Seperti Martabak Istimewa

Kadang kau begitu takjub dengan hari-harimu yang terlampau indah sehingga membuatmu lupa bahwa malam telah berputar lebih dari sekali. Semua yang kau khawatirkan sirna oleh kebahagiaan. Lalu, kebahagiaan itu sendiri akan melebur, entah di dasar laut entah hutan belantara, entah mengembun dalam pagi, entah hilang saat muncul matahari. Lantas kau sadar bahwa kebahagiaan memang semu, ia seperti banjir sesaat yang mengalir di depan rumahmu dan surut ditelan malam.

Ada pahit yang terselip di sela-sela jarimu, merambat lalu membekukan sendi-sendi pada tanganmu. Sesuatu yang membuat malammu sejenak diam, menarik nafas panjang lantas berpikir dalam-dalam, tentang kejadian-kejadian penuh retorika yang kau kira telah usai, tentang asa yang kau susun rapi dalam buku catatanmu, perlahan kau susun kepingan-kepingan itu menjadi satu doa yang kembali utuh.

Pada malam yang hampir tandas, kau berdoa agar tak ada lagi akal yang digunakan sia-sia, empati yang semu, juga perhatian yang ikut-ikutan. Menjadi dewasa memang pilihan, tetapi jelas ia adalah pertaruhan. ia bisa menjadi manis yang membunuh seperti biji aprikot atau bisa sepahit kopi tapi masuk akal.

Usia yang akan kau hadapi akan menjadi peradaban baru dalam hidupmu, kau akan menyadari bahwa kebahagiaan maupun kecemasan adalah persinggahan. ia sekadar menanyakan kabar atau memberi titipan salam. tapi kau sadar, sekalipun persinggahan, dari sanalah kau belajar. sehingga, kau mulai memahami bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan.

Dewasa adalah pertanda. tanda kau sulit membagi waktu bermain bulutangkis dengan membaca buku, pergi dengan kawan atau bermalas-malasan di kasur. dewasa juga perkara dilematis bahwa ingin dan butuh bukan lagi pilihan, tapi iya atau tidak adalah jalan yang mesti kau ambil. jalan yang tak berujung dengan banyak tikungan, jalan yang akan mengantarmu ke arah yang kau tuju.

Pada akhirnya, tiap usia baru akan menjadi air yang meraup wajahmu setelah kusut telungkup dalam selimut hari minggu, membangunkanmu dari tidur yang berkepanjangan, juga yang menyadarkanmu dari tiap kesalahan. Usia yang kau sambut dengan sukacita seperti martabak yang selalu kau pesan istimewa.

One thought on “Seperti Martabak Istimewa

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s