dari mulut macan, apa salahnya kita ikuti?

Kita pernah berjanji pergi ke pegunungan atau dataran tinggi. Katamu, biar jaket yang selama ini kau beli terpakai dengan wajar. Mengingat memakai pakaian tebal di Jakarta serupa sauna di siang bolong. Menepi dari hiruk pikuk pekerjaan dan tuntutan hidup. Mendekatkan diri dengan alam, mengingat kita adalah bagian darinya. Menjinakkan tiap jengkal amarah dan egoisme. Kita pernah berdiam dalam sebuah penyesalan.

Kita pernah bertemu dalam linglung dan tanpa arah. Kesalahan nyatanya membekukan suasana menjadi sekeras batu kali. Kita diam dalam penyesalan masing-masing. Tidak ada yang ingin membuka topik perbincangan. Egoisme menjadi garda terdepan. Masalah bukan lagi upil, tapi kuah santan yang menempel di kemeja putih. Sulit dihilangkan dengan air semata, ia butuh deterjen yang kadang malah merusak warna itu sendiri. kita terjebak dalam kesalahan yang kita buat. Tapi kita sama-sama sadar, tidak perlu ada yang mengakui kekhilafan. sebab, itu hanya tak lebih menunjukkan bahwa kau menang dan aku kalah atau sebaliknya.

Kita sepakat mengubur semua yang pernah kita lewati. Membuang jauh-jauh memori tentang pergi dan pulang, tentang masalah dan solusi, tentang membenci dan mencintai, dan tentang sejumput kenangan manis dan getir. Masa silam yang selanjutnya menjadi topik perbincangan bersama sahabat di kedai kopi atau menjelang tidur. Masa silam yang tak lain menjadi bukti sejarah bahwa kita pernah memimpikannya.

Tapi, setidaknya kita pernah.

 

Advertisements

4 thoughts on “Kita Pernah

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s