Rel Kereta Pak Aco

Sewaktu kuliah, rutinitas keseharian saya tak lebih dari bangun siang, berangkat kuliah, nongkrong sebentar bersama teman, kembali ke kos, tidur larut malam dan berulang. Rutinitas yang sebetulnya tidak begitu bagus ini kini saya rindukan. Setelah bekerja, rutinitas ini pun berubah total. Bangun pagi, desak-desakkan di kereta, tiba di tempat kerja, pulang kerja kembali desak-desakkan di kereta, tiba di rumah, tidur tepat waktu, dan berulang.

Bedanya, saya lebih sering ketemu orang setelah bekerja dari waktu saya kuliah dulu. Kalau kuliah, saya hanya bertemu teman sekampus, kini orang-orang dari awal pemberangkatan kereta hingga akhir saya temui setiap harinya. kami berada dalam satu status yang sama, sebagai pekerja komuter, dan rutinitas yang sama, berangkat kerja dengan kereta.

Rute kereta yang saya ambil arah stasiun Jakarta Kota. Saya menaiki kereta dari pemberangkatan Bogor maupun Depok. Biasanya, kereta dari Bogor ini sudah disesaki penumpang begitu sampai stasiun Pondok Cina., Rutinitas menaiki kereta ini menyenangkan bagi saya. Bertemu dan memandang orang lain banyak buat saya merenung. Di saat bersamaan, memandangi orang-orang dalam kereta membuat saya bertanya-tanya. Tapi, apa mereka senang dengan rutinitas ini?

***

ada beberapa hal yang tumbuh bersama dengan saya, pertama pola pikir, kedua tukang jualan yang lewat depan rumah. setidaknya, penjaja bakso, bubur keliling, dan sayuran masih berjualan hingga sekarang. Mereka menyapa saya tiap kali kami berpapasan. Mereka telah berkeliling di komplek perumahan sejak dua belas tahun lalu. Kalau waktu senggang, saya makan di tempat dan berbincang sesaat.

Ibu bilang kalau saya saat kecil senang jajan. Pernah suatu hari, saya menyetop dua pedagang sekaligus di depan rumah. “tukang bubur sama kembang tahu disetop barengan. Rakus” tungkas beliau. Mungkin karena kebiasaan itu, pedagang yang sampai sekarang keliling di depan rumah masih mengingat saya.

Salah satunya, Pak Aco. Bukan nama asli. Entah siapa nama aslinya. Sebutan ini kata beliau karena sewaktu kecil saya sering memesan bakso dengan sebutan “bang.. aco.. aco.. acoo” Saya menanggapinya dengan cengengesan.

Pak Aco bertubuh tambun, kumisnya tidak begitu lebat, bibir atasnya tebal sehingga kalau bicara yang terlihat hanya gigi bagian bawah saja. Persis seperti kondisi yang saya lihat sewaktu kecil. Tiap berjualan, ia selalu mengenakan topi pancing. Ia, yang saya tahu, tidak selamanya berjualan bakso. Sempat beberapa tahun lalu, saya melihatnya memulung. Tidak saya tanya alasannya mengapa, tapi yang jelas ia menikmati kegiatan memulungnya. “eh, Van, sudah selesai sekolahnya?” tanyanya sambil menaruh micin dan seledri. “sudah, pak” jawab saya singkat.

Semangkuk bakso telur tiba di tangan saya. Sambil menyantap bakso, kami bercengkerama. “Pak, tinggal di mana sekarang?” buka saya “ngontrak di Cibubur” jawabnya sambil menunjuk ke arah Barat. Saya mengambil kerupuk pangsit yang telah habis. Kemudian, ia bercerita mengenai alih profesinya sebagai memulung. Saya yang sebetulnya sudah tahu, kala itu berpura-pura supaya ia bisa cerita panjang lebar.

Pak Aco mengaku kondisi ekonominya njomplang pasca krisis moneter melanda negeri ini. ia berhenti berjualan selama beberapa tahun. Kemudian pada 2002 mulai memulung. “pengen cari kerjaan lain, bukan jual bakso lagi, habis bosen juga kadang” tuturnya dengan logat Betawinya. Ia memulung hanya bertahan satu tahun. Rute yang diambilnya pun kurang lebih sama seperti saat ia berjualan bakso, sekitar komplek perumahan saya.

Tak langsung kembali berjualan bakso, ia sempat menyicipi berjualan minuman ringan di rumahnya. Sampai tak lama kemudian ia memutuskan kembali mendorong gerobak bakso.

Saya termenung mendengar cerita Pak Aco. Bukan soal keterpurukan ekonominya beberapa tahun silam, melainkan ungkapan kebosanannya berjualan bakso. Ia yang selama ini saya lihat nyaman saja menjalankan rutinitasnya, ternyata bisa merasa bosan.

Saya teringat ucapan guru saya bahwa rutinitas dapat “membunuh” kesadaran. Rutinitas nyatanya melupakan kita pada hal-hal sepele yang baru kita sadari saat memberi jeda pada rutinitas tersebut. Seperti yang diungkap Peter O’ Connor, “kita hidup dalam sangkar yang terbuat dari tuntutan, rutinitas, dan kebiasaan, dan setelah begitu lama hidup dalam batas-batas ini, kita lupa bahwa sesungguhnya terperangkap”.

Frasa “perangkap” mungkin terlalu ekstrem bagi saya. Sebab rutinitas yang kita lakukan sekarang adalah buah dari keputusan kita sendiri. oleh karenanya,  saya mengartikannya sebagai bentuk “lupa diri”. Tuntutan, rutinitas, dan kebiasaan serupa rel kereta yang kita buat. Kita hanya bisa melihat apa yang ada di sekitar rel, tidak bisa bergerak di luar lintasan rel tersebut. Pandangan kita sebatas jalur yang kita ciptakan sendiri.

***

Saya lebih sering bertanya-tanya ketika menemukan penumpang kereta yang berangkat dari stasiun awal dan turun di stasiun akhir. Sebuah hidup yang amat berketergantungan dengan moda transportasi kereta api. Sekalinya kereta anjlok. Antara izin tidak masuk dan telat menjadi pilihan yang mana masing-masing memiliki konsekuensi.

Mereka, penumpang kereta, dalam arti lain memasang rel-relnya sendiri untuk memenuhi tuntutan hidupnya. Rutinitas dan kebiasaan menjadi jalur satu-satunya yang mesti mereka lakoni. Soal senang atau tidak, kondisi di luar rel mereka baik atau tidak, urusan nanti. Selama rel yang mereka lintasi baik-baik sahaja, mereka menikmatinya. Begitupun saya.

Dalam hal ini, saya kagum dengan Pak Aco. Ia berani membuat rel baru, walau sebetulnya ia tidak ingin, mencari rutinitas barunya yang mampu menutupi kebosanannya. Dee Lestari menuliskan di Rectoverso bahaa mengubah rutinitas itu serupa menawar bumi agar berhenti mengedari matahari. Sebuah upaya yang kita tahu amat sulit dan berbahaya. Konsekuensinya, dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ke depan.

Tapi, Pak Aco pernah melakukannya ia tak sekadar menawar bumi, barangkali ia mendatangi matahari dan melakukan negoisasi agar mendukung putusannya. Walau pada akhirnya ia diminta untuk kembali ke lintasan relnya.

Penumpang kereta dan Pak Aco memiliki rutinitas yang berbeda. Tapi, keduanya punya kesempatan untuk negoisasi dengan pusat tata surya.

Post-scriptum:

Pak Aco sudah jarang saya temui semenjak kuliah di Bandung sampai saya lulus kuliah. hormat untuk beliau

 

2 thoughts on “Rel Kereta Pak Aco

  1. Saya pernah mengalami masa masa terpenjara dalam rutinitas sampai sampai merasa diri sendiri seperti robot. Kerja dari senin sampai jumta, tiba tiba weekend. Ketemu senin lagi, tiba tiba ud weekend lagi, dan begitu terus

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s