Di Antara Gincu-Gincu Itu

“mau yang ini, tapi terlalu terang, yang ini bagus tapi mahal” tangannya menunjuk tiap detil warna di depannya “kalau yang ini bagus, gak?” Eka menunjukkan gincu yang dipilihnya ke arah saya. “bagus” jawab saya dengan nada lemas. Hampir setiap saya menemaninya berbelanja, saya kerap dimintai saran. Sialnya, pertanyaannya lebih sering sudah memiliki jawaban sendiri. sehingga saran saya menjadi formalitas belaka yang dilontarkan karena tidak enak hati yang menunggunya sejak lama.

Saya memutuskan keluar dan menunggunya dari luar toko. Tidak lama setelah saya bersandar di fondasi gedung, sepasang wanita keluar dari toko tersebut. Tepat berjalan di depan saya, mereka berjalan ke arah timur, salah seorang berkata pada temannya “susah ya jadi perempuan”. Saya mendongakkan kepala dan mencari sumber suara. Kedua wanita itu membawa tentengan belanjaan dari toko tersebut. “lipstik, make up, haduuh.. susah deh” lanjutnya sambil berlalu.

Sedikit kaget saya mendengar apa yang diucapkannya. Tapi, juga mendukung ungkapan tersebut mengingat Eka tiap memilih gincu bukan hanya merepotkan dirinya saja. Saya lantas mengasosiasikan ucapannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Di luar susahnya mereka memilih gincu, perempuan memang “kesulitan gerak” di budaya patriarki. Perempuan kerap menjadi sasaran moralitas laki-laki. Hal itu semakin diamini mengingat perempuan dalam hierarki yang beredar di masyarakat bertempat pada tangga nomor dua setelah laki-laki. Tangga yang semestinya tidak ada itu membuat perempuan kerap mengalami ketidakadilan.

Mitos hierarki tersebut, sementara ini perlu kita akui, hinggap di kepala masyarakat dan membuat ketidakadilan terus bersemayam di tubuh perempuan. Frasa “kesulitan gerak” semakin diperkuat ketika berpakaian, keluar malam, budaya patriarki, bahkan sentimen agama menjadi alat penghakiman bagi perempuan. pakaian yang terbuka dan pulang larut malam karena pekerjaan dianggap menjadi gula-gula yang dalam waktu kapan saja bisa didatangi semut, lebah, juga ular.

Alasan-alasan tersebut dengan tedeng aling-aling menyudutkan perempuan sebagai penyebab terjadinya pelecehan seksual pada perempuan. Belum lama, terjadi kasus kekerasan seksual pada gadis belia, YY, di Bengkulu. Ia diperkosa secara bergilir oleh 14 orang lelaki yang umurnya rerata masih muda. Kasus ini lantas ramai dan memicu berbagai opini dari masyarakat dan pejabat publik. Dalam opini yang beredar di media, ada satu opini yang sedikit menggelikan bagi saya. Sebab terlontar dari Ketua Komisi VIII DPR, Saleh Partaonan Daulay, ia turut mengecam aksi pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi tetapi dalam opininya ia menyalahkan korban yang berjalan sendiri sehingga membuka ruang bagi pelaku untuk memerkosa. Pada titik itu saya ingin mengamini apa yang pernah diucapkan Rocky Gerung bahwa kalau isi kepala kita di ruangan ini ditukar dengan isi kepala orang-orang di Senayan, kita masih dapat kembalian.

Kondisi perempuan yang masih tersubordinatkan oleh budaya patriarkal ini akan terus melahirkan berita-berita yang menyebutkan bahwa kekerasan seksual berasal dari perempuan. Pada mitos terhadap keunggulan laki-laki ini bukan saja merugikan perempuan, melainkan juga lelaki yang harus hidup beradasarkan mitos. Terlebih lagi, mitos ini juga mengamini bahwa pria gagal menggunakan nalarnya dan memilih tunduk pada hawa nafsu libidonya sendiri.

Kekerasan seksual pada perempuan adalah potret buram negeri ini karena kasusnya terus meningkat beberapa tahun belakangan. Komnas Perempuan dalam rilisnya mencatat bahwa pada tahun 2016, kekerasan seksual paling sering terjadi di ranah personal sebesar 321.752, maka kekerasan seksual menempati peringkat dua, yaitu dalam bentuk perkosaan sebanyak 72% (2.399 kasus), dalam bentuk pencabulan sebanyak 18% (601 kasus), dan pelecehan seksual 5% (166 kasus)*. Ranah personal dalam hal ini melibatkan hubungan darah, kekerabatan, perkawinan, dan relasi intim (pacaran). Ini menjadi semakin buruk ketika banyak kekerasan yang terjadi di ranah personal tidak dilaporkan, terlebih lagi tidak ada kebijakan yang menindak secara tegas dan membuat jera pada pelaku kekerasan seksual.

Di saat bersamaan, apa yang terjadi pada YY menjadi renungan bagi kita yang kerap diingatkan ketika kejadian telah berlangsung. Koordinasi antar lembaga negara/nonnegara menjadi penting untuk memberikan edukasi terkait tindakan kejahatan kekerasan seksual sebagai pelanggaran HAM/HAP dan melanggar hukum, sehingga tetap memberikan penghukuman yang mencerminkan prinsip memberikan keadilan bagi korban, mencegah keberulangan dan menjerakan para pelaku dengan berlandaskan pada 4 prinsip dasar hak anak yang termuat di dalam UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

Perempuan yang lahir dari rahim perempuan tidak bisa dipaksakan untuk tunduk pada rahim laki-laki. Perempuan sudah semestinya berhak untuk bebas menentukan nasibnya sendiri, menentukan keyakinannya, mengenakan pakaian yang mereka mau, bergerak sesuai kehendaknya, mmm bahkan menentukan warna gincu berjam-jam. Selama ia memilih dengan sadar, pilihan-pilihan tersebut dilindungi hak asasi manusia.

Kesetaraan dan keadilan gender secara sederhana dapat terlihat dengan perempuan yang keluar malam dengan pakaian yang dipilihnya tanpa rasa takut untuk diperkosa.  Lebih jauh lagi, perempuan tidak lagi berada dalam tatanan subordinat dalam gender. Ia setara selayaknya rekan sejawat kerja atau teman diskusi. Konsep saling menghargai atas pilihannya masing-masing mulai berlaku di sini.

Pada kasus yang menimpa YY, pada peristiwa yang kerap menyudutkan perempuan, pada gincu yang dipilih dalam waktu berjam-jam,  pada akhirnya, kita mesti sadar bahwa mengamini mitos hierarki sama saja mempertahankan budaya patriarki dan memelihara ketimpangan gender yang tak lain semakin menguatkan argumen bahwa memang “susah ya jadi perempuan”.

Eka mendatangi saya yang bersandar di etalase toko, “jadi pilih yang mana?”

“enggak jadi”

Yassalam.

 

 

post-scriptum:

turut berduka apa yang terjadi dengan Yuyun. ia hanyalah sebagian kecil dari korban kekerasan seksual yang masih mungkin terjadi di budaya patriarki ini. tapi, tentu masalah seperti ini bukan untuk dilihat besar kecil jumlah korbannya. kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja. semoga kita semakin peduli terhadap isu-isu seperti ini.

*sumber

Advertisements

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s